Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Masih Terpuruk


__ADS_3

“Assalammualaikum,” sapa Fano dari depan teras rumah Nasyra.


Tak ada jawaban dari Nasyra, ia lalu sedikit maju satu langkah dan mengucapkan salam lagi


Sepertinya ia masih sibuk dengan lamunannya hingga tak menyadari kehadiranku di sini, batin Fano.


 


“Assalammu’alaikum, Rara ....” Ketiga kalinya, Fano mengulangi salam dan sedikit meninggikan nada suaranya agar Nasyra mendengar salamnya.


 


“Wa’alaikum sa-- ....”


Sahutan salam itu terpotong seketika saat Nasyra menoleh ke arah Fano. Ia sangat terkejut melihat kehadiran lelaki itu di rumahnya. Apa dia akan menerima Fano sebagai tamu? Fano hanya bisa berharap Nasyra akan memaafkannya kali ini.


 


“Ra ...,” sapa Fano, suaranya terdengar lirih.


 


“Kenapa ke sini?! Belum puas menyakitiku?!” bentak Nasyra dengan suara gemetar. Dadanya seoalah sesak, debaran jatungnya bedegup kencang menahan amarah, mengingat sakit yang selama ini menyiksanya. Namun, ada secercah kilatan cinta di mata gadis itu.


 


"Aku datang kesini karena aku ingin menjelaskan semuanya, Ra. Selama ini aku sangat tersiksa jauh darimu. Aku tidak bisa, aku tau kamu masih marah dan benci sama aku, tapi aku mohon dengarkan aku. Kali ini saja," pinta Fano dengan raut wajah dan nada yang memelas.


“Pergi!” usirnya dengan suara gemetar. Air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata itu mulai lolos membanjiri pipi Nasyra.


 


Dia mengusirku ... ya tentu saja itu akan terjadi. Aku sudah memprediksinya, dia begitu membenciku. Bahkan berbicara padaku pun dia enggan menatapku, pandangannya fokus ke arah lain, batin Fano. Ia pun juga tak sanggup melihat reaksi Nasyra yang begitu membencinya.


“Jangan ganggu aku lagi Kak. Pergi!” Nasyra masih terus berteriak pada Fano.


“Ra, sebentar saja, dengarkan aku! Dengarkan semua kebenarannya.”


 

__ADS_1


“Cukup Kak! Aku sudah lelah," teriak Nasyra dengan air mata yang mulai deras.


 


“Ra, aku sangat mencintai kamu. Kembalilah padaku. Aku mohon ....” mohon Fano dengan suara seraknya.


Sepertinya Fano sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya kali ini, ia terus memohon dan mengemis cinta pada seorang gadis yang dicintainya. Hidupnya sangat tak berarti jika berpisah dengan Nasyra. Apalagi, ia selalu dihantui rasa bersalah yang mendalam akibat ulahnya.


“Kak, kamu tahu, kan? Aku tulus mencintaimu. Tapi kenapa kamu tega mempermainkanku selama ini?!” akhirnya Nasyra berhasil mengatakan sepatah kalimat walau dengan hati yang sakit.


“Ra, aku juga tulus mencintai kamu. Aku benar-benar hampa menjalani hidup tanpa kamu.”


 


“Bohong! Kamu tahu arti tulus itu apa?!”


 


Fano terdiam sesaat, mulutnya seoalah terkunci rapat, bibirnya kelu tak mampu berucap. Hatinya sakit melihat Nasyra terisak, pipinya semakin basah akibat air mata yang enggan berhenti.


Ingin rasanya Fano menghapus buliran itu dan memeluknya. Namun apa daya, Nasyra pasti akan menolak dan semakin membencinya.


“Ra, boleh beri aku waktu untuk bicara? Sebentar saja," pinta Fano.


Ia mulai mendekati Nasyra dan mencoba meraih kedua lengannya, tetapi ia malah melangkah ke belakang. Memilih untuk menghindari lelaki itu.


“Dan kamu! Kamu tidak hanya membohongiku. Tapi juga dia ... istrimu! Apa kamu sadar yang kamu lakukan, Ha?!”


Suara gemetar yang keluar dari mulut Nasyra bahkan bisa menyakitkan setiap orang yang mendengarnya. Gadis itu terlihat menahan ribuan tusukan belati dihatinya, tetapi ia masih mencoba untuk tegar.


 


“Rara ... Ra ....” Fano mendekati Rara dan berusaha meraih tangannya.


“STOP! Aku nggak mau percaya lagi sama kamu, Kak. Kamu itu terlalu misterius buat aku, terlalu banyak rahasia yang kamu sembunyikan dariku. Aku nggak mau jadi orang bodoh lagi, aku nggak mau di bohongi, dan aku nggak mau lagi mengenalmu!”


Fano hanya terdiam, ia bingung apa yang harus dikatakannya. Melihat Nasyra menangis dan berteriak saja, ia tak mampu mengendalikannya.


Kenapa sakit sekali mendengar ucapan Rara, aku hanya bisa diam melihatnya menangis.

__ADS_1


Mendengar kegaduhan di depan rumahnya, seorang wanita yang tengah menjahit di dalam rumah pun segera keluar, memastikan apa yang terjadi.


“Ada apa ini?” tanya Bu Farida yang keluar dari pintu kayu yang terbuka, beliau adalah Bu Farida, Ibu kandung Nasyra.


“Ibu ...." Rara menghampiri Ibunya, dan memeluknya sangat erat.


“Bu, maaf. Sa—saya ....“


Aku takut beliau akan sangat marah jika tau, aku sudah membuat anaknya menangis bahkan terpuruk dalam waktu dua bulan ini, batin Fano, ia menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan sendu seoalah meminta pertolongan.


 


“Nak, duduklah. Bicaralah baik-baik," ucap Bu Farida pada anak gadisnya.


 


“Aku mau masuk aja, Bu. Nasyra nggak mau lagi bertemu dengan dia!”


“Ya sudah, kamu masuk dulu. Ibu akan bicara dengannya.” Nasyra berjalan cepat dan menutup pintu dengan kasar.


Ia memasuki rumah dengan tangis yang masih terisak, terdengar menyayat hati, sedangkan Bu Farida, ia mempersilakan Fano untuk duduk di kursi yang tak jauh dari tempat berdirinya saat ini. Fano mengulurkan tangan untuk berjabatan sebagai tanda hormatnya.


“Nak, siapa namamu? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu," tanya Bu Farida dengan suara yang lembut penuh kesabaran.


“Saya Fano, Bu, saya temannya Rara. Maaf, lebih tepatnya saya pacarnya Rara," terang Fano sambil menunduk.


"Apa tujuanmu datang kemari, Nak Fano?"


Walaupun lidah berat untuk mengatakannya, entah kenapa Fano bisa mempercayai Bu Farida untuk membantu masalahnya dengan Nasyra.


“Bukannya lancang mau ikut campur urusan kalian, tapi Nasyra, dia anakku. Jadi tolong, ceritakan semuanya. Kenapa Nasyra jadi seperti sekarang?”


Bersambung ..


Ada yang suka sama karya ini g ya?? 🙂


jangan lupa tingglakan jejaknya..


komen, like, sama votenya ditunggu ya..😘😘

__ADS_1


terima kasih.


__ADS_2