
"Sayang, aku harus menidurkan Kania sebentar. Tolong ajak ngobrol mereka, ya." Allena berbisik pada Fano yang langsung diangguki oleh lelaki itu.
Allena permisi sebentar karena dia harus menemui putri kesayangannya sebelum tidur. Wanita itu sekadar ingin mengucapkan selamat tidur pada Kania. Pelukan dan ciuman seolah menjadi kewajiban setiap harinya sebagai pengantar tidur.
"Rama, Nasyra, aku permisi sebentar ya, aku harus menemani Kania. Sudah jamnya dia tidur. Kalau aku tidak datang ke kamarnya, bisa-bisa dia terus menonton televisi," pamit Allena terkekeh membayangkan gadis kecilnya sembari beranjak dari meja makan.
"Ah, iya. Silakan Allena," ucap Nasyra.
Saat Fano dan Rama asyik mengobrol, tiba-tiba saja ponsel Rama berbunyi. Dia terpaksa menjauh untuk mengangkat telepon tersebut.
"Fano, sebentar ya, aku harus angkat telepon dulu. Sepertinya penting." Rama beranjak dari kursinya kemudian melirik ke arah Nasyra. sambil memegang pucuk kepala istrinya tersebut. "Sayang sebentar, ya."
"Iya silakan!" ucapan Fano. Sementara Nasyra hanya mengangguk tersenyum kecil.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Nasyra dan Fano yang berada di meja makan, keduanya saling menatap dan kemudian sebentar mengalihkan pandangan mereka masing-masing. Suasana tampak begitu canggung di antara keduanya, banyak yang harus disampaikan oleh Fano. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya saat dia menyadari Nasyra adalah seorang istri dari Rama.
"Kak ...," panggil Nasyra memulai pembicaraan.
"Iya," sahut Fano dengan cepat. Dia menanti apa yang akan Nasyra ucapkan.
"Maafkan aku, karena aku yang menyebabkan Kak Fano kecelakaan," tutur Nasyra sembari menunduk merasa bersalah.
"Jangan minta maaf, Rara. Kamu sama sekali tidak bersalah. Semua ini karena kecerobohanku. Aku terlalu gelap mata untuk mengejarmu waktu itu."
"Tidak apa-apa, Ra. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Jadi jangan terus merasa bersalah dan meminta maaf begitu. O iya, aku sangat berterima kasih, karena dulu kamu menyempatkan waktu untuk rutin menjengukku. Meskipun, hanya awalnya saja, tapi aku sudah sangat bahagia. Terima kasih."
Nasyra pun mengangguk pelan, lantas memperhatikan Fano. "Kak, boleh aku minta satu hal?"
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Fano.
"Allena ... dia begitu mencintai kamu, Kak. Apa, sedikit pun tak ada ruang untuknya? Dia adalah wanita kuat dan tersabar, dia selalu menunggumu di rumah sakit. Air matanya selalu menetes saat dia menanti kamu sadar dan bangun dari tidur panjangmu. Alangkah baiknya, Kak Fano memperlakukan Allena layaknya istri normal di luaran sana, sayangilah dia, Kak. Maaf kalau aku lancang, bukan maksudku mengatur rumah tangga kalian, tapi aku berbicara sebagai teman Allena. Dia pantas bahagia."
"Iya, Ra. Aku paham. Tapi, sebelum kamu membahas soal rasa, sebaiknya kamu juga perlu menyadarinya. Kamu tanyakan juga pada hatimu yang sebenarnya, apakah kamu bisa mencintai orang lain, sementara masa lalu masih terukir dalam hati?" Fano berkata seolah dia ingin Nasyra mengatakan kejujuran bahwa wanita itu masih mencintainya juga.
Nasyra membeliak, dia begitu terkejut akan pernyataan Fano. Tak disangka dia malah membalikkan kalimatnya dan menanyakan sesuatu yang sangat dia wanti-wanti agar tidak ada pembahasan soal hati di antara mereka.
Sepertinya aku salah memulai pembicaraan ini, kalau boleh jujur, Kak, memang sulit. Tapi aku hanya kasihan terhadap Allena. Pengorbanannya begitu besar untukmu. Harusnya kamu bisa lebih mencintai dia daripada aku.
"Kak ...!"
.
__ADS_1
.
Bersambung ...