
Nasyra termenung, pandangannya lurus pada pintu yang baru saja di masuki oleh Allena. Ia juga sangat berharap bisa masuk ke dalam sana agar bisa menemui Fano walau hanya sedetik.
Rama yang duduk di samping Nasyra hanya memainkan ponselnya, membalas setiap pesan yang masuk dari bawahannya ataupun dari rekan kerjanya. Ia terlihat bosan dan tampak sedang gusar, sesekali memperhatikan wajah Nasyra.
“Sayang, kamu nggak mau pulang?” tanya Rama.
“Sebenarnya aku ingin sekali menjenguk Kak Fano dulu Kak,” ujarnya dengan nada memelas.
“Coba nanti tanya sama Allena, boleh nggak jenguk Fano.”
“Iya, Kak.” Allena mengangguk tanda setuju.
Beberapa saat kemudian, Allena keluar dari ruang ICU itu dengan wajah yang tampak basah, matanya memerah akibat terlalu banyak menangis. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Wanita itu kemudian kembaki duduk di sebelah Nasyra.
“Allena Apa aku boleh menjenguk Kak Fano? Aku ingin melihatnya sebentar saja," tanya Nasyra, penuh dengan keraguan.
"Sebaiknya kamu pulang Nasyra, Fano tidak bisa diganggu, dia sedang istirahat, kasihan. Lebih baik besok kamu ke sini lagi."
"Baiklah kalau begitu."
Dengan terpaksa, Nasyra beranjak dari kursinya bersamaan dengan Rama. Tak lupa, Rama menelepon Pak Ki untuk menjemputnya. Kebetulan jarak rumah sakit dengan rumah Rama tidak begitu jauh. Jadi, begitu Rama dan Nasyra sudah sampai di pintu keluar depan, Pak Ki sudah siap menunggu di tempat parkir.
...****...
"Allena, biar paman yang jaga di sini, sebaiknya kamu pulang juga. Temani Kania, kasihan dia pasti mencarimu dan mencari Fano," ucap Pak Wijaya.
"Apa tidak apa-apa Paman di sini sendirian?"
"Nggak apa-apa, sudah sana pulang! Paman yang akan jaga Fano. Nanti kalau ada apa-apa Paman pasti langsung kabari kamu."
__ADS_1
"Sebenarnya Allena ingin di sini menemani Fano, Paman."
"Besok kamu bisa ke sini lagi Allena, percuma juga kan, sekarang Fano tidak bisa dijenguk, dia juga sedang istirahat."
"Baiklah, kalau begitu Allena pulang dulu ya, Paman. Besok pagi setelah antar Kania, aku langsung ke sini," pamit Allena.
"Iya, hati-hati di jalan."
Allena beranjak dan berjalan keluar sambil menelepon sopirnya untuk menjemputnya.
Pukul 22.00 ia sampai di rumah, Bi Wilda langsung membukakan pintu untuk majikannya begitu mendengar suara mobil datang.
"Nyonya baik-baik saja?" tanya Bi Wil saat melihat raut wajah Allena yang sedih.
"Fano kecelakaan Bi, seharian aku di rumah sakit nunggu dia," jelas Allena.
"Astaghfirullahaladzim, Ya Allah kok bisa, Nyah?! Lalu, bagaimana keadaan Tuan Fano sekarang?"
"Dia harus operasi karena mengalami pendarahan otak, Bi. Setelah operasi, dia malah koma. Aku nggak tahu bagaimana harus menjalani hidup tanpa Fano. Selama ini aku bergantung padanya."
Allena mengurai pelukannya, ia lalu mengusap air matanya. Bi Wil mengelus punggung Allena, ia merasa iba karena baru pertama kali majikannya itu putus asa. Padahal yang ia tahu selama ini, Allena adalah wanita yang kuat dan jarang sekali menangis, walaupun Fano tak menganggapnya ada sekalipun.
"Sabar ya, Nyah. Tuan pasti akan baik-baik saja, tidak perlu khawatir berlebihan, yang penting sekarang Tuan sudah ditangani oleh dokter dan kita terus berdoa semoga cepat sembuh dan cepat pulih kembali."
"Iya, Bi. Terima kasih. O iya, tadi Kania tidur jam berapa, Bi? Pasti dia nyariin aku sama Fano, ya?" tanya Allena.
"Kania tidur jam delapan, Nyah. Tadinya mau nungguin Nyonya pulang. Saya bilang lagi ada urusan sama Tuan," jawab Bi Wil, ia lalu berkata, "Nyah, makanan saya panasin, ya. Nyonya pasti belum makan," tawarnya."
"Nggak usah Bi, nggak laper. Saya mau mandi terus langsung tidur aja."
"Ya sudah kalau begitu, Nyah."
__ADS_1
Allena pun berjalan ke atas, menaiki tangga satu persatu dengan lemas. Ia perlahan membuka pintu kamarnya, dan berjalan ke tempat tidur untuk sekedar mencium buah hatinya yang sudah tertidur pulas itu.
Kemudian, ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Tetesan demi tetesan air yang mengguyur ke badannya ia nikmati agar semua lelahnya hilang.
Setelah ritual mandinya selesai, ia mengenakan bath robe keluar dari kamar mandinya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, ia ingin sekali masuk ke kamar Fano dan juga ruang kerjanya.
Ia berjalan ke kamar suaminya, dibukanya pintu itu dan langsung menuju ruang kerjanya, ia lalu membuka pintu satu lagi yang ada di dalam kamar itu. Allena mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang. Selama ini dia memang tidak pernah masuk ke ruang kerjanya karena Fano selalu melarangnya. Netranya fokus menatap beberapa foto yang menempel di dinding.
"Nasyra ...." Allena menarik napas panjang mencoba menguatkan hatinya.
"Beruntung sekali kamu Nasyra, Fano sebegitu besarnya mencintai kamu dengan tulus," gumam Allena menatap foto mereka tak berkedip.
Ternyata, ruang kerja Fano penuh dengan kenangan Nasyra, foto tersebut diambil saat di restoran lima tahun yang lalu. Berbagai kegiatan di dapur, berbagai ekspresi wajah Nasyra, bahkan foto mesra mereka juga menempel di sana, semua lengkap ada di dinding itu.
Alena mengambil satu foto Fano tanpa ada Nasyra di sana. Ia lalu membawanya ke tempat tidur. Ia menatap lekat wajah Fano di balik kaca berbingkai itu.
Sambil merebahkan tubuhnya, ia memeluk foto Fano, "Malam ini, izinkan aku tidur bersamamu, Fano."
Perlahan, ia memejamkan matanya, dengan rambut yang basah, Allena mulai tertidur pulas di ranjang Fano.
Bersambung ...
...Author mau ingetin ya,...
...👍💚🌷☕😁...
...Terima kasih...
...😘😘😘...
__ADS_1