Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Allena dan Nasyra


__ADS_3

Derap suara sepatu semakin terdengar mendekat, pintu yang sedari tadi tertutup pun kini terbuka, memperlihatkan Fano di atas brankar yang di dorong oleh beberapa perawat. Allena berjalan di belakangnya sambil menatap pilu suaminya itu.


Mereka tampak tergesa-gesa, membuat Nasyra bertanya dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kak Fano? Mau dibawa ke mana dia?


“Sayang, sebaiknya kita mengikutinya di belakang. Nanti aku yang akan bicara pada wanita itu,” titah Rama, ia menggandeng tangan Nasyra.


Nasyra hanya terpaku, ucapan Rama membuatnya menurut saja. Pandangannya kosong melihat Fano semakin hilang dari pandangannya, di sisi lain ia sangat ingin menemui lelaki itu.


Namun, di sisi lain juga, ia menghargai suaminya, meskipun Rama telah mengizinkan, tetapi dia juga sadar apa yang dilakukannya adalah salah. Memikirkan lelaki lain, bahkan di hatinya ada namanya juga. Setidaknya, Rama mempunyai kemanusiaan yang tinggi, hingga ia mengesampingkan egonya untuk tidak cemburu yang berlebih terhadap istrinya dan Fano.


Dari kejauhan, Rama dan Nasyra mengikuti ke mana arah Fano di bawa. Tak lama, setelah melewati panjangnya koridor dan menaiki lift. Akhirnya mereka sampai, Fano di bawa masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan ruang operasi.


Nasyra tak dapat menahan tangisnya, air matanya lagi-lagi lolos di depan suaminya itu. Ia tak dapat berkata-kata. Rama pun mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi tunggu dan menenangkan Nasyra. Allena sadar akan kehadiran mereka, matanya yang juga basah mengarah pada sepasang suami istri itu.


“Kalian siapa? Kenapa mengikuti sampai ke sini?” tanya Allena menghampiri, sedangkan Nasyra masih dalam dekapan Rama. Rama pun kemudian berdiri. Nasyra hanya tertunduk dan menghapus air matanya.


“Sebelumnya saya minta maaf karena sudah lancang mengikuti kalian. Saya hanya ingin tahu keadaan Fano saja.” Mengulurkan tangan untuk berjabatan.

__ADS_1


“Anda yang tadi siang di acara grand opening itu, kan?” tanya Allena dengan raut wajah datar, dibanding Nasyra, ia lebih tegar dan kuat karena ia sebenarnya adalah wanita yang cuek dan kuat. Bahkan ia jarang menangis.


“Ya, benar. Perkenalkan, saya Rama, dan ini istri saya, Nasyra.”


“Bukan Rara?” Allena menegaskan pertanyaannya. Tatapannya menunjukkan bahwa ia tak menyukai wanita itu.


“Ya, itu saya.” Nasyra berdiri, ia kemudian mengulurkan tangannya. Namun Allena tak menanggapinya.


“Apa yang kamu lakukan terhadap suami saya, ha?!” Allena sedikit meninggikan suaranya.


“Aku ... aku tidak melakukan apa pun terhadapnya. Kenapa kau menuduhku?!”


“Saya tidak menuduh, saya pikir orang bodoh pun tau kalau kamu yang menyebabkan suamiku kecelakaan! Dari awal aku melihatmu, aku sudah curiga, kamu yang mengantar suamiku, kamu menangisinya. Lihat, baju kamu saja penuh darah!” Allena menyeringai, ia tak peduli di mana ia sekarang meluapkan emosinya. Sedih, khawatir dan juga marah sekarang ia rasakan.


“Allena, maaf. Sebaiknya kita harus bicara baik-baik, jangan emosi seperti ini, ini rumah sakit, apalagi Fano di dalam sana sedang melawan sakitnya," ucap Rama.


“Aku tidak salah, bukan aku yang menyebabkan Kak Fano kecelakaan ....” Nasyra terisak.

__ADS_1


Allena hanya menatap tajam ke arah Nasyra tanpa mengucap kalimat lagi, ia tampak begitu menahan emosi. Nafasnya terlihat memburu, ia lalu duduk dan memijat dahinya sambil menarik nafas panjang.


Tak lama kemudian, Pak Ki datang menemui Nasyra dan Rama membawa paper bag.


“Sayang, itu Pak Ki datang, sebaiknya kamu ganti baju kamu dulu. Mau kuantar ke toilet?”


“Terima kasih, Kak, tidak perlu.” Nasyra hanya membatin, suaminya memang luar biasa, bahkan ia memperhatikan pakaian Nasyra yang berlumur darah. Dia pun juga tak tahu kapan Rama menghubungi sopirnya untuk membawakan baju.


Nasyra pun berjalan menuju toilet, hanya ada Allena dan Rama di kursi itu. Pak Ki kembali keluar setelah tugasnya sudah selesai, mengantar baju Nasyra atas perintah Rama.


“Allena, aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa Fano. Tapi aku mohon, kamu tenang, dan sebaiknya kita berdoa, mudah-mudahan ia operasinya berjalan dengan lancar.”


"Kamu tidak tau gimana perasaanku, gimana kehidupanku tanpa Fano. Aku seorang istri yang bergantung pada suami, melihat ia sekarang tak berdaya, apa yang harus aku lakukan? putriku juga pasti akan sangat sedih, dia begitu dekat dengan ayahnya," terang Allena, suaranya lirih, ia menyembunhika air matanya, menunduk tanpa melihat ke arah Rama.


"Aku tau ini tidak tepat, tapi aku harus menyampaikannya. Nasyra, istriku, dia mempunyai masa lalu dengan Fano yang mungkin belum terselesaikan, hingga sampai saat ini, aku bisa melihat sorot mata keduanya mengisyaratkan cinta. Aku hanya berusaha bersikap sewajarnya, dan Nasyra pun juga tau batasan seorang istri, jadi kamu tidak perlu takut istriku akan merebut suamimu. Itu tidak akan mungkin terjadi," ucap Rama.


Allena langsung menoleh dan melihat Rama karena terkejut dengan ucapannya, tetapi bibirnya kelu. Ia tak tau harus berkata apa. Pikirannya kalut saat ini. Ia hanya bisa terdiam dan mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut Rama.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2