
Kurang lebih satu jam Nasyra berbincang dengan Allena, dia memutuskan untuk berpamitan karena ia harus pergi ke restorannya. Sejak kemarin Fano kecelakaan, Nasyra belum lagi menginjakkan kakinya di tempat yang paling ia banggakan saat ini.
Ya, restorannyalah yang selama ini menjadi hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Ia bisa menuangkan hobi memasaknya, ia bisa bertemu dengan berbagai orang, apa lagi jika bertemu dengan pelanggan yang puas dengan masakannya. Itu merupakan hadiah yang menggembirakan baginya.
Nasyra melihat arloji di tangannya. Ah sepertinya aku harus pergi sekarang, sebentar lagi jam makan siang, pasti restoran akan ramai konsumen, batinnya.
“Allena, maaf sepertinya saya harus pergi.” Nasyra berpamitan pada Allena.
“Kenapa buru-buru sekali?”
“Aku harus ke restoran karena sejak kemarin aku belum ke sana. Sebentar lagi jam makan siang, jadi aku ingin membantu mereka,” tutur Nasyra sambil mengambil tasnya yang sedari tadi tergeletak di kursi itu.
“Ya sudah, kamu hati-hati di jalan, ya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjenguk Fano,” ucap Allena, ia ikut berdiri mengimbangi Nasyra yang hendak berjalan. Tanpa canggung lagi, mereka sudah cipika-cipiki layaknya seorang teman yang sudah akrab.
Nyatanya, Nasyra dan Allena memang bisa berdamai dengan keadaan, apalagi dengan Allena yang sama sekali tidak membenci Nasyra. Padahal seharusnya, seorang istri mana pun pasti akan cemburu jika suaminya berdekatan dengan wanita lain.
Orched Restoran
Nasyra mengayunkan langkah kakinya begitu tiba di depan restoran yang diantar oleh sopirnya. Dengan wajah berseri, ia mulai menyapa satu persatu karyawan yang sedang bekerja, senyum ramahnya membuat para pekerja semakin menyukai bosnya. Nasyra adalah bos yang sangat penyabar, ia tidak pernah sekali pun memarahi karyawannya walau ia salah sekali pun. Ia hanya menasihati dan memberikan contoh yang benar.
“Selamat siang, Bu Bos!” sapa seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Nasyra, dia adalah sahabat Nasyra yang juga menjabat sebagai manajer di restoran itu.
“Siang, Felly!” sahut Nasyra dengan senyum tipisnya.
“Eh bentar deh, itu mata kamu kenapa merah?” tegur Felly sambil mengamati wajah Nasyra tampak seperti habis menangis.
__ADS_1
“Ah, tadi kelilipan di luar, sudah lupakan! Gimana restoran kemarin ? Apa baik-baik. Saja?” Nasyra duduk di sofa ruang santainya yang terletak tak jauh dari meja kasir.
“Iya dong! Tenang aja, serahin semuanya ke gue!”jawab Felly dengan penuh semangat sambil menepuk dadanya bangga.
“Apa sekarang kamu lagi sibuk, Fel?”
“Udah nggak kok, kan bentar lagi makan siang. Kenapa? Mau traktir?”
“Aku pingin cerita,” jawab Nasyra singkat.
“Cerita apa sih? Bikin penasaran deh!” Felly mendudukkan badannya di sebelah Nasyra.
"Nanti aja ceritanya, sekarang aku mau ke dapur. Aku mau bantu-bantu masak." Nasyra berdiri dan berlenggok berjalan menuju dapur, meninggalkan sahabatnya yang berambut pendek ikal itu.
"Woy! Malah pergi sih, tadi katanya mau cerita."
Jam makan siang di restoran Nasyra cukup padat, banyak konsumen yang berdatangan di sana. Namun, tak sedikit pun para karyawan kualahan untuk melayani pelanggan.
Pukul 14.00, Nasyra melepas celemeknya. Ia terlihat lelah, keringatnya bercucuran di anak rambutnya. Ia sesekali mengusap keringatnya dengan punggung tangannya.
Nasyra beristirahat sejenak, merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang empuk, cukup membuat badannya rileks. Meskipun Nasyra seorang bos, ia bukanlah tipe pemalas, bahkan sebisa mungkin ia ingin selalu turun tangan langsung melayani pelanggannya.
"Nih, gue buatin jus mangga, seger deh!" Felly masuk ke ruangan Nasyra sambil membawa nampan yang berisi satu gelas jus mangga.
Nasyra beringsut, membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Ah, makasih say, tahu aja kalau aku lagi haus!" Nasyra langsung menerima dan menghisap jus mangga itu sampai setengah gelas.
"Buset! Haus, Neng?! Pelan-pelan minumnya, gue ga bakal minta kok," celoteh Felly saat menatap heran Nasyra yang minum dengan rakus.
"Dah, sekarang cepetan! Tadi mau cerita apa?" tanya Felly penasaran.
"Oh, jadi kamu buatin aku jus buat nyogok aku supaya jadi cerita?!" seru Nasyra, padahal dia sudah tidak berselera untum mengobrol, ia merasa sangat kelelahan.
"Lah tadi, kan lo yang ngomong sendiri mau cerita, gue cuma ngingetin."
"Udah males, napas udah habis. Besok ajalah!" tukas Nasyra, ia kembali merebahkan tubuhnya sejenak.
"Yaudah, gue mau balik kerja. Bye!" Tanpa ada jawaban dari Nasyra, Felly pergi meninggalkan sahabatnya itu.
Sore hari, hiruk pikuk kota begitu ramai. Kendaraan yang padat memenuhi jalan raya yang di lewati Rama saat ini. Ia harus lebih bersabar untuk mengemudi sendiri tanpa sopir, karena Pak Ki harus menemani Nasyra ke restoran. Kemacetan yang selalu terjadi saat jam pulang kantor sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun, Rama terus menggerutu tak karuan di dalam mobil.
Setelah seharian ia bekerja, ia tak sabar ingin cepat pulang dan bertemu istri tercintanya. Baginya, menahan rindu tak bertemu selama delapan jam cukup membuatnya menggebu-gebu ingin menemui istrinya.
Kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya ia sampai di depan rumah. Nasyra yang selalu menunggu kepulangan suaminya, ia langsung menuruni tangga ketika mendengar suara mobil Rama tiba. Dengan sigap ia menyambut suaminya itu. Bahkan asisten rumah tangganya tak pernah membukakan pintu sama sekali. Nasyra hanya berperan semaksimal mungkin sebagai seorang istri.
Bersambung...
...Lanjut besok lahi guys, capek ngetik😁...
...Jangan lupa dukungannya ya......
__ADS_1
...👍☕🌷💚🌟...