
Terik mentari pagi mulai terlihat dari ufuk timur, cahayanya menembus di sela-sela jendela kaca di kediaman Rama yang cukup mewah. Nasyra membuka tirai kain yang menjuntai di jendela kamarnya, Rama yang masih tertidur pulas tiba-tiba menggeliat dan mengerjapkan matanya akibat terkena silau sinar matahari yang menembus ke arahnya.
“Kak, bangun!” seru Nasyra sambil mengikatnya tirai berbahan black out itu ke tasel.
“Hemm ...,” jawab Rama malas.
Nasyra pun menghampiri Rama yang masih meringkuk di kasurnya yang empuk, padahal Nasyra sudah mandi dan wangi sejak beberapa menit yang lalu. Rambutnya yang masih basah di bungkus dengan handuk kecil, sedangkan tubuhnya di balut handuk kimono berwarna putih.
“Kak, sudah jam tujuh. Nggak ke kantor?” Nasyra duduk di tepi ranjang dan menyentuh bahu Rama.
Seketika Rama terbangun karena mencium aroma wangi mawar yang menyegarkan di tubuh istrinya. Ia langsung menarik Nasyra ke dalam pelukannya. “Tumben sudah mandi, sayang?” tanya Rama sedikit keheranan.
Bukannya menjawab, Nasyra masih terus berusaha terlepas dari dekapan Rama. “Kak, cepetan mandi, lepasin dulu ini!”
“Sebentar, biarkan begini. Aku suka wangimu, sayang.”
“Kak, keburu siang loh, aku mau ke rumah sakit,” rengek Nasyra dengan nada manja. Rama reflek melepaskan pelukannya dengan cepat, ia seperti terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Nasyra pun langsung tak enak hati mendapat reaksi dari Rama yang sedikit kesal.
Nasyra sadar ia salah karena ia menyebut rumah sakit, otomatis itu mengarah ke Fano. Rama berpikir istrinya hanya terus memikirkan lelaki lain, bahkan ia rela mandi sepagi ini hanya untuk bersemangat menjenguk Fano, mantan kekasihnya itu. Padahal, sebelumnya ia sangat jarang mandi di jam itu, kecuali jika ada acara tertentu.
“Maaf, Kak.” Nasyra menggenggam tangan Rama. “Aku hanya ingin menjenguknya sebagai teman, setidaknya aku tidak dihantui rasa bersalah terus. Aku ingin memastikan keadaannya.”
“Tidak apa-apa, ke sanalah! Aku tidak melarangmu.”
__ADS_1
“Kak Rama marah?” tanya Nasyra dengan suara pelan.
“Nggak, kenapa harus marah? Aku hanya sedikit kesal, wajar seorang suami cemburu jika wanitanya memikirkan pria lain.” Rama berkelit, wajahnya memang terlihat kesal karena cemburu.
“Aku minta maaf, Kak. Kalau Kak Rama nggak kasih izin, aku tidak akan pergi.”
“Nggak apa-apa, sayang. Yang penting, jaga hati kamu dan ingat status kamu.” Rama tersenyum, dia memang tak pernah tega membiarkan istrinya sedih. Walaupun ia harus sedikit mengorbankan perasaannya.
“Pasti, Kak! Aku tidak akan mungkin melupakan statusku sebagai istri Tuan Rama Rahardian."
Rama pun segera beranjak duduk dan menggantungkan kakinya di tepi ranjang. "Ya sudah, aku mandi dulu, nanti aku antar ke rumah sakit."
"Terima kasih, Kak!" Rama berdiri sambil mencubit manja hidung istrinya, ia lalu berjalan ke ke kamar mandi.
...****...
"Sudah, Kak."
Rama berdiri, menggandeng istrinya menuju mobil. "Kak sebentar, itu dasinya." Fokus Nasyra ke arah dasi yang dipakai suaminya, mereka berhenti di luar pintu.
Kini Nasyra berada di depan Rama sambil merapikan juga kerah jas yang sedikit terlipat. Nasyra memandang suaminya, ia mendongakkan kepalannya karena memang tingginya hanya sebatas dagu Rama. Dengan gerakan cepat, Rama merasa gemas dan mendaratkan ciuman ke bibir istrinya itu, karena ia tahu Nasyra tidak akan pernah mau jika Rama meminta ijin, ia sangat anti mengumbar kemesraannya di luar rumah.
"Kaaak, hih!" Nasyra kesal, ia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah, takut ada yang melihatnya, karena banyak pekerja di rumah mewah itu. Melihat reaksi istrinya, Rama hanya terkekeh, ia lalu melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya dan berjalan beriringan menuju mobil.
__ADS_1
...****...
Di rumah sakit, Allena sudah siaga berjaga di ruang tunggu, kali ini ia sendirian karena Pak Wijaya sudah pulang sejak kehadiran Allena.
"Pagi, Allena ...." sapa Nasyra yang dijawab anggukan serta senyuman oleh Allena. Rama hanya mengantar Nasyra sampai halaman depan rumah sakit. Sehingga saat ini dua wanita itu kini sedang berada di posisi yang membuat keduanya canggung.
"Bagaimana keadaan Kak Fano?" tanya Nasyra memecah keheningan setelah beberapa saat ia duduk di sebelah Allena.
"Belum ada perkembangan. Kamu kalau mau jenguk nggak apa-apa, masuk aja. Tapi jangan lama-lama, tadi dokter sudah berpesan, di dalam juga ada perawat yang standby."
Allena tampak berbaik hati membiarkan mantan kekasih Fano menjenguknya. Ia hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk Fano, siapa tahu dengan begitu Fano akan cepat sadar dari komanya.
"Bolehkah?"
"Iya, silakan," jawab Allena singkat.
"Terima kasih, ya, Allena." Dengan mata berbinar, Nasyra berjalan dengan semangat memasuki ruangan yang menegangkan itu. Di dalam ada perawat yang menjaganya dua puluh empat jam, karena pasien di ICU harus dipantau ekstra.
Langkah Nasyra tak lagi bersemangat saat melihat keadaan Fano, tubuhnya terhubung dengan berbagai peralatan medis melalui selang dan kabel. Juga di samping brankar sangat lengkap dengan alat seperti monitor, mesin ventilator dan defibrilator.
Bersambung ...
...Gaess tolong beri komen sama likenya ya......
__ADS_1
...Hadiah sama Vote juga sangat diharapkan....
...Terima kasih sudah mampir...