
Saat ini, hati dan jantung Fano sudah tak karuan, tangannya di bawah kursi meremas satu sama lain. Kilas raut gugup penuh keraguan ia rasakan. Mau tidak mau, Fano menceritakan semuanya pada Bu Farida meskipun ia tak menjelaskan rinci kejadian yang sebenarnya.
“Sebelumnya saya minta maaf Bu, ini semua salah saya. Saya sudah membohongi Rara, tapi sebenarnya saya tidak ada sedikit pun niat untuk menyakitinya. Saya juga ingin menjelaskan kebenarannya, tetapi Rara tidak mau mendengarkannya, Bu. Jujur saya sangat mencintai anak Ibu, maafkan saya.” Fano menunduk tak berani menatap mata Bu Farida.
Fano memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya pada Ibunya Nasyra. Ia tak paduli bagaimana nanti respon Bu Farida terhadapnya, yang terpenting, ia sudah berusaha untuk berterus terang, tetapi mustahil juga kalau saat ini ia harus bercerita tentang pengakuannya yang sudah menikah. Bisa-bisa Bu Farida juga akan mengusirnya.
“Saya akan mencoba bicara pada Nasyra. Saya juga tidak mau melihatnya terus-terusan melamun dan menghabiskan waktunya di kamar. Dia berubah, Nak, tak seceria dulu.”
“Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar minta maaf.”
“Ya sudah, saya bujuk Nasyra dulu agar dia mau menemuimu. Selesaikan masalah kalian baik-baik, ya.”
"Iya Bu, terima kasih."
Aku berharap kali ini Rara mau menemuiku dan mau mendengarkan semua penjelasanku.
Selang beberapa menit Fano menunggu, akhirnya Nasyra keluar seorang diri tanpa Ibunya. Dia terlihat lemah, berjalan malas seolah langkahnya berat. Ia menghampiri Fano dan duduk di kursi depannya yang terhalang meja kecil.
Nasyra masih terdiam tanpa menatap ke arah Fano. Namun, berbeda dengan lelaki itu, tak hentinya ia terus memperhatikan Nasyra, rasa rinsu itu sudah ia pendam sejak lama. Dua bulan waktu yang tak singkat untuk Fano membendungnya.
"Apa yang mau kamu bicarakan, Kak? cepatlah! Aku tidak punya waktu lama," tukas Nasyra dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Aku ... aku mau menjelaskan semuanya tanpa ada kebohongan, Ra." Fano mengetukkan telunjuk jari tangannya ke meja, tanda ia sedikit nervouse.
"Ra, soal perasaan yang kupunya selama ini untukmu, itu benar adanya, aku benar-benar tulus sayang sama kamu. Perlu kamu tahu, selama ini pernikahanku sama sekali tak bahagia dengannya."
"Mana mungkin, Kak? kamu terlihat sangat bahagia dengan potret keluarga kecil yang kamu tunjukkan ke aku." Nasyra tersenyum sinis, ia berusaha menutupi kesedihannya.
"Tolong Ra, biarkan aku menjelaskan semuanya dulu. Jangan memotong pembicaraanku, agar kamu tak salah paham," pinta Fano dengan nada yang lembut.
"Baiklah."
"Dua tahun lalu, setelah aku mengenalmu. Aku di jodohkan oleh pamanku dengan seorang wanita pilihan keluarga, dia bernama Allena. Itu juga termasuk amanah kedua orang tuaku sebelum meninggal, sejak di bangku kuliah. Aku sama sekali tidak mencintainya, Ra. Bahkan, aku kira, aku akan berhasil menceraikannya, makanya aku tidak pernah bercerita masalah ini kepadamu, karena aku yakin akan hidup bersamamu di masa depan."
Fano menarik napas panjang dan membuangnya perlahan sedikit tertahan. Dia merasa sesak menjelaskannya, takut ia akan melukai perasaan Nasyra lagi dan lagi.
"Pikirku, aku akan terbebas setelah aku bisa cerai dengannya dan bisa melanjutkan hubungan kita. Namun kenyataannya, dia malah mengandung sebelum aku menalaknya, padahal sekalipun aku tak pernah menyentuhnya. Aku tidak tahu dia hamil dengan siapa. Yang jelas bukan aku. Itu semua semakin menambah rasa benciku terhadapnya," tegasnya dengan sedikit emosi.
"Gampang banget kamu mau menceraikan dia setelah kamu mengucap ijab kabul di depan orang tuanya, Kak. Hebat! lelaki macam apa itu?!" geram Nasyra terhadap Fano.
"Rara ... mengertilah perasaanku sedikit saja, tolong! Aku menikahinya hanya untuk menjalankan amanah dari orang tuaku, tapi aku tidak berjanji untuk seumur hidup dengannya. Aku bisa menceraikannya kapan saja," ungkap Fano dengan penuh keyakinan dan kebencian terhadap istrinya.
Sementara itu, Nasyra hanya terdiam. Mencerna semua pengakuan Fano yang entah dia pun sulit untuk mempercayainya lagi.
__ADS_1
"Lalu ...?" tanya Nasyra setelah Fano menatapnya, mengharap respon darinya.
"Sampai sekarang pun, aku jarang pulang ke rumah. Sebelum menceraikannya, aku harus ada bukti yang kuat untuk menunjukkan kalau dia bukan anakku," terang Fano yang dibalas satu kalimat mengejutkan oleh Nasyra.
"Apa dia mencintai kamu?" Pertanyaan Nasyra seketika membuat hati Fano semakin pilu.
"Aku rasa, sama. Dia juga tidak mencintaiku," terangnya dengan sedikit keraguan. Ia tak pasti apakah Allena mencintainya atau tidak karena selama ini, Allena memang bersikap biasa saja pada Fano, bahkan ia memperlakukkannya layaknya seorang suami pada umumnya.
"Bagaimana kamu tahu? Atau kamu memang tak pernah menanyakan kepadanya? Mencintai atau tidak, yang jelas statusnya adalah sebagai istrimu. Dia seorang perempuan, dan aku pun juga perempuan. Aku yakin diantara kita tidak akan ada yang mau di duakan," cetus Nasyra, perlahan ia mulai menormalkan pikirannya yang sempat kalut sejak tadi.
"Ra, aku memang tidak pernah menanyakan hal itu kepadanya. Tapi, jika dia berhubungan dengan lelaki lain sampai hamil, apa itu pantas disebut istri?! jangan terus menyudutkanku, aku mohon!"
Bersambung ....
...Gengs, jangan lupa tinggalin jejak ya.......
...komen, like sama votenya....
...biar author tambah semangat...
...hadiah juga mau trima🤭🤭...
__ADS_1