Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Rencana Makan Malam


__ADS_3

“Assalammu alaikum, sayang,” ucap Rama saat pintu dibuka oleh Nasyra.


“Waalaikum salam, Kak.” Wanita itu mencium punggung tangan suaminya yang dibalas dengan kecupan lembut di kening oleh Rama.


Mereka kemudian mengayunkan langkahnya satu persatu menaiki tangga menuju kamar. Tangan kanan Rama melingkar di pinggang sang istri, sementara tangan kirinya menenteng tas kantor yang berisi berkas dan laptop.


Sambil berjalan menaiki tangga, mereka berbincang sekedar menanyakan perihal perkerjaan masing-masing sebagai bentuk perhatian antara sepasang suami istri.


Sesampainya di kamar, Nasyra membantu melepaskan jas dan dasi suaminya, lalu meletakkan jas tersebut di tempat pakaian kotor. Rama yang terlihat lelah, duduk di sofa sambil meminum air putih yang sudah disiapkan oleh Nasyra, air itu selalu berada di meja kecil samping ia duduk saat ini.


"Kak, aku siapin air untuk mandi dulu, ya," ucap Nasyra seraya berlalu ke kamar mandi.


"Iya sayang, terima kasih."


Nasyra mulai mengisi air di bath up, sambil menunggu air itu penuh, ia duduk di ujung buth up sambil mengayunkan tangannya ke air tersebut. Pikirannya tentang Fano tiba-tiba terbesit begitu saja. Bayangan lelaki itu terus ada di pikriannya.


Kapan kamu sadar, Kak. Aku terus gelisah memikirkanmu, batin Nasyra.


Ia kemudian mengecek suhu air ketika hampir memenuhi bath up. Setelah dirasa cukup, ia menuangkan bath bomb ke dalam bath up tersebut. Wangian aroma terapi dari bath bomb membuatnya tersentak dan melupakan sesaat pasal Fano.


Nasyra lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, sambil berkata pada suaminya, "Kak, airnya sudah siap."


Tanpa ada jawaban, Nasyra kemudian menghampiri Rama yang tadi sedang duduk di sofa. Ternyata, Rama sedang asyik menerima telepon di balkon, pintu balkon itu sedikit terbuka, sehingga Nasyra mampu mendengar apa yang sedang suaminya itu bicarakan dengan seseorang di ponselnya. Ia mendengar suaminya itu seperti memanggilnya 'Ma'.


Nasyra mengernyitkan dahinya. Ma? Apa Kak Rama sedang berbicara dengan Mama? Mudah-mudahan kali ini tidak ada masalah, batin Nasyra.


Pikiran Nasyra seketika berubah menjadi kalut, seperti akan menerima kabar yang tidak baik setelah ini.


Ya, usia dua tahun pernikahan dan belum juga mempunyai momongan menjadi masalah utama bagi ibu mertuanya.

__ADS_1


Nasyra selalu tertekan saat mama Rama itu menyuruhnya agar cepat hamil, sedangkan kehamilan itu adalah rezeki pemberian dari Yang Maha Kuasa, dia tak pernah tahu kapan ia akan mendapatkan keturunan walaupun mereka sudah berusaha.


Nasyra lalu duduk di sofa sambil menunggu Rama selesai menerima teleponnya. Dengan raut wajah cemas, ia memandang kosong ke arah bunga hias yang ada di sudut kamar.


Pikirannya tentang beberapa hari lalu menghantuinya, saat mertuanya, Fira, mencaci maki dirinya tanpa sepengetahuan Rama. Saat itu juga Nasyra merasa gagal menjadi istri. Ia tak berani bercerita pada suaminya karena ia takut jika suaminya malah berburuk sangka pada dirinya.


"Sayang ...," panggil Rama, suaranya membuyarkan lamunan Nasyra.


"Ah iya, Kak!" Nasyra sedikit terkejut saat menyadari suaminya membelai pipinya.


"Kok melamun, kenapa?"


"Nggak apa-apa, Kak. Tadi, siapa yang telepon?"


"Mama, sayang. Kita di suruh ke rumah buat makan malam, kamu mau, kan?”


 


 


“Malam ini, kenapa sayang? Apa kamu keberatan?”


 


“Ah, tidak, Kak. Aku hanya terkejut saja, mendadak sekali. Bahkan aku belum menyiapkan apa-apa untuk oleh-oleh nanti, masa nggak bawa apa-apa," dalih Nasyra, padahal ia hanya berharap agar suaminya itu mengagalkan rencana makan malamnya di rumah mertuanya nanti.


 


"Kalau itu, nanti kita mampir saja ke Bakery sayang, kita beli red velvet kesukaan Mama.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu," sahut Nasyra dengan nada putus asa.


"Kak, airnya sudah siap. Cepetan mandi! Nanti airnya keburu dingin lagi." Nasyra mengalihkan pembicaraannya, ia merasa sangat gundah dalam hatinya.


Nasyra tak tahu apa yang harus ia lakukan, bagaimana ia mengambil hati mertuanya itu, bagaimana lagi ia menyiapkan mentalnya untuk menghadapi mamanya Rama.


"Iya sayang, kamu belum mandi juga, kan? Barengan aja yuk, sayang!" ajak Rama dengan senyum genitnya.


"Kak Rama aja sana dulu, nanti gantian."


"Dosa loh, nolak suami." Rama terus menggoda istrinya.


"Kak, please ... jangan memaksa." Nasyra terlihat cemberut dan hilang mood seketika.


"Ya sudah kalau begitu, aku mandi dulu sayang."


"Iya, Kak. Jangan lama-lama."


... ****...


Nasyra sudah rapi dengan dress berwarna hijau tua dengan panjang lengan sampai pergelangan. Dress itu tampak sangat elegan meskipun hanya sederhana, potongan kain itu menutup hingga lututnya. Di tambah lagi ia memakai high heels berwarna hitam, menambah kesan sempurna di dirinya.


Rama berdiri di samping Nasyra sambil mengetuk pintu rumah orang tuanya. Hati Nasyra sudah tak karuan, tangannya dingin, sesekali ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


Tak lama, asisten rumah tangga membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Terlihat kedua mertuanya sedang duduk bersantai di ruang tamu, seperti sengaja menunggu kehadiran anak dan menantunya.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gaes...

__ADS_1


Like, komen, hadiah, sama votenya🤭


Terima kasih


__ADS_2