Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Danau


__ADS_3

Malam hari, di tepi danau. Fano mengapit sebatang rokok di tangannya dengan asap yang mengepul, menghisapnya dengan kasar sambil menikmati istirahatnya setelah seharian berkutat di restoran pamannya.


Sejak kepergian Nasyra dari hidupnya, Fano merasakan kosong yang begitu dalam. Hatinya seperti mati. Kesalahan fatal yang sudah dibuatnya mengakibatkan gadis yang ia cintai, sekarang membencinya.


Fano melampiaskan segala gundah di hati, hampir setiap malam sejak kejadian dua bulan yang lalu. Ia selalu menghabiskan waktu di danau yang tak jauh dari restoran.


Setidaknya ia bisa sedikit menenangkan pikiran dan mencari jalan keluar atas semua masalah yang membebaninya, masalah yang disebabkan atas ulahnya sendiri.


Fano tak tahu kenapa ia begitu sangat mencintai Nasyra. Dia adalah wanita sederhana yang sudah berhasil memiliki hatinya. Sejak kehadirannya di hidup Fano, dia membuat Fano merasa dihargai sebagai seorang lelaki. Dia adalah cinta pertamanya, tapi dia juga yang menyakitinya.


"Aku memang lelaki brengsek! Arghhh ...!" umpatnya pada dirinya sendiri.


Fano melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi panjang di tepi danau, ia terus mengingat semua tentang Nasyra.


Ra, bukan maksudku untuk menyakiti dua hati perempuan sekaligus, tapi yakinlah rasa ini bukan aku yang mau. Bahkan jika aku diharuskan untuk memilih, aku tidak akan mungkin tega menyakiti kamu dan dia, dan bukan hanya kamu saja yang sakit Ra, aku juga. Hatiku sangat perih ketika kamu dengan lantang memakiku saat di taman itu, padahal bibirmu tak pernah sekalipun meninggikan suara terhadapku, batin Fano.


Apa kamu benar-benar membenciku? kau tau? Aku juga sangat menderita berpisah denganmu. Tolong, jangan tinggalkan aku, aku masih sangat membutuhkanmu di sampingku.


Hubungan Fano dengan istri bukanlah hubungan yang baik layaknya sepasang suami istri pada umumnya. Mungkin Rara sempat berpikir jika keluarga kecil Fano adalah keluarga yang bahagia.


Saat itu, belum sempat Fano menjelaskan semuanya, Nasyra sudah terlanjur pergi dan sampai sekarang dia selalu menghindar dari Fano. Bahkan ketika Fano meneleponnya, dia selalu berpura-pura tak mengenalinya.

__ADS_1


Apa aku terlalu hina? Apa aku memang pantas di sebut bajingan?! Fano memusatkan pandangannya pada tengah danau yang airnya terlihat tenang.


Kejadian saat di taman dua bulan lalu, Fano memilih jujur pada Nasyra semata-mata untuk mencari jalan keluar bersama. Namun, reaksinya ternyata tak sesuai dengan apa yang diharapkannya.


Tentu saja, bodoh sekali jika Fano masih mengharapkan reaksi baik dari Nasyra, sudah pasti dia akan sangat membenci kejujurannya. Wanita mana yang tidak benci dan kecewa ketika ia di bohongi selama dua tahun lamanya.


Andai saja, kamu masih di sampingku saat ini, Ra. Kita tentu akan sangat bahagia, tidak merasakan sakit hati satu sama lain seperti sekarang.


Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Ra. Aku juga tau, dalam lubuk hatimu yang terdalam, kamu juga pasti masih menyimpan rasa itu untukku. Aku bisa merasakannya.


Fano memberanikan diri, lagi dan lagi untuk menghubungi Nasyra, ia sudah tak peduli caci makinya. Baginya mendengarkan suara Nasyra sebentar saja sedikit mengobati rasa rindu Fano terhadapnya. Setidaknya, ia juga lega mengetahui kalau Nasyra dalam keadaan baik-baik saja, walaupun ia kerap mematikan telepon darinya tanpa pamit.


Fano berpikir, apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia ingin sekali mencari Nasyra, tetapi dia pun tak tahu di mana sekarang gadis itu berada.


"Silahkan!" jawab Fano dengan raut wajahnya yang dingin dan acuh.


"Abang, lagi patah hati, ya?"


"Bukan urusanmu!"


"Si Abang, jangan galak-galak, nanti gantengnya ilang loh," ucap wanita itu dengan nada centilnya, ia mencolek pipi Fano dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Fano menatap tajam wanita asing itu, betapa terkejutnya ia melihat sosok Laura (Lanang oRa, Wedok oRa) di depan matanya, dengan raut wajah kesal setengah geli, ia segera melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.


Ia lalu bergegas meninggalkan si wanita itu, maksudnya si lelaki itu, entahlah! berjenis apa dia sebenarnya.


"Ada saja godaannya ... nggak tau apa pikiran lagi kacau!"


Bersambung....


Sehat selalu ya gengs...


... ...


...Tolong tinggalkan jejak ya.....


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


 

__ADS_1


 


__ADS_2