
Keesokan harinya, embun pagi masih setia melekat pada dedaunan, suara kicauan burung mulai terdengar menyambut mentari. Hawa dingin begitu terasa menembus pori-pori kulit Nasyra. Namun, hal itu sama sekali tak menghentikan semangatnya untuk beraktivitas pagi.
Setelah menyelesaikan syarat sehatnya kali ini, yaitu berolahraga, dia lanjut menyirami bunga-bunga di sekitar halamannya. Meski ada seorang tukang kebun, tetapi dia sangat suka melihat perkembangan tanamannya dari hari ke hari hingga dia tidak memberikan kesempatan orang lain untuk menyentuhnya.
Pagi ini, suasana hatinya begitu cerah, secerah pagi yang mulai menampakkan sinarnya walau masih sedikit tertutup awan. Sejak semalam Rama meneleponnya dan tidak lagi marah padanya, dia merasa begitu bahagia dan tenanh deolah beban beratnya terlepas.
Tanaman yang berjejer rapi itu kini telah basah dengan air yang disiriamkan oleh Nasyra. Handuk yang menggantung di lehernya pun kini juga ikut basah karena keringat hasil olahraganya satu jam yang lalu.
Tubuhnya sekarang terasa lengket, dia memutuskan untuk segera naik ke kamarnya dan menjalani ritual mandinya. Membersihkan diri semaksimal mungkin karena akan menyambut kedatangan sang suami.
Rama memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran setelah dia berkutat dengan masalah di perusahaannya yang di Singapura. Keberangkatannya dari negara tersebut sekitar pukul tujuh pagi waktu Singapura. Kurang lebih dua jam perjalanan, Rama akan sampai di Jakarta.
Dalam perjalanan, Nasyra merenungi segala kesalahannya pada sang suami. Dia berniat untuk menjadi lebih baik dan akan berusaha melupakan Fano, meskipun dalam lubuk hatinya masih terukir jelas nama pria itu. Nasyra tidak mau terulang kedua kalinya saat Rama bersikap cuek dan mengeluarkan segala amarahnya. Hal itu cukup membuatnya ketakutan dan menderita batin.
Saat sampai di bandara, Nasyra menunggu di ketibaan, manik indah itu fokus pada orang per orang yang keluar dari sana. Tak lama, sosok yang ditunggu muncul juga, senyuman manis telukis di bibir keduanya. Namun, Nasyra begitu terkejut saat Rama tak sendiri. Dia membawa seorang wanita yang duduk di kursi roda.
Wanita paruh baya yang didorongnya itu tak lain adalah Fira--mamanya Rama. Nasyra tak menyangka jika mertuanya akan ikut pulang juga dengan Rama. Padahal, hubungannya dengan mertua belum membaik.
Nasyra teringat saat wanita itu menamparnya malam itu. Rasa sakit itu masih membekas tebal di hatinya. Apa pun alasannya, Nasyra tetaplah menantu. Dia berusaha menjadi menantu yang baik.
__ADS_1
Nasyra menormalkan pikirannya, membuang jauh-jauh rasa kecewa itu. Yang dipikirankannya kali ini, dia harus lebih baik sebagai istri Rama.
Rama yang melihat istrinya dari kejauhan pun segera mempercepat langkahnya sambil mendorong sang ibunda tercinta. Dia langsung mencium kening Nasyra.
"Sayang, kenapa ke sini? Kan, ada Pak Ki, harusnya kamu istirahat saja di rumah. Tidak perlu menjemputku," tutur Rama yang disambut uluran tangan Nasyra untuk bersalaman dan mencium punggung tangan suaminya itu.
Rama pun kemudian mengalungkan tangannya pada pinggang Nasyra dan memeluknya sebentar sekadar melepas rasa rindu.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku hanya ingin menyambut suamiku pulang. Apa tidak boleh?" Nasyra kali ini sangat menjaga ucapannya. Dia berusaha agar tidak menyakiti hati Rama lagi.
Nasyra melepas tautan tangan Rama yang menggenggamnya. Dia kemudian melihat sekilas mertuanya yang membuang muka, enggan menatap Nasyra. Namun, lagi-lagi istri Rama itu memilih untuk mengalah, sebagai menantu dia cukup sadar diri karena tanpa Rama--anaknya, dia tidak akan bisa seperti sekarang.
"Ma, jangan seperti itu? Apa salah Nasyra?" tanya Rama.
Tak menjawab pertanyaan dari Rama, Fira malah berkata, "Mama ingin pulang, cepatlah!" sungut Fira memasang wajah ketusnya.
"Iya, Ma. Ini juga mau pulang, kan."
Nasyra memilih diam dan berada di samping Rama, menyejajari langkahnya. Sesekali Nasyra mengukir senyum manisnya pada Rama, membuat lelaki itu terpana dan semakin mengagumi kecantikan istrinya.
__ADS_1
Nasyra ingin sekali membahagiakan suaminya hari ini. Tidak seperti hari-hari lalu, dia selalu menyakiti Rama dengan tutur kata yang menyangkut Fano, mantan kekasihnya.
Mobil hitam yang dikemudikan Pak Ki lebih dulu menuju rumah Fira. Di rumah tersebut sudah siap dua suster yang akan merawat Fira yang masih butih penanganan khusus karena gejala stroke, tetapi dia enggan untuk dirawat di rumah sakit.
Setelah Rama dan Nasyra menemani Fira untuk beberapa saat, dan memastikan semua keadaan aman, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang.
"Kak Rama pulang, kan? Nggak kerja, kan?" tanya Nasyra. Mereka berjalan beriringan keluar rumah hendak memasuki mobil.
"Kenapa, Sayang? Aku nggak boleh kerja?"
"Ya ... kalau Kak Rama kerja, aku ikut juga ke kantor, kalau enggak, baguslah! Setidaknya aku tidak kesepian lagi di rumah." Nasyra tersenyum menunjukkan kilat bahagianya.
Rama yang mendengar hal itu pun seperti tak menyangka, dia sangat bahagia karena sebelumnya, Nasyra memang tak pernah manja seperti itu. Rama hanya berharap kali ini Nasyra benar-benar melakukannya dengan tulus tanpa adanya perasaan berhutang karena kesalahannya semalam.
"Kak, boleh aku tanya sesuatu?"
.
.
__ADS_1
Bersambung