
Fano terus terus memperhatikan Nasyra tak berkedip, ia memandangnya dari bawah sampai atas, 'sempurna' itulah yang ada di pikirannya saat melihat Nasyra dengan gaun berwarna abu-abu, tampak sangat elegan. Gaun itu mempunyai panjang selutut, dengan lengan yang ketat sampai ke siku. Bagian dada terbuka menyamping hingga ke bahunya. Juga tali yang ada di bagian perut, membuat tampilannya semakin cantik.
"Apa Anda ingat saya? Kita bertemu waktu di restoran."
“Oh iya, saya mengingatnya. Pertanyaan Rama membuyarkan lamunan Fano.
Rama kemudian mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Fano, “Perkenalkan, saya Rama."
“Saya Fano.”
Rama mengulas senyumnya, sementara Fano, ia bersikap dingin terhadap lelaki itu. Mengingat, ia masih penasaran dengan hubungan antara Rama dan Nasyra.
“Kak Rama, sepertinya aku mau ke toilet dulu boleh?” bisik Nasyra pada Rama.
“Boleh sayang, tau nggak toiletnya di mana? Atau mau kuantar?”
“Ah tidak perlu, Kak. Aku bisa sendiri.”
Nasyra pun berjalan menuju toilet sendirian tanpa didampingi oleh Rama. Sebenarnya dia izin pergi ke toilet hanya ingin menghindari Fano, menghindari tatapan Fano yang sedari tadi tak henti memperhatikannya. Ia merasa risih, gejolak hatinya juga tak karuan saat ada Fano.
Beberapa saat kemudian, saat ia sampai di depan toilet, tiba-tiba terdengar ada yang memanggilnya.
“Rara ... Ra!” seru Fano.
Nasyra semakin mempercepat langkahnya untuk menghindari Fano. Sayangnya ia kalah cepat dengan Fano.
“Rara, berhenti!” Fano menarik tangan Nasyra dari belakang, ia lalu berjalan ke depan Nasyra hingga mereka saling berhadapan.
“Rara, lihat aku!” Nasyra masih terus menunduk menyembunyikan bola matanya yang mulai berkaca-kaca.” Fano memegangi kedua bahu Nasyra.
Bodoh, lemah sekali aku. Kenapa aku harus menangisinya di saat yang tidak tepat.
__ADS_1
“Kak, menjauh dariku! Jangan sampai aku teriak meminta tolong," ancam Nasyra. Ia memundurkan langkahnya agar tak terlalu dekat dengan Fano.
“Ra, aku cuma ingin tau, siapa dia. Siapa lelaki itu?!”
“Maksud kamu?!”
“Lelaki di samping kamu tadi. Ya, Rama. Ada hubungan apa kamu dengannya?!”
“Oh, Kak Rama. Dia suamiku, kenapa? Sudah jelas, kan? Aku sudah menikah, aku sudah milik orang lain. Jadi jangan ganggu aku lagi!”
“Ra, aku tidak peduli. Aku sangat merindukanmu. Kembalilah padaku, bisakah kita mulai lagi dari awal?"
Fano memohon dengan wajah melasnya, ia tak tau lagi, sepertinya ia sudah sangat tergila-gila dengan Nasyra.
"Kak, kita sudah punya kehidupan masing-masing. Mau sampai kapan kamu menggangguku terus? Apa kamu nggak capek? Sudahlah, biarkan aku hidup tenang."
Nasyra memilih untuk pergi meninggalkan Fano dan memasuki ruangan, acara itu sedang berlangsung. Rama yang menyadari kehadiran Nasyra pun menengok ke samping.
"Sayang, kenapa menangis?"
"Nasyra ... kita hidup bersama sudah cukup lama, jadi tidak perlu berbohong. Aku tau wajah sedihmu."
"Tidak apa-apa, Kak. Kak Rama tenang aja, tiba-tiba saja aku merindukan Ayah dan Ibu."
"Besok kita pulang, ya. Sudah, jangan bersedih lagi."
Rama menggenggam tangan Nasyra yang berdiri di sampingnya, mereka lalu menyaksikan acara yang tengah berlangsung itu.
Tidak bisa dipungkiri, sampai saat ini Nasyra dan Fano sama-sama memiliki perasaan yang begitu dalam. Rasa cinta mereka masih tumbuh subur di dalam hati masing-masing.
Acara grand opening tersebut berlangsung selama dua jam. Pukul 13.00 selesai acara, Nasyra dan Rama menuju mobilnya diikuti oleh Fano dan Allena yang bergandengan mesra.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini dulu, aku ada perlu sebentar."
"Perlu? Sama siapa?" tanya Allena sambil melepas tautan tangannya dari lengan Fano.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Allena, Fano langsung melangkah cepat menuju arah mobil Rama dan Nasyra.
"Permisi, maaf. Pak Rama, boleh saya berbicara sebentar dengan Rara?"
"Rara?"
"Ah, maksud saya Nasyra. Ada yang mau saya sampaikan padanya."
"Pak Fano kenal sama istri saya? Ada hubungan apa?"
Nasyra pun memicingkan mata pada Fano sebelum Fano menjawab pertanyaan dari Rama. Ia memang lelaki yang tak tau malu, benar-benar nekat dan tak peduli dengan status Nasyra sebagai istri orang.
"Kak, sebaiknya kita pergi aja. Aku tidak ada urusan dengan orang ini."
"Benarkah? Kalau memang ada, selesaikanlah dulu, aku akan tunggu di sini."
"Tidak, Kak. Ayo, kita pergi!" ajak Nasyra. Ia langsung masuk ke mobilnya tanpa menghiraukan Fano.
Rama pun akhirnya berpamitan pada Fano, tak lupa mereka juga saling bertukar kartu nama.
Di dalam mobil, Nasyra terdiam membisu, tatapannya kosong mengarah pada kaca jendela mobil. Lamunan Nasyra menggugah pikiran Rama untuk bertanya, "Sayang, kenapa melamun? Sebenarnya, siapa dia? Sejak kapan kamu mengenalnya?"
Nasyra hanya menatap Rama, netranya sayu, ia tak tau harus berkata apa pada suaminya itu. Lagi-lagi, bola mata itu mengeluarkan tetesan air hangat yang membasahi pipinya.
Bersambung ....
...Seharian sibuk, maafkan ya telat up ......
__ADS_1
...Tapi jangan lupa untuk tetap komen dan like, dukung terus author biar selalu semangat....
...Terima kasih...