Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Tegang


__ADS_3

Rama mengayunkan langkahnya meninggalkan ruangan ICU. Tubuh gagah itu seirama dengan kakinya yang melangkah pasti menghampiri Nasyra. Wanita itu terlihat tengah mengobrol di kursi tunggu. Istri dari seorang Rama itu tampak membicarakan hal yang serius dengan Allena, Rama mendekat lalu memotong pembicaraan keduanya karena ia harus buru-buru pergi.


“Sayang, aku pergi ke kantor sekarang, ya?”


“Ah, iya, Kak.” Nasyra berdiri dan meraih tangan Rama, lalu mencium punggung tangan suaminya.


Selang beberapa menit Rama pergi, Nasyra meminta izin pada Allena untuk menjenguk Fano dan langsung diiyakan olehnya. Nasyra melangkah ragu menuju pintu yang bertuliskan ICU itu, ia membuka knop pintu dengan berat.


Sebenarnya ia tak ingin melihat keadaan Fano yang begitu memprihatinkan, akan tetapi hatinya ingin sekali memberi semangat pada lelaki itu agar lekas sadar dari komanya. Ya, sudah dua bulan lebih lamanya Fano terbaring, tetapi masih belum juga ada perkembangan walau sekecil apa pun.


Nasyra pun mendekat ke samping brankar, sekitarnya dipenuhi alat penyambung hidup Fano, mulai infus, selang, alat pernafasan dan juga mesin pendeteksi detak jantung. Entah, apakah lelaki itu akan bisa sadar dan pulih kembali, atau hanya akan berakhir di brankar itu, tidak ada yang bisa memprediksinya.


Nafas Nasyra terasa sesak ketika ia menatap lekat wajah Fano yang pucat pasi, nyaris tak terlihat cahaya kehidupan. Hatinya lemah saat ia membelai lembut tangan lelaki itu. Air mata Nasyra mulai terlihat menggenang di pelupuk mata seakan ingin lolos, tetapi ia masih menahannya.


Bibir Nasyra tak henti-hentinya mengucap doa, besar harapannya untuk kesembuhan Fano saat ini, agar ia bisa melihat dan menyaksikan kebahagiaan Fano yang harus ia dapatkan setelah ia pulih kembali.


...****...


Sementara itu di perusahaan RR Advertising, Rama duduk dengan kesibukannya, matanya terpaku pada monitor di depannya. Jarinya tak berhenti menari di atas keyboard. Beberapa berkas yang menumpuk di meja seolah menunggunya untuk mendapat giliran,


Ketukan pintu terdengar di telinga Rama, seketika membuyarkan konsentrasinya. Ia lalu segera mempersilakan seseorang itu untuk masuk ke ruangannya. Wanita cantik yang berpakaian formal memasuki ruangan Rama sambil membawa beberapa berkas laporan. Ya, dia adalah Celine wanita yang saat ini berprofesi sebagai sekretaris Rama. Ia sudah bekerja beberapa tahun di perusahaan itu, bahkan sebelun Rama tiba di Indonesia.


“Selamat pagi, Tuan. Maaf mengganggu waktunya, ada yang harus saya sampaikan.” Celine menunduk memberi hormat pada bosnya.

__ADS_1


“Pagi, ada apa?” tanya Rama dengan raut wajah penasaran. Kali ini ia sedikit bisa membaca pikiran sekretarisnya, karena tak biasanya Celine mengetuk pintu bosnya sepagi ini. Bahkan ia akan berani masuk jika di telepon oleh Rama untuk mengantarkan sesuatu ke dalam ruangan itu. Jika tak ada perintah, maka ia tidak akan berani masuk sembarangan.


“Pak, ini laporan perusahaan yang ada di Singapura, ada masalah yang cukup besar.” Celine menyerahkan berkas yang sejak tadi di pegangnya.


“Masalah apa?” tanya Rama sambil menerima berkas yang diserahkan oleh Celine.


Rama membuka berkas yang ada di tangannya. Satu persatu dia membaca barisan kata yang berada di dalam kertas itu. Keningnya mengernyit sehingga kedua alisnya hampir menyatu.


"Kamu yakin dengan laporan ini?" tanya Rama tak percaya. Dia mengalihkan pandangannya kepada Celine. Celine menundukkan kepalanya karena takut terhadap tatapan bosnya itu. Tatapannya seakan ingin membunuhnya saat ini, padahal, biasanya Rama selalu bersikap ramah terhadap para karyawan.


"Iya, Tuan, saya sangat yakin sekali. Jika Tuan tidak percaya, saya bisa bisa menyuruh seseorang untuk datang ke sini."


"Baiklah, kamu boleh keluar!" perintah Rama tanpa melihat Celine, matanya masih fokus terhadap berkas yang dibacanya.


Rama betul-betul tidak menyangka, perusahan yang di Singapura, mengalami kerugian cukup besar, hampir mencapai satu Triliun lebih jika dirupiahkan.


Rama pun langsung menelepon salah satu karyawannya yang ada di Singapura. Ia berpikir karyawan itu cukup hebat, ternyata masih bisa juga kecolongan.


"Kenapa bisa seperti ini? Hah!" bentak Rama tanpa basa basi saat telepon tersambung.


"Hah, baiklah!" ujar Rama setelah mendapatkan informasi dari orang karyawannya tersebut.


Rama pun menutup telepon, lalu ia kembali menelepon seseorang. Jarinya menekan satu nama di kontak ponselnya. Tanpa menunggu lama, telepon itu langsung tersambung.

__ADS_1


"Bro, bisa bantu aku? Aku sudah ditipu oleh salah satu orang kepercayaanku. Perusahaanku yang di Singapura mengalami kerugian besar. Rahasia perusahaanku telah di jual ke pesaing bisnisku. Aku ingin kamu handle dulu di sana."


Wajah Rama kian frustasi, ia terdiam sejenak untuk berpikir. Segera, dengan langkahnya yang tergesa-gesa, Rama berjalan menemui Wijaya di ruang kerja yang berjarak beberapa meter dari ruangannya.


Bersambung....


Tolong bagikan komen, likenya sm paporit ya teman-teman...


Maaf kalau ceritanya kurang menarik, author masih belajar.😊


Jika ada yang mau kasih


🌷💚☕ dengan senang hati menerima,


apalagi vote🤭


Terima kasih sudah mampir


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2