Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Jus Mangga


__ADS_3

"Tanya apa, Sayang?"


"Apa ... Kak Rama masih masih marah sama aku?"


"Kalau marah, kenapa sekarang aku menggangdengmu. Kenapa juga tadi aku memelukmu? Itu pertanyaan yang aneh Sayang." Rama mengacak halus pucuk kepala Nasyra. Wanita itu pun tersenyum kecil.


Begitu beruntungnya Nasyra mendapatkan lelaki sesabar Rama. Memafkan seorang istri dari kesalahan yang telah menyakitinya adalah sesuatu kebenaran. Seberapa besar luka, akan mudah tertutup jika ternyata bukan kebencian yang menyelimutinya. Namun, cintalah yang telah membuat segalanya menjadi mudah.


Di dalam mobil yang dikemudikan sopirnya, Nasyra dan Rama duduk di belakang tampak saling memandang layaknya dua insan yang jatuh cinta kembali. Meski, tak dapat ditebak dan tak bisa diketahui, bagaimana perasaan Nasyra sesungguhnya. Nasyra menyenderkan kepalanya ke bahu Rama, sesekali dia mendongak ke atas, melihat wajah suaminya.


"Kenapa dari tadi senyum-senyum begitu?" Rama menjentikkan telunjuknya tepat di hidung mungil Nasyra. Wanita itu hanya menggeleng dan tak menjawab. Hanya ukiran senyum yang tergambar di bibir manisnya.


Kendaraan yang tak begitu padat melancarkan perjalanan mereka untuk lebih cepat sampai di rumah. Rama sejak tadi tak melepas genggaman tangannya pada Nasyra. Sesekali dia mencium punggung tangan halus itu.


"Kak, sudah ... jangan terus menciumi tanganku, sudah berapa kali coba." Nasyra terkekeh mendapati perlakuan Rama.


"Ini tangan istriku, aku mempunyai hak untuk walau hanya sekedar menciumnya."


Rama pun mencium kening Nasyra, tampaknya lelaki itu seperti merasakan jatuh cinta kedua kalinya. Ditambah lagi, Nasyra yang terlihat sangat manja tak seperti biasanya, semakin membuat Rama tak sabar untuk sampai ke rumah.


Hanya memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit, mobil sampai di kediaman Rama. Keduanya turun lalu berjalan beriringan, sedangkan Pak Ki mengeluarkan barang-barang yang ada di bagasi dan membawanya masuk.


Tangan Rama masih setia melingkar di pinggang Nasyra. Bahkan, hingga naik ke tangga pjn Rama enggan melepasnya.


"Kak, bisa aku jalan sendiri saja? Nanti jatuh loh!" tegur Nasyra yang mulai tak nyaman karena risih.


"Ah, baiklah, maafkan aku. Aku hanya merindukanmu, rasanya seperti sudah lama aku tidak bertemu denganmu, Sayang."


"Kak Rama kenapa mendadak lebay sih!" Nasyra tertawa saat dia berjalan mendahului Rama, berjalan menaiki tangga satu per satu.

__ADS_1


"Entahlah, hati dan pikirankulah yang menuntunnya," jawab Rama dengan suara lirihnya.


Sesampainya di kamar, Nasyra mendekati Rama yang tengah melepas jasnya. Tangan lembut wanita itu seketika terulur saatberdiri tepat di depan Rama. Dia berniat membantu melepaskan dasi yang menggantung di leher suaminya.


Saat Nasyra berhasil melepas dasi itu, dia membalikkan badan sambil membawa jas dan dasi yang sudah ada di tangannya. Namun, dengan tiba-tiba, Rama memeluknya Nasyra dari belakang sangat erat. Dia melingkarkan tangannya ke perut Nasyra dan menumpukan dagunya ke bahu Nasyra.


Nasyra yang mendapat perlakuan yang begitu mendadak, dia sangat terkejut. "Kak, kenapa tiba-tiba mendekapku begitu sih, kaget tau!"


"Aku sangat merindukanmu, Sayang. Apa kau juga punya rasa rindu untukku?"


"Kenapa tanyanya begitu, sudah pasti aku juga merindukanmu, Kak. Apa Kak Rama masih ragu denganku?" tanya Nasyra, dia menengok ke samping kanan di mana ada wajah Rama di sana. Tatapn keduanya tak berjarak, membuat Rama semakin membara menahan hasrat kelakiannya.


