Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Aku Tak Ingin Kamu Menderita


__ADS_3

Nasyra terdiam sejenak, mengatur napas dan juga berpikir mengatur kalimat yang akan diucapkannya, karena dia merasa ada kaitannya dengan kecelakaan Fano.


“Maaf Pak, tadi sebelum kecelakaan, saya sempat bertemu dengan Kak Fano. Kecelakaan itu terjadi tepat di belakang mobil saya, hanya berjarak beberapa meter,” jawabnya sedikit gemetar.


“Jadi, kamu yang mengantar Fano ke sini?”


“Iya, Pak.”


“Terima kasih, ya.” Nasyra hanya mengangguk pelan.


Apakah pantas aku menerima kata terima kasih itu? Kalau Pak Wijaya tahu yang sebenarnya, apa beliau akan memaafkanku?


Sampai saat ini pun, Pak Wijaya tidak pernah mengetahui hubungan masa lalu Fano dan Nasyra. Pak Wijaya tampak ingin menanyakan sesuatu, tetapi ia mengurungkan niatnya karena kejadiannya sudah lampau, sepertinya kurang pantas untuk membahasnya untuk saat ini.


Ia sebenarnya penasaran kenapa dulu Nasyra tiba-tiba menghilang dari restorannya, berhenti bekerja tanpa pamit. Padahal ia karyawan yang sangat pintar dibanding dengan yang lainnya.


“Allena, kamu sudah makan?” tanya Pak Wijaya seraya menepuk bahu wanita di sampingnya itu.


“Sudah tadi siang, Paman. Fano mengajakku ke sebuah acara tadi, dan kita makan di sana,” jawab Allena.


Jam berputar seakan sangat lambat, semua orang terus menunggu hingga waktu senja tiba dan berganti malam.


Pintu yang tertutup itu akhirnya terbuka juga setelah mereka lama menunggu. Dua dokter dan beberapa perawat pun keluar dengan wajah lelah setelah mereka menyelesaikan tugasnya, mengoperasi Fano di dalam sana.


Allena dengan langkah kaki seribu menghampiri dokter itu, menanyakan bagaimana hasil operasi kepala Fano.


“Dokter, bagaimana operasinya? Apa semuanya baik-baik saja?”

__ADS_1


“Iya, Bu Allena. Operasi berjalan dengan lancar. Tapi pasien masih dalam pengaruh obat bius anestesi, dan juga nanti kita akan lihat perkembangannya setiap saat,” terang dokter itu.


“Apa saya boleh menemuinya, Dok?”


“Sepertinya jangan dulu, Bu. Biarkan pasien beristirahat.”


“Lalu, kapan saya bisa menemuinya, Dok? Saya benar-benar ingin melihat suami saya.”


“Sabar ya, Bu. Setelah saya memastikan kondisi pasien.”


“Baiklah, terima kasih, Dok.”


Allena kembali duduk di kursinya, ia sedikit putus asa karena tidak bisa melihat suaminya. Kemudian selang beberapa menit, ia melihat Fano di bawa keluar dari ruang operasi itu, ia sontak bertanya pada perawat yang mendorong brankar.


"Suami saya mau di bawa ke mana?" tanya Allena pada seorang perawat.


...****...


Jam menunjukkan pukul 21.00, Fano tak kunjung sadar. Dokter lagi-lagi memeriksa keadaanya, dan setelah itu ia menyampaikan berita buruk pada Allena dan juga semua orang yang menunggu di sana.


"Maaf, Bu Allena. Saya harus menyampaikan berita buruk, Pak Fano saat ini mengalami koma."


"Apa, koma? Kapan suami saya akan sadar, Dok." Allena tak bisa lagi membendung air matanya. Begitu juga dengan Nasyra yang ikut merasakan kesedihan mendalam. Sementara itu, Pak Wijaya terus berusaha menenangkan Allena.


"Dok, apa saya boleh melihatnya sekarang? Tolong Dok, saya mohon," pinta Allena pada lelaki yang mengenakan jas putih itu.


"Silakan, Bu. Kalau bisa jangan lama-lama, ya, karena akan mengganggu pasien," titah dokter.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok."


Dokter berlalu meninggalkan ruang tunggu tersebut, ia menuju ke ruangannya, sedangkan Allena menatap pintu ICU di depannya.


Satu persatu langkah kaki Allena memasuki ruangan dingin itu, langkahnya seperti berat seakan tak sanggup melihat wajah suaminya yang terbaring lemah di sana.


Ia duduk di kursi sebelah brankar, buliran hangat itu mulai lolos. Ia menatap wajah Fano, banyak alat yang terpasang di tubuhnya. Allena menggenggam erat tangan Fano, ia mencium punggung tangannya dengan lembut.


"Sayang, bangunlah! Aku akan menuruti semua keinginanmu, jangan siksa aku seperti ini. Aku benar-benar nggak sanggup melihatmu menderita," gumamnya sambil menatap kelopak mata Fano, berharap ada respon dan pergerakan di sana.


Allena lagi-lagi merasa bersalah, ia menyesali perbuatannya karena Fano mau menikah dengannya. Ia berpikir suaminya tak pernah merasakan kebahagiaan selama ini.


Andai saja aku bisa menggantikan kesakitanmu, aku akan lebih senang, Fano. Bahkan aku siap mati dari pada harus melihatmu menderita seperti ini.


Aku sadar, aku memang tak pernah punya sesuatu untukmu. Apa yang bisa aku banggakan?! Apa yang bisa aku harapkan?! Bila aku tak pernah punya sesuatu yang kau tuntut dariku. Kamu tahu aku seperti apa yang kau lihat kini. Lalu, bagaimana mungkin, kamu menghendaki semua itu dariku? Tuhan telah memberikan apa yang terbaik buatku, mungkin bukan bagimu. Aku hanya wanita rendah, bahkan aku tak punya harapan untuk meraih sebuah cinta, cinta darimu. Sangat mustahil bagiku. Terima kasih, sudah mengasihiku tanpa cinta...


 


 


 Bersambung ....


...Teman-teman, tolong tinggalkan jejaknya ya.....


...***⚘♥️👍...


...juga komennya....

__ADS_1


...Author pengen di semangatin nih***.....


__ADS_2