Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Obrolan Menegangkan


__ADS_3

Rama memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang besi yang tinggi di rumahnya. Satpam yang berjaga dengan sigap membukakan gerbang saat mengetahui kedatangan tuannya.


Rama dan Nasyra segera naik ke kamar tanpa ada perbincangan sepatah kata pun. Mereka saling terdiam, Rama hanya merasa ia bersalah pada istrinya, karena pikirnya, ia seperti memberi peluang mamanya untuk menyakiti istrinya. Padahal Rama sama sekali tak tahu tabiat buruk ibu kandungnya itu.


Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama, Nasyra segera menaiki ranjang untuk membaringkan tubuhnya. Sejak tadi ia hanya terdiam, meskipun Rama mencoba mengajaknya bicara, ia tak begitu menanggapi dan menjawab seperlunya. Mungkin hatinya tengah lelah, batinnya tersiksa.


"Sayang, sini aku obati dulu pipinya. Masih sakit?" tanya Rama menghampiri Nasyra sambil memegang krim ditangannya. Ia ingin mengoles bekas tamparan di pipi Nasyra yang dilayangkan mamanya tadi.


"Nggak usah, Kak. Udah nggak apa-apa kok, aku mau langsung tidur aja," jawab Nasyra seperti mengabaikan.


Rama pun akhirnya tak mau memaksa, ia kemudian menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu ia menaiki ranjang menyusul Nasyra, ingin sekali rasanya Rama memluk sang istri. Akan tetapi, Nasyra seperti mengabaikannya, ia hanya butuh ketenangan saat ini.


“Sayang, sudah ya ... jangan sedih lagi,” ujar Rama sambil menyingkirkan anak rambut Nasyra yang menutupi wajah cantiknya.


Lelaki itu mengusap lembut lengan istrinya yang sedang di posisi meringkuk membelakanginya. Sebenarnya, Nasyra juga merasa kasihan pada suaminya yang sejak tadi ia diamkan. Padahal kalau dipikir-pikir, Rama sama sekali tidak salah, dia hanya tak tahu apa yang terjadi sebenarnya antara istri dan mamanya.


Akhirnya Nasyra membalikkan tubuhnya ke arah Rama, ia memandang lekat wajah suaminya itu, lalu berkata, “Kak, maafkan aku, aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk Kak Rama.” Wajah sayu itu membuat Rama merasa iba, Rama lalu mencium kening istrinya dan mengusap lembut pucuk rambutnya.


“Sayang, kamu adalah istri yang sempurna untukku. Bahkan jika Tuhan tak memberikan kita anak sekali pun, aku masih akan tetap berada di sampingmu. Memiliki kamu adalah anugerah terindah dihidupku, jadi jangan pernah berpikir macam-macam, ya." Rama menenangkan Nasyra, ia tahu saat ini hati istrinya sedang tak karuan.


 


"Terima kasih, Kak. Tapi sebagai seorang istri mana mungkin aku tidak kepikiran soal anak, bagiku mempunyai anak adalah syarat utama. Rasanya belum sempurna jika seorang wanita belum melahirkan janin dari rahimnya, Kak."

__ADS_1


"Sayang, jangan pikirkan itu dulu. Sebaiknya kita istirahat, ya." Rama mencium kening Nasyra. Ia lalu membenarkan posisi tidurnya di sebelah istrinya itu.


Tiba-tiba Nasyra teringat akan suatu hal yang mengganjal di pikirannya.


“Kak, Dokter Mirna apa belum kasih kabar soal hasil lab-nya?” tanya Nasyra, ia teringat akan program hamilnya. "Sudah hampir seminggu lebih hasil cek itu belum keluar juga."


Rama terkejut mendengar pertanyaan dari istrinya itu, ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, ia seolah merangkai jawaban yang tepat di kepalanya.


Bagaimana ini, padahal aku tidak ingin Nasyra tahu akan hasilnya sekarang. Aku tidak tega, jika aku bilang sekarang, pasti dia akan sedih dan murung saat tahu hasil cek lab dari rumah sakit itu, batin Rama.


Satu minggu yang lalu, Rama dan Nasyra menjalani program hamil ke dr. Mirna Sp.OG (dokter spesialis kandungan) mereka melakukan rangkaian pemeriksaan awal untuk mengetahui kesehataan keduanya.


"Hasilnya belum keluar, Sayang. Besok biar aku tanyakan lagi, ya. Sekarang, sebaiknya kita tidur," jawab Rama berusaha menghilangkan rasa gugupnya.


Flash Back


Saat itu, setelah Rama dan Nasyra pergi ke rumah sakit. Keesokan harinya Rama mendatangi Dokter Mirna lagi untuk mengambil hasil tes, tetapi betapa terkejutnya Rama saat mengetahui hasil surat tersebut. Detak jantungnya mulai memompa cepat. Hasil itu sangat mencengangkan, dia tak menyangka jika istrinyalah yang mengalami gangguan hormonal selama ini, sedangkan Rama dinyatakan sehat.


...****...


Rama menyimpan lembaran kertas dari dokter itu di kantornya, ia selalu memikirkan kapan waktu yang tepat untuk bicara pada istrinya mengenai hal itu. Namun, lagi-lagi Rama tak kuasa, ia tak siap jika istrinya akan mengalami kesedihan yang berlarut, karena Nasyra type wanita yang pemikir. Padahal kondisi kesehatan itu harus segera ditangani agar tak semakin parah.


Bersambung...

__ADS_1


... Hay, reader baik...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2