"Simpan itu dulu, Sayang." Rama melepas pelukannya dan memerintahkan Nasyra untuk menyimpan jas serta dasinya. "Aku mau ke kamar mandi dulu sekalian ganti baju."


Rama pun melangkahkan kakinya, meninggalkan Nasyra. Begitu juga dengan Nasyra, dia gegas menyimpan jas dan dasi di tempat kotor, lalu dia hendak membuka pintu berniat keluar kamar. Namun, mata Rama menangkapnya.


"Mau ke mana?" tanya Rama seolah takut Nasyra pergi.


"Jangan lama-lama!" teriak Rama saat hendak menutup pintu kamar mandi.


Nasyra tengah di dapur mengupas buah mangga untuk di jus setelahnya. Wanita itu begitu telaten menyiapkan segala keperluan Rama. Jika dia bisa melakukannya sendiri, dia tidak akan menyuruh para asisten rumah tangga untuk membantunya. Apalagi jika itu menyangkut keperluan suaminya.


Beberapa saat kemudian, dia selesai menyiapkan jus mangga untuk Rama dan beberapa potong kue kesukaan Rama yang sudah diletakkan di atas nampan.


Dia pun berjalan ke atas dengan keahliannya memangku nampan dengan satu tangan ala pelayan profesional. Begitu sampai di ambang pintu kamar, dia membukanya, dan melihat Rama sudah berada di ranjang, menyenderkan tubuhnya yang cukup lelah.


Nasyra meletakkan nampan itu di nakas samping ranjang, tepat di dekat Rama.


"Ini minum dulu, Kak." Nasyra menyodorkan gelas ke suaminya. Namun, tak sengaja gelas itu tersenggol tangan Rama yang hendak menerimanya. Alhasil, jus itu tumpah sedikit di kaus Rama yang berwarna putih polos.

__ADS_1


"Yah ... Kak Rama sih, nggak hati-hati!" pekik Nasyra, dia meletakkan lagi jusnya dan mengambil tisu, mengelap jus yang masih basah tepat di dada Rama. Lelaki itu malah tertawa melihat ekspresi Nasyra yang menyalahkannya karena ceroboh dan tidak hati-hati.


"Ha ha ha ... Sayang, kamu manis sekali kalau cemberut begitu." Rama lalu mengambil jusn itu lagi dan meminumnya, tetapi entah kenapa, sepertinya Rama mulai suka bermain-main. Dia sengaja menumpahkan jusnya lagi saat minum.


"Kak!" teriak Nasyra dengan tatapannya yang sedikit emosi, tetapi tak mengurangi ekspresi imutnya saat memonyongkan bibir.


"Aduh! Basah, Sayang." Rama sengaja menahan tawanya sambil melihat kausnya yang sudah menguning akibat jus mangga.


"Kak, itu nanti susah hilangnya. Kenapa sih main-main kaya anak kecil?" sungut Nasyra. Rama lalu menangkupkan kedua tangannya ke pipi Nasyra, lalu mencium kening wanita itu.


"Maaf," ucap Rama singkat, bibirnya masih terangkat, tersenyum menggoda.


"Ganti bajunya, biar aku hilangin dulu nodanya," kesal Nasyra. Dia sudah seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya.


Rama pun dengan pasrah melepas kausnya dan memberikannya pada Nasyra. "Terus aja ngambek, Sayang. Aku semakin suka." Rama malah menggoda Nasyra yang tengah berjalan kesal menuju kamar mandi. Wanita itu membilas bekas noda jus mangga dari kaus Rama di wastafel sambil menggerutu.


Rama yang sedang bertelanjang dada pun mulai kedinginan karena suhu ruang yang sengaja dia dinginkan. "Sayang, mana kausnya? Aku sudah mulai menggigil ini!" teriak Rama karena Nasyra begitu lama di kamar mandi.


"Iya sebentar, ini sudah selesai!" sahut Nasyra.


Tak lama, dia kembali menghampiri Rama membawa kaus baru dan memberikannya pada Rama. Namun, bukannya segera dipakai, Rama malah menarik tangan Nasyra yang masih berdiri di samping Ranjang, sehingga wanita itu tak ada kesempatan menjaga keseimbangannya. Dia terjatuh tepat di tubuh Rama yang tengah duduk berselonjor kaki.


"Auw, Kak!" pekik Nasyra karena terjerembab.


Layaknya seorang ikan yang mendapatkan umpannya, Rama langsung menangkap tubuh Nasyra dengan sigap.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2