Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Aku Mencintaimu, Kak


__ADS_3

"Assalammualaikum, Kak Fano. Apa kabar? Kak aku di sini untuk menjengukmu. Apa kamu merasakan kehadiranku?" Nasyra menatap lekat wajah lelaki pucat yang tak bercahaya itu dari samping brankar.


Pandangan Nasyra menelisik ke sekujur tubuh Fano, dia begitu prihatin dan merasa sedih dengan apa yang dilihatnya saat ini. Lelaki yang dicintainya, kini hanya bisa berbaring lemah tak sadarkan diri.


"Kak, bangunlah, buka mata kamu. Apa kamu tidak ingin melihatku lagi? Tega sekali kamu Kak, menyiksaku seperti ini," ucap Nasyra dengan air yang menggenang di pelupuk matanya.


Nasyra perlahan meraih tangan kanan Fano. Dia menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. Sudah lama ia tak menyentuh tangan lelaki itu sejak berpisah lima tahun yang lalu. Seharusnya dia tidak boleh melupakan statusnya saat ini, seperti pesan Rama--suaminya, satu jam yang lalu ketika masih di rumah.


Namun, kondisi Fano saat ini membuatnya lupa akan hal itu, yang ada dalam pikirannya saat ini, dia hanya ingin melihat keajaiban pada Fano.


Kapan mata itu akan terbuka, kapan tangan itu akan bergerak, dan kapan tubuh itu akan merespons, semua tak akan tahu jawabannya. Kondisi kerusakan otak di kepala Fano masih dalam penanganan khusus oleh dokter spesialis. Sehingga belum bisa memastikan kapan Fano akan sadar dari komanya.


Nasyra membelai pipi yang berahang tegas di wajah Fano, dia membelainya lembut seolah merasakan desiran cinta yang pernah tumbuh di antara mereka. Tak bisa memungkiri, Nasyra masih menyimpan rasa itu, kegundahan dalam hatinya semakin menggebu saat ia tidak melihat senyum Fano lagi. Dia merindukan binar cinta dari tatapan Fano.


Tak terasa sepuluh menit sudah berlalu, terlihat seorang perawat wanita berjalan ke arah Nasyra. Perawat itu mengamatinya sejak tadi karena ia harus menjaga dan menjamin keselamatan pasien di dalam ruangan itu.


"Permisi, Bu," sapa seorang perawat dari belakang Nasyra, suaranya terdengar lirih berbisik.


"Iya." Nasyra menengok ke belakang sambil mengusap sisa air matanya.


"Maaf, waktu besuknya sudah habis, sebaiknya Anda keluar, biarkan pasien beristirahat."


"Ah iya, baiklah, sebentar lagi saya keluar. Terima kasih."


Perawat itu pun kembali ke mejanya yang masih di dalam ruang ICU, dia terus mengamati Nasyra yang belum juga pergi.

__ADS_1


"Kak Fano, aku harus pergi. Besok, aku akan ke sini lagi, Kak Fano harus semangat ya, nggak boleh lemah, aku menunggumu, Kak. Cepatlah bangun! Aku masih mencintaimu." Nasyra meneteskan buliran air mata, meluruhkan segala kesedihan yang terpendam. Wanita itu lalu mencium punggung tangan Fano sebagai tanda pamitnya, padahal tak seharusnya dia melakukan hal itu karena ia berstatus istri orang.


Ucapan kata cinta itu ... Nasyra tak menyadarinya, dia hanya mengucapkan apa yang ada di hatinya tanpa berpikir dan tanpa mengingat suaminya.


Setelah berpamitan pada sang mantan kekasih, dia bergegas keluar dari ruangan dingin yang menegangkan itu. Ruang tunggu itu tampak sepi dan membuat suasana semakin hening. Dia kemudian duduk di samping Allena. Dengan kelopak mata yang basah, Nasyra melirik ke arah wanita yang berstatus sebagai istri Fano itu.


"Allena ...," panggil Nasyra.


"Ya, kenapa? Apa ada perkembangan sama Fano?" Allena meletakkan ponselnya setelah dari tadi mengacuhkan Nasyra di sampingnya.


"Ah, tidak. Belum ada perkembangan dengan Kak Fano. Boleh aku tanya sesuatu?"


"Boleh, mau tanya apa?" Allena kembali bertanya.


"Maksud kamu, Fano?"


"Ya, Kak Fano. Apa kamu mencintainya?"


"Tentu saja. Dia suamiku, sudah pasti aku mencintainya. Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


Nasyra menarik napas panjang, dia cukup terkejut mendengar jawaban dari wanita berambut panjang itu.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu. Setidaknya aku sekarang lega, ada wanita yang mendampingi Kak Fano dengan tulus," jawab Nasyra sediki tersenyum agar Allena tak berpikir macam-macam atas pertanyaannya.


"Tapi ... sayangnya, dia tidak pernah mencintaiku," papar Allena dengan pandangan kosong sedikit melamun.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Maksudku, bagaimana kamu tahu kalau Kak Fano tidak mencintai kamu. Bukankah kalian selama ini hidup bersama?"


"Ya, memang. Tapi itu bukan suatu alasan untuk mencintai seseorang, kan? Dia mau menerimaku sebagai istri karena dia kasihan, dia iba padaku sejak orang tuaku meninggal. Seandainya saja, saat itu aku tidak memohon Fano agar tidak menceraikanku, mungkin kalian akan hidup bersama bahagia."


Allena mengukir senyum tipisnya, menutupi segala kegundahan yang dia rasakan. Walau begitu, dirinya merasakan sakit hati yang dalam karena selama ini ia tidak pernah merasakan cinta yang tulus dari seorang lelaki.


Nasyra terdiam sesaat, lalu berkata, "Allena, semua tidak ada yang kebetulan, semua sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa. Kamu menikah dengan Kak Fano pun memang sudah takdirnya. Begitu juga aku, aku menikah dengan Kak Rama, itu memang sudah garisnya. Jadi kamu tidak perlu menyesali semua ini. Soal perasaan, kamu bersabarlah, suatu saat nanti, Kak Fano pasti akan mencintai kamu," tutur Nasyra.


Nasyra berusaha menenangkan Allena, kali ini dia berbicara sebagai sesama perempuan. Tak ada lagi jarak yang membuat mereka canggung seperti sebelumnya, antara status Allena sebagai istri dan Nasyra sebagai mantan kekasih lelaki itu.


Bersambung ....


...Kakak-kakak, mohon dukungannya ya.....


...Sudah tau kan harus apa?...


...like, komen, vote, hadiah, dan...


...masukin ke rak buku kalian, ya ......


...🤭...


...Terima kasih...


...😘😘...

__ADS_1


__ADS_2