
Waktu bergulir begitu cepat, pagi hari disambut dengan teriknya matahari dari ufuk timur, menembus di setiap jendela rumah Fano yang berbahan kaca.
Allena tergolek di atas ranjang bersama Kania, ia membuka matanya dan melihat ke arah jam yang menempel di kamar itu, pukul 05.30. Ia menguap dan mengerjapkan mata, mengumpulkan kesadarannya. Meregangkan otot sejenak setelah terbangun dari tidurnya.
Pagi ini ia bangun lebih awal, karena hari ini adalah hari bahagianya. Ia begitu antusias untuk menyiapkan dirinya. Ajakan Fano semalam membuat suasana hatinya sangat baik. Namun tak lupa, ia harus memasak terlebih dahulu. Juga menyiapkan keperluan Kania untuk sekolah. Ya, anak kecil itu sekarang sudah berumur enam tahun dan sedang menuntut ilmu di TK Kasih Bunda.
Selama ini, Allena memang selalu tidur dengan Kania. Sekali pun, Fano tak pernah mengizinkannya untuk tidur bersamanya. Hubungan suami istri antara mereka hanya sebuah status agar tidak dipandang sebelah mata oleh rekan bisnisnya.
Allena berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggodok gigi. Setelahnya, ia bergegas ke dapur, membuatkan nasi goreng untuk sarapan anak dan suaminya.
Ia mulai mengiris bawang, keahliannya dalam memasak kini semakin bertambah. Setiap harinya ia terus belajar dengan Bu Wil, asisten rumah tangganya itu. Akan tetapi, ia juga sering mengikuti kelas memasak, agar suatu saat nanti, Fano bisa bangga dan jatuh cinta padanya. Ya, itulah tujuan utamanya.
"Bi, coba cicip deh! Kurang apa, ya?" tanya Allena pada Bu Wil, ia menyodorkan sendok yang berisi nasi goreng.
"Sudah enak, Nyah."
"Syukurlah. Bi, bisa tolong kupasin mangga? Nanti biar aku yang buat jusnya. Aku harus naik dulu, waktunya Kania mandi, Bi. Fano pasti juga belum bangun."
"Iya, Nyah. Nanti saya kupasin."
Allena melepas celemek yang menggantung di lehernya. Ia lalu bergegas ke kamar Kania untuk membangunkan gadis kecilnya.
"Sayang, anak Mama ... bangun, yuk!" Allena mencium pipi Kania dan membelai pucuk kepalanya lembut.
"Kania masih ngantuk, Ma. Boleh nggak, Kania libur aja sekolahnya?" tanya Gadis kecil itu sambil menarik selimutnya lagi, menutup rapat tubuh mungilnya.
__ADS_1
"Anak Mama harus rajin dong, harus pinter. Jadi, Kania harus sekolah, ya, Nak," bujuk Allena tersenyum. Lagi-lagi ia mendaratkan ciuman gemas ke putri kecilnya itu.
"Yah ... padahal Kania masih ngantuk," gerutu Kania dengan raut wajah cemberut.
...****...
Kania sudah rapi dengan seragamnya, ia berjalan menuruni tangga, sedangkan Allena menuju kamar Fano untuk membangunkannya juga. Pintu di ketuk olehnya, setelah tiga kali ketukan, masih belum ada jawaban dari dalam, ia lalu langsung membukanya. Allena perlahan berjalan ke arah ranjang Fano, ia menepuk bahu Fano agar ia terbangun.
"Fano, sayang ... bangun! Sudah jam tujuh."
"Hmm ... ya." Fano menggeliat, ia segera membuka matanya.
Allena kemudian membuka jendela kamar Fano agar udara pagi masuk ke dalam ruangannya itu. Dengan langkah pasti, ia segera menyiapkan baju yang akan di pakai Fano ke restoran.
Setelan jas berwarna navy akan membuatnya terlihat lebih gagah. Mengingat, hari ini ia akan datang ke acara g**rand opening bersamanya.
Ia begitu ceria melihat papanya menuruni tangga, karena ia memang jarang bertemu dengan Fano. Hampir setiap hari Fano pergi pagi dan pulang malam saat Kania sudah tertidur. Hubungan antara keduanya memang layaknya seorang anak dan ayah pada umumnya. Fano sudah menerima kehadiran Kania sejak beberapa tahun lalu, ia menyayangi seperti anaknya sendiri.
"Pagi, anak manis!" Fano mencium pucuk kepala Kania.
Allena yang duduk di samping Kania pun, tersenyum bahagia melihat suami dan anaknya begitu akrab.
"Makan yang banyak, ya. Habis itu Papa antar ke sekolah."
"Hore! Aku diantar Papa!" seru Kania saat mendegar kalimat dari Fano.
__ADS_1
Biasanya memang Allena yang mengantar jemput Kania ke sekolah, tapi kali ini Fano sengaja mengantarnya agar Allena bisa menyiapkan dirinya untuk nanti siang.
"Sayang, kamu beneran mau antar Kania? Tumben," tegur Allena.
"Kamu boleh ke salon hari ini, nanti jam 11.00 aku jemput kamu di salon biasanya."
"Ah ... aku sangat bahagia hari ini. Terima kasih sayang," ujar Allena sambil berjalan ke kursi Fano. Ia mengelus pundak lelaki itu dan mencium pipinya.
"Jangan berlebihan," aku hanya menyuruhmu untuk tampil berbeda agar tidak memalukan nantinya.
"Tenang saja, sayang. Aku tidak akan mengecewakanmu." Lagi-lagi Allena merasa hatinya berbunga-bunga, ia semakin bersemangat untuk mempersiapkan dirinya.
Fano pun pergi Mengantar ke sekolah Kania terlebih dahulu sebelum ia menuju restoran.
Sementara itu, Allena berlari menuju kamarnya. Ia tampak semangat mencari gaun yang akan dipakainya nanti, di acara Grand Opening di kafe milik teman Fano.
"Aduh, pakai yang mana, ya? Bingung banget, semuanya bagus. Sudah lama aku tidak memakai gaun ini," gumamnya. Ia menimbang-nimbang gaun di tangannya yang ia keluarkan dari lemari.
"Apa aku harus pakai yang ini? Tapi terlalu seksi, Fano pasti tidak menyukainya." Allena menempelkan gaun berwarna silver yang terbelah bagian paha, bagian punggungnya terbuka, seperti sundel bolong.
"Atau yang ini aja deh." Ia terus berbicara sendiri di depan cermin sambil menempelkan satu persatu gaun ke tubuhnya.
Bersambung ....
Masih semangat baca g guys?? tolong tinggalkan jejaknya ya, author butuh penyemangat nih.
__ADS_1
Komen, Like di bawah ya.Vote sama Hadiah juga diharapkan banget😍😍😍
TERIMA KASIH, sudah mampir😘