
Saat berada di restoran. Ketiganya memesan makanan dan minuman masing-masing. Nasyra sebenarnya enggan bertegur sapa semakin jauh dengan Allena, apalagi pembahasannya sudah dipastikan menyangkut Fano.
Lain halnya dengan Rama yang begitu ingin tau keadaan lelaki yang pernah mengisi hati istrinya dulu. Entah karena hanya rasa kemanusiaan atau memang benar-benar simpati sebagai kawan. Hal itu sukit ditebak, bahkan dirinya tak semoat tak mempunyai rasa cemburu ketika istrinya menemui Fano ketika berada di rumah sakit.
Kendati begitu, Rama tetap memegang kepercayaannya pada Nasyra saat itu. Meskipun dia tahu bagaimana posisi dirinya salam hatinya.
"Bagaimana keadaan Fano, Al?" tanya Rama sambil mengaduk minuman yang baru saja diantar oleh pelayan restoran.
"Ada kabar gembira, kalian pasti juga ikut senang mendengarnya," tutur Allena, senyumannya lebar menghiasi wajah, matanya tampak berbinar.
"Apa itu? Apa Fano sudah sembuh?" tebak Rama.
"Alhamdulillah, Fano sudah sembuh. Ya, meskipun belum total, setidaknya dia sudah bisa bicara. Sekarang dia dirawat di rumah, tapi ada suster yang menjaganya."
"Ah, begitu. Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya, Al." Nasyra menggenggam tangan Allena, dia tersenyum ramah seolah ikut merasakan kebahagiaannya.
"Syukurlah, sejak kapan dia sudah dibawa pulang?" tanya Rama.
__ADS_1
"Sudah sekitar satu minggu ini, ini hasil check up pertama kemaren. Aku baru sempat mengambilnya karena terlalu sibuk mengurus Kania ada acara di sekolahnya." Allena mendengus pasrah sambil menunjukkan berkas hasil cek perkembangan Rama.
Tampak tak ada lagi beban yang dipendam Allena. Begitu Fano sembuh, wanita itu seakan terbebas dari aktivitasnya yang hampir saja tak tidur setiap harinya, karena menjaga Fano dan juga mengurus Kania.
Meskipun ada asisten rumah tangga yang menjaganya, tetapi dia tidak ingin melewatkan momen kebersamaan dengan putri kecilnya walau hanya sebentar. Agar putrinya tak merasa kesepian saat ketidakadaan Fano di sisinya menjadi hal kosong yang memilukan.
"O, iya. Kalian ... siapa yang sakit?" tanya Allena, dia mengingat kedua pasangan suami istri tersebut berada di rumah sakit, pikirnya ... mereka tengah menjenguk saudara atau teman yang dirawat di rumah sakit tersebut.
"Ah, kami baru saja periksa kandungan, Al." Nasyra mengukur senyum tipisnya, Rama melirik isttinya, mereka saling memandang dan tersenyum. Seolah kebahagiaan itu tak mampu lagimereka bendung.
"Baru tiga minggu kok."
Ada secercah ketulusan yang Allena curahkan. Walau perkenalan awal mereka kurang baik, tetapi saat ini keduanya seperti teman dekat yang saling men-support.
"Terima kasih, Al." Nasyra membalas pelukan singkat Allena.
"Eh, bagaimana kalau kita merayakan kebahagiaan ini? Aku mengundang kalian makan malam di rumahku. Besok, ya!" tutur Allena dengan semangat.
__ADS_1
"Tapi, Al ...." Ucapan Nasyra terhenti, dia tak tahu harus berkata apa. Di sisi lain, dia enggan bertemu dengan Fano. Namun, dia yeringat akan janjinya yang baru saja diucapkan pagi tadi di kamar mandi, bahwa dia akan menjenguk Fano ketika lelaki itu sudah sembuh dari sakitnya.
"Nggak ada tapi-tapian, ya. Kalian harus mau!" paksa Allena dengan suara menekan. Namun tak lupa, dia mengulas senyumnya. "Fano oasti senang kalau kalian datang menjenguknya," lanjutnya.
Nasyra melirik ke arah Rama, mengisyaratkan agar suaminya itu menjawab ajakan Allena.
"Kamu mau, kan, Sayang?" Rama menggenggam tangan Nasyra yang berada di atas meja.
"Terserah Kak Rama, aku ikut aja," jawab Nasyra yang disahut anggukan oleh Rama.
"Baiklah, Allena. Besok jam tujuh malam, kira datang ke rumahmu. Tapi ... berikan alamatmu, kita belum tahu kamu tinggal di mana." Rama terkekeh, Allena pun langsung men-share lokasi rumahnya dan mengirimnya ke nomor telepon Nasyra.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1