Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Tembok Tak Bernyawa


__ADS_3

Di rumah Nasyra.


Mentari pagi mulai menampakkan cahayanya yang menyilaukan mata. Nasyra membuka jendela kamar agar bisa menghirup udara segar dari taman samping rumahnya. Hawa sejuk bercampur embun membuat hati gadis itu merasa lebih baik untuk mengawali harinya.


 


Pukul 07.00, tampaknya Nasyra sudah rapi dengan balutan kemeja putih polos dan rok pendek hitam selutut. Ia mulai menyisir rambutnya, menatap cermin di depannya. Sesekali ia memperhatikan detail pantulan dirinya, tak lupa ia memoleskan bedak ke wajahnya.


 


“Rara, kamu harus bangkit! Nggak boleh lemah, ya ... Semangat dan jangan terus memikirkannya,” gumamnya memberi semangat pada dirinya sendiri.


 


Suara derap langkah kami terdengar di telinga Nasyra, semakin mendekat ke arah kamarnya.


“Sudah rapi? Sebelum berangkat, sarapan dulu ya, Nak,” ucap Bu Farida saat melewati kamar anak gadisnya. Ia memandangi  putrinya dengan tatapan yang tak biasa.


 


“Iya, Bu, habis ini Nasyra makan.”


 


“Anak ibu sekarang sudah besar, jaga diri baik-baik, ya, Nak. Jangan sampai salah langkah.” Bu Farida menghampiri Nasyra dan memeluknya.


 


“Iya, Bu. Ibu kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?”


 


“Kamu sudah merasakan jatuh cinta, 'kan? Ibu harap, kamu tidak terlalu mencintai seseorang yang berlebihan, Nak. Cintailah sewajarnya, jadi saat kamu merasakan sakit hati, itu tidak akan terlalu dalam sakitnya. Paham 'kan, maksud ibu?” ucap Bu Farida menasihati Nasyra. Ia sesekali mengelus pundak anak gadisnya itu.


 


“Iya Bu, Nasyra paham. Terima kasih.”


 


“Ya sudah, sana makan dulu!”


 


“Siap, Bu!” jawab Nasyra dengan semangat sambil tersenyum seperti nyengir kuda.

__ADS_1


 


Setelah makan, Nasyra berangkat ke sebuah bangunan uang cukup besar. Tujuannya ia datang ke sana adalah untuk kursus pelatihan yang ia inginkan. Berharap dengan mengikuti kursus tersebut, ia bisa melupakan beban pikirannya terhadap Fano. Ia juga ingin meraih cita-citanya sebagai chef.


...***...


Di sisi lain, Fano masih terlelap dari tidurnya, ia enggan membuka mata walau hanya sekejap. Masih terasa berat dan masih ingin menikmati alam mimpinya.


 


Ketukan pintu dari luar kamarnya pun terdengar, membuatnya terperanjak dan terpaksa harus terbangun. Ia beringsut menyibak selimut tebal yang menghangatkannya. Dengan langkah gontai dan tubuh yang masih lemas, ia berdiri untuk membuka pintu.


 


“Fano ... bangun!” Suara Pak Wijaya memanggil Fano sambil mengetuk pintunya.


 


“Ya, Paman ...,” sahut Fano sambil berjalan ke arah pintu.


 


Fano membuka pintu, dan betapa terkejutnya ia melihat sosok wanita yang dibencinya di depan matanya sekarang.


 


 


"Ah, ya. Terima kasih, Paman," ucap Fano berusaha bersikap normal seoalah tak ada masalah dengan sang istri.


Allena, ya saat ini ia sedang menggunakan gaun merah seksi yang memperlihatkan bagian dadanya. Kain itu sama sekali tak membalut dengan sempurna karena panjangnya hanya sebatas paruh paha.


Senyumannya dibuat semanis mungkin, ia menghampiri Fano. Pak Wijaya pun segera meninggalkan mereka, Allena mendorong Fano perlahan untuk masuk ke kamar dengan tangannya yang berada di dada Fano.


 


“Ngapain kamu ke sini, hah?!” bentak Fano pada Allena. Ia berjalan mundur menghindari Allena.


 


“Aku mau arisan, tapi saldo debitku kosong sayang ...,” jawabnya sambil terus bergelayut manja menggoda Fano. Namun ia langsung menjauh dari Allena. Sekuat apa pun Allena menggoda suaminya itu, Fano tak akan mudah tergoda dan tidak akan jatuh ke pelukannya. Baginya, Allena adalah wanita yang menjijikkan, mengobral dirinya untuk lelaki di luaran sana.


 


“Bukankah dua hari yang lalu sudah kutransfer? Kau ke manakan uangnya?!”

__ADS_1


 


“Kan, buat beli susunya Kania, Sayaaang ....”


 


“Omong kosong! Segera pergi dari kamarku! Nanti akan kutransfer.”


 


Bagaimanapun, Fano tetap bertanggung jawab atas semua kebutuhan Allena dan anaknya walaupun dia tak menyikainya.


 


Tunggu sampai aku membuktikan kalau Kania bukan anakku, aku akan menceraikanmu! batin Fano. Ia mendengus kesal pada wanita yang saat ini sedang duduk santai di ranjangnya.


 


Sambil memainkan ponselnya, ia menghampiri Fano dan berkata, “Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu ya, Sayang ... dan jangan lupa transfer, aku tunggu!” Allena tersenyum genit. Ia lalu berjalan melenggok keluar dari kamar Fano.


 


“Aargghhhh ... sialan! Sampai kapan masalahku akan selesai?!” Fano memukul tembok di sebelahny. Ia melampiaskan kekesalannya pada dinding yang tak berdosa. Untung saja tembok itu tak bernyawa, jika bernyawa pasti akan berteriak meminta tolong.


 


Hari-hari yang di laluinya di restoran terasa sepi tanpa kehadiran Nasyra, biasanya ... gadis itulah yang selalu membuatnya bersemangat, ceria, bahkan Nasyra juga yang selalu membantunya jika dirinya sedang kesusahan dalam meng-handle restoran. Walaupun banyak karyawan, ia hanya memilih Nasyra untuk siaga di sampingnya karena ia adalah gadis yang rajin, cekatan, juga pintar.


 


Fano dikenal sebagai lelaki yang baik, perhatian terhadap siapa pun. Bahkan dia tidak pernah sekalipun mengucap nada tinggi jika dengan karyawan. Namun, pagi ini mood nya berubah saat Allena datang mengganggunya dan bersikap agak dingin terhadap para bawahannya.


 


Bersambung ...


Jejaknya Gengs, jangan lupa..


Author sedih kalau ga ada yang komen atau like...


😌😌


Hadiah sama Votenya juga boleh tuh di kasih...


🤭🤭💚💚💚

__ADS_1


 


__ADS_2