Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Pikirkanlah, Nasyra!


__ADS_3

Rama menghampiri Arka yang sedang menikmati makannya. Ia duduk tepat di depan sepupunya itu. Setelah seharian ia mengurus perusahaan, rasa lapar sungguh membuat perut mereka berisik tak karuan. Segera, Rama mengambil piring yang berada di depannya lalu mengisi nasi serta lauk yang tersedia di meja itu.


"Bagaimana, Ram? Apa aku harus memanggil programmer sekarang?" tanya Arka, sambil mengelap bibirnya dengan tisu seusai makan.


"Boleh juga. Tapi apa dia tidak keberatan untuk datang malam-malam begini?" tanya Rama melirik ke arah Arka.


"Aku akan coba menghubunginya," jawab Arka yang langsung diangguki oleh Rama.


Arka berpamitan pada Rama untuk ke kamar tamu berniat membersihkan dirinya. Ya, dia memang sudah biasa menganggap apartemen itu sebagai rumah kedua. Di sisi lain, Arka juga memang selalu disuruh mamanya Rama untuk sekadar datang membantu masalah perusahaan. Tak heran jika baju ganti dan beberapa jasnya tersedia di apartemen itu.


Setelah selesai makan, Rama pun juga bergegas menuju kamarnya. Ia mengurungkan niatnya untuk mandi. Ia menenteng jas yang sejak tadi sudah dilepasnya. Kemeja putih bermotif tipis masih melekat sempurna di tubuhnya. Ia hanya melinggarkan bagian atas, membuka beberapa kancing bagian atas, serta melipat kemeja panjang itu menjadi sepanjang lengan.


Ia mulai membuka pintu balkon dan melihat pemandangan kota Singapura, tampak bangunan megah Marina Bay membuat netranya terfokus. Gemerlap lampu malam yang indah terus diperhatikannya. Wajah tegas Rama kini terlihat lelah, ia memijit keningnya yang tak pusing. Menarik napas panjang dan membuangnya kasar membuat bebannya hari ini sedikit berkurang.


Sejenak, ia bertumpu pada besi pembatas balkon. Pikirannya memusat pada Nasyra. Ingin sekali rasanya Rama menghubungi istrinya itu. Tak dapat dipungkiri, ia sangat merindukannya. Ia diambang rasa kebimbangan, antara rindu dan cemburu.


Rama mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia berniat untuk menghubungi Nasyra. Namun, ada sedikit keraguan yang masih mengganjal, rasa cemburu itu masih tersisa jika mengingat istrinya lebih memengingkan lelaki lain dibanding dirinya.


Rama membuka pesan yang belum sempat mengeceknya. Ternyata, banyak pesan masuk dari Nasyra yang terabaikan sejak sore tadi. Tanpa pikir panjang lagi, Rama menelepon Nasyra guna menanyakan kabar istrinya itu. Selang beberapa detik, nada dering tunggu itu beralih dengan suara Nasyra.

__ADS_1


"Halo," jawab Nasyra dari sambungan telepon.


"Halo." Rama menjawab singkat sapaan Nasyra, ia pun sebenarnya tak tahu, bagaimana harus bersikap saat ia cemburu dan sedikit menahan amarahnya, apalagi dicampuri dengan bumbu rindu yang ia rasakan.


"Kak, kenapa baru kasih kabar? Apa kamu begitu sibuk sampai nggak sempat balas pesanku?" tanya Nasyra, nadanya terdengar pilu.


"Maaf, perusahaan memang lagi darurat. Jadi aku tidak sempat pegang HP."


"Kak Rama kenapa cuek begitu? Kak Rama marah sama aku? Aku minta maaf kalau aku ada salah, Kak."


Rama terdiam sesaat. "Nasyra ...." Rama memanggilnya lirih, ia tampak berpikir untuk merangkai kata agar tak menyakiti hati istrinya.


"Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, aku hanya ingin kamu mengerti."


"Apa yang ingin Kak Rama bicarakan?"


Rama menarik napas panjang seolah tak mampu mengeluarkan isi hatinya. Selama ini, ia memang selalu mementingkan perasaan Nasyra. Rama begitu menjaga perasaan wanita itu dan tak ingin menyakitinya walaupun ia juga merasakan sesak.


"Nasyra, apakah aku sudah tidak ada artinya lagi untukmu? Sampai kapan kamu akan terus menyimpan dia dalam hati kamu?" gumam Rama, suaranya terdengar lirih dari ponsel Nasyra.

__ADS_1


"Kak Rama bicara apa sih?" kilah Nasyra.


"Pikirkanlah, Nasyra! Aku hanya ingin kamu melihatku seorang, aku suamimu tapi aku tidak pernah memiliki hatimu. Tolong, buka mata hati kamu, Nasyra!"


"Maafkan aku, Kak. A--aku ...." Nasyra berusaha menjawab, tetapi tenggorokannya seperti tercekat. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf, ia sangat merasa bersalah pada Rama saat ini. Benar saja, manik indah Nasyra mulai mengembun dan berkaca-kaca tanpa sepengetahuan Rama.


Andai saja ia bisa berkata 'aku mencintaimu', mungkin kata itu yang akan lolos dari bibir merah Nasyra, brmaksud meluluhkan hati Rama. Namun, bukan itu yang Rama mau saat ini, meskipun Nasyra mengucapkan tiga kata itu, Rama tak akan luluh dan percaya begitu saja, karena ia tahu cinta Nasyra hanya untuk Fano.


"Kenapa diam? Maaf jika aku menyudutkanmu. Tapi aku memang harus mengatakan ini agar kamu mengerti bagaimana perasaanku. Aku selalu menjaga perasaan kamu agar tak pernah merasakan kesedihan, tapi kamu sekalipun tak pernah memahamiku, Nasyra."


Nayra melipat bibirnya ke dalam menahan tangis yang menuntut air matanya untuk menetes. Ia cukup terkejut dengan barisan kata yang dilontarkan Rama melalui sambungan telepon itu.


"Kak ... aku memang bersalah sudah menyakitimu, tapi aku ...."


.


.


Bersambung....

__ADS_1


jangan lupa dukungannya guys . like.


__ADS_2