
"Selamat malam, Tuan, Nona, silakan masuk," sapa Bi Nur menyambut kehadiran tuan mudanya. Tak lupa Nasyra menyerahkan kue yang tadi dibeli di sebuah toko roti ternama saat berangkat.
"Selamat malam, Bi." Nasyra menjawab sambil tersenyum ramah, sementara Rama hanya mengangguk samar pada Bi Nur.
Sepasang suami istri itu pun masuk ke dalam, mengayunkan langkahnya menuju ruang tamu yang terletak di sudut ruang sebelah kanan.
"Malam, Pa, Ma." Rama menghampiri kedua orang tuanya, Nasyra pun mengikuti suaminya yang tengah bersalaman.
"Cantik sekali menantuku," ucap Fira berbasa-basi. Ia berdiri memandangi Nasyra dari atas sampai bawah. Tak lupa sesekali wanita itu mengibaskan kipas tangan yang dipegangnya.
Nasyra hanya mengulas senyum tipis bercampur nervouse. Selama ini ibu mertuanya selalu bersikap manis saat di depan Rama saja. Berbeda saat Nasyra hanya berdua dengan wanita paruh baya itu, pasti selalu ada ucapan yang akan memakan hatinya.
Fira dan Irsan langsung mengajak anak dan menantunya bergegas ke meja makan. Jam menunjukkan pukul 19.30, seharusnya mereka datang lebih awal, karena jalanan cukup padat membuat mereka terlambat sampai ke rumah orang tuanya.
"Oh ya, tadi Mama sama Bi Nur masak makanan kesukaan kamu, Sayang. Ayo kita makan!" ajak Fira pada Rama. Ia begitu menyayangi anak lelaki satu-satunya itu.
"Iya, Ma."
Rama pun berjalan sambil melingkarkan tangan kanannya ke pinggng Nasyra. Sesampainya di meja makan, Fira dan Irsan duduk berdampingan, sedangkan Nasyra dan Rama di seberang juga duduk berdampingan.
Di meja makan sudah tersedia berbagai macam menu yang dihidangkan, seperti rendang, sayur brokoli, gurame bakar, dan juga cumi, lengkap dengan berbagai macam sambal di tengahnya.
"Mama ambilkan ya, makanannya?" tawar Fira pada Nasyra.
__ADS_1
"Tidak perlu Ma, terima kasih. Nasyra bisa ambil sendiri."
Piring yang ada di depan Rama pun diangakat Nasyra dan dituangkan nasi secukupnya, serta mengambilkan lauk kesukaan Rama, yaitu rendang, dan sambal cumi pedas.
Acara makan malam sederhana keluarga Irsan itu cukup membuat suasana hangat antara menantu dan juga mertuanya. Irsan memang lelaki yang tak banyak bicara, bahkan pada menantunya sekali pun. Ia hanya berbicara seperlunya. Bukan karena tak suka pada Nasyra, tapi memang Irsan jarang berkomunikasi dengan lawas jenis sejak remaja.
Setelah makan malam itu selesai, mereka bergegas menuju ruang santai, ada televisi dan juga kursi pijat yang selalu menjadi tempat favorit Irsan di kala penat setelah sehatian bekerja.
"Pa, anaknya si Dian udah hamil lagi loh. Sekarang dia udah punya cucu dua. Aku iri deh, Pa." Fira berkata pada Irsan sambil memandangi foto di layar ponselnya.
"Lihat, ini Pa!" Fira menunjukkan foto teman yang dimaksud itu, yang katanya sudah mempunyai dua cucu. Padahal niatnya hanya ingin membuat Nasyra sakit hati.
Rama terlihat cuek tak menanggapi obrolan mamanya, ia lebih fokus ke koran yang ia baca, sedangkan Nasyra, ia fokus terhadap siaran televisi di depannya.
"Ma, sudahlah jangan berisik!" tutur Irsan dengan jengah.
Akhirnya Rama angkat bicara setelah ia risih mendengar suara mamanya yang sejak tadi terus berceloteh perkara anak.
"Ma, kita juga sudah usaha kok. Jadi tunggu saja nanti hasilnya," ucap Rama menyudahi pembahasan soal anak. Ia mengerti saat ini perasaan Nasyra pasti tengah gundah akibat membahas soal kehamilan.
"Rama, Papa dan Mamamu ini sudah pengen banget nimang cucu, sebenarnya diantara kalian siapa sih yang bermasalah?" celetuk Fira dengan kasar.
"Ma, sudahlah. Jangan terus tekan mereka, kasihan. Kita sabar aja." Irsan membentak, ia benar-benar tak suka mendengar kegaduhan.
__ADS_1
Irsan dan Rama kemudian berbincang mengenai perkembangan bisnis di perusahaan mereka. Rama sebagai pewaris tunggal sangatlah diharapkan Irsan untuk menjadi pemimpin yang layak dan berbekal hebat seperti dirinya.
Nasyra dan Fira yang sejak tadi terdiam sambil memainkan ponselnya tak mengerti obrolan para lelaki itu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Fira mengajak Nasyra untuk ikut bersamanya ke kamar atas.
"Nasyra, ikut Mama ke kamar, yuk!"
Nasyra dengan raut wajah penuh keraguan seolah ingin menolak, tetapi tidak mungkin ia bersikap tidak sopan terhadap ibu mertuanya itu.
"Ah, iya, Ma." Nasyra beranjak dan mengekori Fira menaiki tangga.
Di dalam kamar, Fira langsung menghujani Nasyra dengan pertanyaan yang menyakitkan dirinya.
"Gimana jadi istrinya Rama? Ya pasti enak dong, kan anakku kaya raya, kamu minta apa pun pasti dikasih!" Fira menyeringai, matanya terlihat sangat tajam menatap Nasyra.
"Maksud Mama, apa?"
"Heleh, jangan pura-pura sok polos! Aku tahu kamu cuma mau duit anakku aja, kan?"
"Nggak, Ma. Aku nggak pernah berpikir sampai kesitu."
"Buktinya, sampai sekarang kamu belum juga hamil. Kamu sengaja, kan? Supaya kamu nggak mau repot ngurus anak dari Rama? Sengaja mau menguras harta anakku?! Kamu minum pil KB, kan?!" Wanita itu terus menyudutkan Nasyra.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya teman-teman...
Terima kasih sudah mampir.