Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Suamiku


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


Nasyra menatap ke sekeliling restoran yang ia bangun susah payah selama beberapa tahun belakangan ini terlihat sangat lebih baik dari sebelumnya, pengunjungnya semakin ramai. Semua usahanya itu tak akan berjalan mulus jika tak ada peran suami di dalamnya yang selalu setia membantunya.


“Lihat apa, sayang?” tanya seorang lelaki dari belakang Nasyra.


“Ah, ini ... aku sedang memperhatikan para pengunjung yang ramai, aku seneng banget, akhirnya impianku tercapai. Ini semua juga berkat bantuanmu, Kak.”


“Aku akan lakukan apa pun untuk kamu, Sayang. Aku akan membuatmu selalu bahagia,” tuturnya sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Nasyra.


“Terima kasih atas kasih sayang yang kamu berikan selama ini, terima kasih sudah mau menjadi suamiku,” ucap Nasyra.


“Sayang ... kamu mencintaiku, 'kan?”


“Ehm ... iya.” Nasyra mengangguk pelan, ada sedikit keraguan di hatinya, tetapi suami di sampingnya itu tersenyum bahagia walau hanya mendapat reaksi anggukan dari sang istri.


“Kalau begitu, kita berangkat sekarang?”


“Yuk!” Nasyra dan suaminya berjalan keluar dari restoran mereka, menuju mobil yang sudah di siapkan oleh sopirnya.


“Sayang, sebentar aku ke dalam dulu, HP-ku ketinggalan.”


“Baiklah, aku tunggu di mobil, ya,” ucap Nasyra pada suaminya yang berjalan cepat masuk ke dalam restoran untuk mengambil ponselnya.


Chhhhiiiittt .... Suara decitan rem mobil terdengar di telinga. Mobil sedan hitam berhenti tepat di belakang mobil Nasyra. Pengendara itu mengerem mobilnya mendadak tanpa haluan.


Terlihat seorang lelaki berpenampilan rapi, memakai setelan jas berwarna navy keluar dari mobilnya. Pria berperawakan tinggi itu berjalan tergesa-gesa menghampiri Nasyra yang akan memasuki mobilnya.

__ADS_1


“Rara!” teriaknya menggugah hati Nasyra.


Rara ...? Suara itu? ... hanya dia satu-satunya orang yang memanggilku ‘Rara’, batin Rara saat dia mendengar suara yang tak asing memekik telinganya.


Suara lantang itu seketika membuat Nasyra langsung menoleh ke belakang dengan cepat.


“Rara ... ke mana aja kamu selama ini! Aku mencarimu.” Pria yang mempunyai jambang tipis itu kini hanya berjarak kurang dari satu meter dengan Nasyra.


Nasyra terpaku, tak ada satu kata pun yang  berhasil keluar dari mulutnya, tenggorokannya tercekat, bibirnya seolah kelu tak mampu berucap. Hatinya berdebar-debar, tubuhnya gemetar, dan tangannya mulai dingin berkeringat. Juga, matanya ... saat ini tak bisa berbohong, bahwa ia sangat merindukan lelaki di depannya. Fano, ya dialah yang berdiri di depannya saat ini.


Perasaan ini begitu meluap-luap, aku hampir tak bisa menahannya, Kak. Ingin rasanya aku memelukmu, aku sangat merindukanmu.


“Ehm ... maaf, aku harus pergi,” pamit Rara pada lelaki yang menyapanya beberapa detik yang lalu, ia berusaha menghindar.


“Rara ... sebentar saja, aku ingin berbicara denganmu, apa kamu tidak merindukanku? Ke mana saja selama ini? Sekarang kamu tinggal di mana?” Fano menghujani beberapa pertanyaan pada Nasyra, tetapi tak ada satu pun yang di jawab oleh wanita itu. Bibirnya enggan mengucap kalimat yang gagal ia rangkai.


“Enggak, aku ... restoran ini ....”


Belum selesai Nasyra mengucapkan kalimat gugupnya, Fano lagi-lagi mengatakan sesuatu, “Aku benar-benar tidak menyangka kalau kita bisa bertemu di sini. Sepertinya, Tuhan mengizinkan kita untuk bersatu lagi, Ra,” Fano tersenyum, mencoba meraih tangan Nasyra.


“Maaf, aku harus pergi sekarang, Ada hal penting yang harus aku kerjakan!” ucap Nasyra, matanya mulai berkaca-kaca.


“Rara, tolonglah ... aku mencintaimu, aku masih sangat mencintaimu,” tutur Fano dengan raut wajah yang sendu.


“Sudahlah, Kak! Hubungan kita benar-benar sudah berakhir. Kisah kita yang lama sudah menjadi masa lalu, sebaiknya kita kubur dalam-dalam.”


“Tidak bisa Ra, aku ....” Fano berusaha menjelaskan bahwa ia tidak bisa melupakan Nasyra sampai detik ini juga.

__ADS_1


“Aku harus pergi.” Rara memasuki mobilnya di barengi dengan teriakan Fano yang terus memanggil nama wanita itu. Mobil yang di tumpangi Nasyra pun berjalan perlahan meninggalkan restorannya.


Di dalam mobil, Nasyra melamun. Ia seenak terbayang wajah Fano, terbayangkan juga kisah kelam mereka.


Kenapa harus bertemu lagi setelah lima tahun lamanya, padahal aku tak mengharap sedikit pun bertemu denganmu, Kak. Susah payah aku melupakanmu, kenapa hadir lagi di hidupku ... aku sudah menjauh darimu, aku juga sudah menikah, tapi kenapa hatiku sakit saat melihatmu. Rasa itu masih terpendam sampai sekarang, Kak.


"Nyonya ...," panggil sopir itu pada bosnya yang duduk di jok belakang. Entah tak mendengarnya, atau memang pikirannya lagi tidak bisa fokus, ia tak merespon panggilan sopirnya.


"Nyonya ...." Sopir itu sekali lagi memanggil Nasyra dan sedikit meninggikan suara.


"Eh, iya, Pak. Ada apa?"


" Maaf, apa tuan tidak jadi ikut?"


"Ikut? Ke mana?" Nasyra berpikir sejenak, ia lalu menepuk jidatnya setelah tersadar. "Astaga! Pak, balik Pak, cepetan!"


"Duh ... Kak Rama kenapa mesti ketinggalan sih!" umpatnya.


Tanpa ia sadari, ia pergi tanpa membawa suaminya, harusnya mereka berangkat bersama ke sebuah pertemuan dengan beberapa wirausahawan di sebuah hotel ternama.


Bersambung ...


Gimana... masih semangat nggak bacanya?


Ada yang baca nggak sih?? author sedih nih kalau kalian baca tanpa ninggal jejak...


Komen yaa... 😘😘😘 makasih sudah mampir.

__ADS_1


IG: epha_yunitha, follow yuk🤗


__ADS_2