Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Mengajak Ke Kantor


__ADS_3

Nasyra pun menuruti perkataan suaminya untuk tidur. Ia membenamkan kepalanya ke dada bidang Rama, tempat ternyaman selama ini hanya di pelukan suaminya. Beberapa menit kemudian, Nasyra terlelap, sedangkan Rama masih belum bisa memejamkan matanya. Ia terus memikirkan cara bagaimana untuk menyampaikan hasil lab dari Dokter Mirna ke istrinya itu.


Sebaiknya besok aku mengajaknya ke kantor dan setelah itu pergi ke rumah sakit untuk menemui Dokter Mirna. Semoga kamu bisa tabah ya, Sayang. Maafkan aku karena menjadi pengecut dalam hal ini. Aku hanya tidak mau kamu bersedih, tapi kalau semakin lama aku menyimpannya, akan semakin bahaya juga untukmu. Rama bergumam dalam hati, sesekali memperhatikan wajah istrinya.


Rama menarik selimut dan membenarkan posisinya untuk tidur. Ia menekan mematikan saklar lampu terang di dekat heradboard ranjang dan menggantinya lampu tidur yang hanya bercahaya redup.


Pagi hari pukul 06.00 tak seperti biasa, Rama bangun lebih awal daripada Nasyra. Entahlah, mungkin Nasyra memang benar-benar lelah batin sejak kejadian semalam dengan ibu mertuanya, hingga ia menikmati tidur panjangnya. Rama bangun perlahan agar tak mengganggu tidur Nasyra, ia menyibak selimut tebalnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Rama membuka pintu kamar mandi, pandangannya ke ranjang untuk memeriksa istrinya, tetapi ia begitu terkejut saat mendapati Nasyra ternyata tak ada di tempat tidurnya.


"Sayang, sudah bangun?" Rama mencari keberadaan istrinya di sudut ruang kerjanya sebelah kamar, tetapi tak ditemukan juga.


Rama pun berjalan menuju nakas samping tempat tidur, ia lalu menekan tombol nomor satu pada telepon yang terhubung ke lantai bawah dan langsung diangkat oleh asisten rumah tangganya.


"Bi, apa Nasyra ada di bawah?"


"Tidak ada Tuan, Nona belum turun."


"Di mana dia? coba kamu cari, Bi. Di kamar juga tidak ada."


"Baik Tuan," jawabnya dari sambungan telepon.


"Terima kasih." Rama langsung menutup teleponnya.

__ADS_1


Rama yang belum sempat memakai baju, ia bergegas keluar kamar dengan lilitan handuk di pinggangnya. Ia merasa panik karena istrinya tiba-tiba menghilang, padahal tadi sebelum ia mandi, Nasyra tertidur pulas.


Rama membuka kamar tamu yang selalu kosong, letaknya selisih dua ruang dari kamar Rama dan masih berada di lantai atas. Ia membukanya dengan kasar dan langsung masuk, tetapi tak di temukan juga istrinya di sana.


Setelah ia berbalik hendak keluar kamar, ia terkejut karena terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Ia lalu mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu sambil terus memanggilnya.


"Nasyra .... Sayang ....!" Rama berseru meninggikan suaranya agar sang istri menyahutnya.


Tak lama, Nasyra keluar dari kamar mandi dan memakai bathrobe. Ia menatap heran suaminya yang sejak tadi menggedor-gedor pintu saat ia mandi.


"Kenapa sih, Kak, teriak-teriak?" tanya Nasyra santai sambil membetulkan gelungan handuk diatas kepalanya.


"Sayang, bisa nggak kamu jangan bikin aku jantungan, kenapa mandi di sini? Nggak biasanya seperti ini," gerutu Rama sambil mencubit hidung Nasyra.


"Auuw ... sakit, Kak!" Nasyra memegang hidungnya, "Kak, tadi aku kebelet pipis, nunggu Kak Rama selesai mandi kelamaan, jadi ya pipis di sini, sekalian aku mandi karena gerah banget."


"Kak, please! Aku cuma ke kamar mandi loh, dan masih di dalam rumah. Kenapa harus pamit?! Kak Rama kenapa sih, aneh banget," cibir Nasyra.


Setelah perdebatan yang cukup panjang di kamar inap tamu, mereka kembali ke kamar mereka untuk segera mengganti bajunya. Rama lalu menawari Nasyra untuk ikut ke kantornya, ia berencara memberitahu hasil lab itu. Dengan semangat, Nasyra pun langsung mengiyakan ajakan Rama, karena ia sangat bosan di rumah. Nasyra memang biasanya agak siang pergi ke restoran, jadi pagi ia masih punya banyak waktu luang yang cukup panjang.


...****...


"Kak, sudah lama aku nggak ikut kamu ke kantor, banyak yang berubah ya," ucap Nasyra, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling area perusahaan Rama.

__ADS_1


"Apa yang berubah, Sayang? Masih sama, banya penataannya saja yang sedikit diubah."


Banyak pasang mata menyaksikan bosnya berjalan mesra dengan sang istri, sesekali mengembangkan senyumnya pada karyawan yang mereka lewati untuk sekedar menyapa. Keduanya memanglah orang yang sangat menghargai pekerja. Meskipun begitu baik terhadap karyawan, tetapi Rama diam-diam mempunyai pemikiran yang cerdik untuk memimpin perusahaan papanya, hingga tak ada yang bisa mengelabuhi Rama.


Sesampainya di depan lift, Rama menekan tombol dua puluh untuk menuju ruang kerjanya. Tangan itu tak lepas dari pinggang Nasyra yang terus ingin berdekatan. Rama mencoba untuk santai meskipun dalam hatinya, ia begitu sangat gugup. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti reaksi Nasyra begitu tau semuanya.


Bersambung...


...Hay, reader baik...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2