
Hari berganti begitu cepat, hingga sejak kepulangan mereka dari singapura beberapa bulan lalu, membuat rumah tangga mereka semakin harmonis. Keduanya saling menunjukkan rasa kasih mereka satu sama lain.
Begitu juga dengan Nasyra, dia sudah menjadi istri terbaik Rama saat dirinya sudah tidak lagi memikirkan Fano--mantan kekasihnya. Bahkan, dia sudah menghapus nomor juga semua kontak yang berhubungan dengan Fano ataupun Allena--istrinya Fano.
Hal itu sengaja dilakukan Nasyra agar dirinya fokus kepada Rama. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berkhianat kepada suaminya.
Pagi hari, cahaya matahari sudah mulai memantul memasuki kamar Nasyra. Rama masih berada di bawah selimut tebal yang melilit tubuhnya. Pendingin ruangan itu terasa dingin menusuk pori-pori, hingga dia enggan bangun. Apalagi, hari ini dia libur bekerja, hal itu membuatnya bermalas-malasan dan bangun terlalu siang.
Sementara itu, setelah Nasyra bangun, dia langsung menuju ke kamar mandi dan melaksanakan sesuatu yang sudah direncanakan sejak malam. Beberapa saat kemudian, dia keluar dari kamar mandi. Nasyra membawa sebuah benda kecil yang bisa mengejutkan Rama, juga keluarga mereka.
Nasyra berjalan perlahan menaiki tempat tidur, dengan langkah yang sedikit berat, dia terus memandangi benda kecil itu. Hatinya tak karuan, dia tidak menyangka dengan apa yang dilihat di tangannya.
Mata Nasyra memerah. Air mata itu seakan membendung tak tertahankan. Namun, kali ini dia harus mengatakannya pada Rama, dialah yang akan menjadi orang pertama yang seharusnya tahu akan hal tersebut.
Perlahan, tangannya menyentuh lengan Rama yang tengah tertidur dengan posisi miring membelakangi Nasyra.
__ADS_1
"Kak ...," panggil Nasyra dengan nada yang lembut. Suaranya lirih hampir tak terdengar oleh telinga Rama.
"Kak Rama." Nasyra sekali memanggil dengan sedikit keras, agar suaminya bangun. Sesekali dia mengusap pipinya yang sudah basah karena buliran hangat yang mengalir sejak tadi.
"Apa, Sayang?" Rama bangun kembali mengerjapkan matanya, saat dia membuka matanya dia melihat Nasyra yang terisak. Begitu terkejutnya Rama, dia langsung duduk dan mengusap wajah Nasyra menangkupkan kedua tangannya ke pipi istrinya itu.
"Hei, kenapa menangis, Sayang, hem?" tanya Rama, semburat kekhawatiran tergambar di wajah lelaki itu. Bukti sayang dan ketulusan Rama sudah tidak diragukan lagi. Hanya Nasyra wanita satu-satunya yang mampu mengisi ruang di hatinya.
"Kak ...." Bibir Nasyra bergetar seakan tak mampu mengucapkan kalimat yang begitu membuatnya Haru. Lantas dia mengambil tangan Rama dan meletakkan ke perutnya. Nasyra pun juga menggenggam erat tangan Rama. Bibirnya bergetar.
Tangan Rama bergetar saat meraih tespec tersebut dari tangan Nasyra. Matanya membeliak memperhatikan garis dua tersebut. Rasa tak percaya menyelimuti mereka. Mata keduanya saling tatap penuh arti, tak ada kata bahkan kalimat yang mampu keluar dati mulut keduanya.
Rama, seorang lelaki dan berperan sebagai suami Nasyra, dia tidak menyangka jika momen ini akan dia rasakan juga. Begitu juga dengan Nasyra, dia masih tidak percaya dirinya bisa hamil setelah bertahun-tahun menunggu kehadiran janin yang ditiupkan ke perutnya.
"Sayang, ini ... ini benar?" tanya Rama dengan tatapan sendu, matanya berkaca-kaca melihat keajaiban yang begitu luar biasa. Impian yang dinantikan selama ini akhirnya terkabulkan juga.
__ADS_1
Nasyra hanya mengangguk, tangisannya semakin pecah saat dirinya menatap lekat mata suaminya. Rama pun langsung memeluk erat Nasyra. Keduanya larut dalam tangis kebahagiaan yang begitu menyesakkan dada. Rasanya, beban yang selama ini memikulnya sudah terlepas tanpa bekas.
"Kak, benarkah aku hamil? Apa ini mimpi?" tanya Nasyra saat dia berada dalam dekapan Rama. Air matanya mengalir semakin deras membasahi baju Rama.
"Ini nyata, Sayang. Kamu sedang tidak bermimpi." Rama mengurai pelukannya, kemudian mengusap lembut air mata Nasyra sambil tersenyum.
"Kenapa menangis?" Harusnya kita bahagia, Sayang. Sudah jangan menangis, ya." Rama mengecup kening Nasyra dan memeluknya lagi. Mata Rama yang tadi berkaca-kaca pun segera diusapnya agar Nasyra tak mengetahuinya jika dia juga menahan tangisnya.
"Nanti, kita ke rumah sakit buat perimsa kandungannya, ya," ajak Rama. Dia lalu meraih gelas yang berisi air putih di nakas, dan menyodorkan ke Nasyra agar dia meminumnya. Lelaki itu tak hentinya menenangkan Nasyra yang terus terisak, karena terlalu haru dengan kehamilannya.
Tak sia-sia Rama dan Nasyra selama ini menjalani program kehamilan di Singapura, dokter yang menangani mereka begitu sabar dan telaten. Saat waktunya mereka harus chek up rutin, keduanya selalu bolak-balik ke Singapura. Usaha yang mereka perjuangkan benar-benar membuahkan hasil yang memuaskan.
.
.
__ADS_1
Bersambung