
Saat mengantar Kania, Fano terus terbayang wajah Nasyra. Ia masih penasaran dengannya, keinginannya untuk bertemu Nasyra lagi semakin menggebu. Ia lalu berpikir sesaat.
Apa sebaiknya aku mencarinya di restoran kemarin? Setauku, dia hanya makan di sana. Apa mungkin dia akan kembali lagi.
Argh! Nasyra ... Kau membuatku gila! Fano mengumpat dalam hati.
Setelah mengantar Putri kecilnya, Fano memilih untuk membanting setir menuju restoran tempat ia bertemu Nasyra kemarin.
Semoga kali ini aku bisa bertemu denganmu, Ra.
Mobil melesat membelah jalanan kota yang cukup padat. Beberapa menit kemudian ia memberhentikan mobilnya tepat di depan Orchid Resto. Ia segera turun dari mobil dan menemui seorang pelayan yang sedang sibuk mengantar makanan ke pengunjung restoran.
"Permisi," sapa Fano terhadap seorang lelaki yang membawa nampan.
"Iya, Pak, Bapak mau reservasi?"
"Oh, bukan. Saya hanya mau bertanya, apa Anda pernah melihat wanita di foto ini? Apa dia sering makan di reatoran ini?"
"Oh, itu Bu Nasyra, Pak. Beliau pemilik restoran ini," tukasnya.
"Apa? Pemilik? Benarkah?!" tanya Fano tak percaya.
"Iya, Pak. Maaf, ada perlu apa, ya?" jawab pelayan restoran, dan dilanjut dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Oh, tidak apa-apa. Besok saya ke sini lagi, sekarang saya buru-buru. Terima kasih atas informasinya." Fano berpamitan, dan tak lupa ia memberikan beberapa lembar uang berwarna merah dari sakunya.
Rara ... kamu seorang pemilik restoran mewah itu? Sungguh sulit di percaya, apa semua ini hasil jerih payahmu setelah menjauh dariku? Atau ... jangan-jangan ada seseorang di balik kesuksesanmu? Tunggu aku, Ra, besok aku akan menemuimu, setidaknya aku sudah mendapatkan informasi penting tentangmu.
...***...
Gaun elegan sudah di pilih dan ia letakkan di ranjang. Allena merasa badannya sudah lengket akibat kelelahan memilih gaun, pekerjaan itu cukup menguras tenaganya. Tanpa ia sadari, jam menunjukkan pukul 08.30, ia terkejut dan menarik nafas panjang sambil melotot memperhatikan jarum pendek di dinding itu.
Dia berlari secepat kilat menuju kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya. Kali ini, tak ada lagi ritual mandi sambil luluran. Ia seperti mengejar bom waktu yang hampir meledak. Di ambilnya handuk di gantungan untuk membalut tubuhnya yang polos setelah mandi.
Allena menyambar blouse berwarna cokelat dan celana jeans di lemarinya. Tetesan air dari rambutnya yang masih basah mulai membasahi lantai kamarnya, sambil mengeringkannya menggunakan handuk, ia sibuk mencari paper bag untuk memasukkan dress-nya, agar lebih mudah membawanya ke salon.
“Ya ampun! Kenapa jamnya cepat sekali berputar sih!” gerutu Allena, sesekali netranya terus melirik jam di dinding itu.
"Bi ...!" teriak Allena.
"Iya, Nyah," sahut Bu Wil.
“Bi, minta tolong lantai di kamar saya di pel, ya. Maaf sudah merepotkan,” pesan Allena pada Bu Wil, sambil tangannya asyik memakai high heels di bawah tangga.
“Iya, Nyah, nggak apa-apa, kan memang kerjaan saya Nyah.”
"Terima kasih, Bi. Saya mau pergi, ada acara sama Fano. Nanti, pukul sepuluh jangan lupa jemput Kania sama sopir, ya."
__ADS_1
"Baik, Nyah."
"Ya, sudah saya berangkat dulu, Bi. Jangan lupa kunci pintu sama pagarnya."
"Siap, Nyah!" jawab Bu Wil semangat.
Allena menuju mobil sambil menenteng paper bag berisi drees dan berangkat ke salon dengan sopirnya.
...***...
Wanita berwajah cantik itu semakin sempurna tatkala Make Up Artist di salon langganannya meriasnya dengan teliti. Sedikit pun hampir tak ada celah kekurangannya, matanya di pasangkan lensa berwarna abu, rambutnya yang panjang lurus terurai diubah menjadi bergelombang.
Gaun berwarna navy itu melekat sempurna di tubuhnya, ia sengaja memilih warna itu untuk menyesuaikan warna jas Fano agar sepada sebagai pasangannya.
Ia menatap cermin di depannya, memutar badannya seperti model sambil tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
"Perfect, Beib ...!" ucap pelayan salon.
"Thank's, Beib! I've to go, now!"
Bersambung...
Dukung author terus ya Kakak cantik, kakak ganteng..
__ADS_1
tekan tombol likenya.