Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Singapura


__ADS_3

Setibanya di restoran, Nasyra hanya memantau kesibukan para karyawannya. Banyak yang melarang Nasyra untuk terjun mebantu di dapur, termasuk sahabatnya yang menjadi manajer di restoran itu.


Rama sudah memberi peringatan sebelumnya, untuk tidak memperbolehkan istrinya itu kecapekan saat berada di restoran. Pada akhirnya, Nasyra hanya duduk dan menghabiskan waktunya untuk berbaring di dalam ruangan. Tepatnya di sofa panjang yang menjadi favoritnya.


Jam menunjukkan pukul dua siang. Cukup bosan ia menghabiskan waktu dua jam untuk bersantai. Nasyra ingin pulang sekarang, tetapi ia mengurungkan niatnya untuk beranjak dari sofa tersebut. Pikirannya saat ini terfokus pada Rama--suaminya yang sempat ia acuhkan beberapa jam yang lalu. Ia sadar ada yang salah pada dirinya. Apalagi mendengar ucapan Rama  yang sedikit cuek saat di telepon tadi. Nasyra sangat merasa bersalah.


Wanita itu lalu merogoh ponselnya di dalam tas. Kemudian, ia membuka layar terkunci dengan kode angka, tanggal pernikahanya. Jari lentik itu lalu mengarah pada logo aplikasi berwarna hijau, ia membuka pesan yang tertera nama 'Hubby' di sana.


[Kak, masih sibuk?]


Nasyra mengetik pesan tersebut dan dikirimkan ke nomor Rama.


Setelah menunggu balasan cukup lama, Nasyra memilih untuk berselayar ke sosial media. Selang beberapa saat, akhirnya pesan itu di balas oleh Rama.


[Sebentar lagi mau meeting, nanti aku telepon kalau sudah di apartemen.]


Balasan pesan itu terlihat singkat dan kaku. Perasaan Nasyra semakin tak karuan. Bahkan, Rama tak menanyakan kabar Nasyra, 'sedang apa sekarang, lagi di mana', padahal biasanya ia selalu perhatian dan sangat mesra, panggilan 'sayang' pun tak pernah ketinggalan.


[Ya, Kak. Aku akan menunggu kabarmu.]


Pesan itu hanya dibaca oleh Rama tanpa dibalasnya lagi.


Apa Kak Rama marah padaku? Atau, memang dia sedang sibuk? Sampai-sampai dia mengabaikan pesanku. Masalah apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan?


Nasyra terus bertanya dalam hatinya, ia berusaha menjernihkan pikirannya agar tak melulu memikirkan Rama yang mungkin marah padanya.


...***...


Langkah seorang lelaki itu tampak gelisah, seirama dengan benturan kaki ke permukaan lantai yang terbuat dari mamer. Kaki itu kian laju saat jam menunjukkan pukul empat sore waktu bagian Singapura. Rama berjalan tergesa-gesa, di sampingnya juga ada Arka yang selalu siaga menemaninya.


Kedua lelaki itu saat ini sedang berada di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Mereka akan mengadakan pertemuan dengan rekan bisninya di perusahaaan besar yang sangat terkenal di Singapura.


Meeting berlangsung selama hampir dua jam. Rama dan Arka keluar dari sebuah ruangan besar yang di dalamnya terdapat lima orang yang berpengaruh penting di perusahaannya.

__ADS_1


Tak sia-sia Rama dan Arka menyatukan pikiran, mencari jalan keluar, hasilnya cukup memuaskan dan membuat mereka bernapas lega. Satu per satu masalah kini sudah bisa teratasi.


Hari ini cukup melelahkan untuk Rama. Ia yang baru saja tiba di Singapura, harus langsung mengurus perusahaan tanpa istirahat. Bahkan, ia tak sempat makan siang hingga hari mulai petang.


Di dalam mobil yang dikemudikan Arka, Rama duduk dengan lemas, matanya sedikit terpejam merasakan ketenangan yang ingin ia nikmati sejenak.


"Ram, kita mau ke mana? Apa mau bertemu programmer sekarang?"


"Ah, tidak. Sebaiknya kita ke apartemen saja. Nanti malam kalau dia suruh datang bisa, 'kan?"


"Bisa aja, tempat tinggalnya juga tak jauh dari kota ini."


"Baguslah. O iya, kita makan di apartemen saja, ya. Aku mau lihat keadaan mama."


"Oke."


Rama datang ke apartemen lama miliknya yang sekarang ini di tempati oleh mamanya.Ya, Fira yang selama ini mengurus perusahaan Rama sedang syok berat. Tekanan darah tinggi yang ia miliki kambuh. Hingga akhirnya ia harus beristirahat dengan ditemani seorang suster yang siaga mengurusnya. Jika tak segera diobati, maka ia akan terkena stroke.


 


Sesampainya di sana, mereka berdua langsung memasuki apartemen tanpa mengetuk pintu, karena Rama masih hafal dengan kode nomor pintu.


"Ma, aku datang!" sapa Rama menghampiri Fira yang terbaring di kamarnya yang mewah.


"Rama ... maafkan Mama, sudah merepotkanmu soal perusahaan. Mama senang, akhirnya kamu datang juga, Sayang," ucapnya terdengar lirih.


Kejadian beberapa bulan lalu membuat Rama menjauhi mamanya, saat di mana wanita itu bersikap kasar terhadap istrinya--Nasyra. Meskipun Rama memafkannya, tetapi ia masih enggan menemui Fira. Ia hanya ingin menghindari konflik agar tak menyakiti hati satu sama lain.


"Bagaimana keadaan Mama?"


"Seperti yang kamu lihat sekarang, Mama seperti orang lumpuh yang cuma bisa berbaring."


"Ma, sebaiknya Mama ikut Rama ke Jakarta besok. Tidak perlu lagi mengurus perusahaan," tutur Rama, ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu sudah tidak percaya sama Mama?" ujar Fira, ia penasaran dengan keputusan Rama yang mendadak.


"Arka yang akan mengurusnya, Ma."


"Arka? Apa dia tidak akan kerepotan?"


"Aku sudah membicarakannya tadi di mobil."


"Di mana dia sekarang?"


"Dia lagi makan, Ma."


"Kamu sudah suruh Bi Ina buat panasin makanannya?"


"Sudah kok," jawab Rama singkat.


"Besok kalau keadaan Mama sudah membaik, kita berangkat ke Jakarta."


"Baiklah kalau begitu, gimana baiknya aja, Sayang. Padahal Mama masih semangat untuk mengurus perusahaan kamu. Ya ... walaupun fisik Mama seperti ini."


"Mama sudah harus banyak istirahat sekarang. Nggak boleh terlalu capek," tutur Rama yang langsung diangguki oleh Fira.


Setelah ia berbincang dengan mamanya, Rama kembali ke meja makan untuk menemani Arka yang sedang makan. Mereka sambil berbincang mengenai perusahaan dan mengatur rencana selanjutnya.


.


Bersambung.....


.


.


Jangan lupa dukung author ya..

__ADS_1


🌷💚☕🔖👍📨


Terima kasih


__ADS_2