Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Apa Kau Bisa Pegang Ucapanmu?


__ADS_3

Pemandangan alam yang begitu luas terlihat dari balkon rumah sakit. Manik hitam nampak sayu tak lelah menatap awan biru yang, dihiasi berbagai gambar gedung tinggi di sana.


Allena masih tak bosan melihat lukisan alam tersebut. Sebenarnya hatinya kini memang sedang gundah, pikirannya juga tak bisa berhenti memikirkan Fano.


Menunggu dan terus berharap agar suami terkasihnya sembuh bukanlah hal yang mudah untuk Allena. Ia memang ikhlas dan sangat telaten mengurus Fano, tetapi beban pilu seolah terus menggerogoti saat ia memandang wajah lelaki itu. Hatinya kian tak sanggup. Rasa kasihan dan tak tega selalu membuatnya sesak ketika di dalam ruangan penuh alat itu.


Apalagi, Pak Wijaya, paman dari Fano tak bisa selalu menggantikan Allena untuk berjaga, karena ia juga harus mengurus restoran yang hampir turun omset sejak Fano terbaring.


Sesekali Allena menghapus air yang keluar dari mata indahnya itu. Mencoba tegar walau tak ada tempat untuk mengadu. Mencoba kuat walau tak ada yang merangkul. Ia hanya butuh seseorang yang bisa menyemangatinya. Allena merasa, saat ini ia hanya sendiri dan tak ada yang mendukungnya untuk terus berjuang demi kesembuhan Fano.


"Allena, apa dokter tidak menyampaikan apa pun soal Kak Fano? Aku sangat kasihan melihatnya," tanya Nasyra pada Allena setelah keluar dari ruang ICU.


"Ah, apa, Ra?" Allena terkejut dengan kehadiran Nasyra yang tiba-tiba.


"Kamu menangis?" Nasyra memperhatikan wajah dan mata Allena yang basah.


"Nggak apa-apa kok, aku hanya ...." Allena tak meneruskan ucapannya. Ia bingung hafus berkata apa.


"Allena, kita duduk di sana, yuk!" ajak Nasyra, ia merangkul lengan Allena.


"Kamu bisa cerita apa pun padaku, anggap aku temanmu. Ya, meskipun kita belum lama berkenalan."

__ADS_1


"Aku lelah, apa aku akan sanggup bertahan. Aku nggak tahu kapan Fano akan sadar. Aku juga tidak tahu sampai kapan aku mampu berjuang sendirian."


"Allena, jangn berbicara seperti itu. Jangan putus asa, aku akan ada menemanimu. Mendoakan Kak Fano agar segera cepat pulih."


"Terima kasih. Tapi aku sebenarnya masih penasaran. Kalau boleh jujur, aku sempat takut saat kamu muncul kembali si kehidupan Fano," ungkap Allena dengan tarikan napas panjang.


"Maksud kamu?"


"Aku sangat mencintai Fano, Ra. Dan kehadiranmu ... aku takut kamu akan merebutnya dariku," jelasnya lirih.


"Al, itu tidak akan mungkin terjadi. Kamu lihat 'kan, sekarang statusku sebagai istri Kak Rama. Mana mungkin aku akan menginginkan lelaki lain?!" sahut Nasyra, ia menatap lekat ke arah Allena yang sempat berpikiran buruk tentangnya. Walaupun ia sadar, perasaan itu masih ada di hati Nasyra untuk Fano.


"Lalu, jika suatu saat nanti Fano sadar. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku harap, kamu bisa pegang ucapanmu, Ra." Allena berucap tanpa melihat Nasyra. Fokusnya hanya memandang kosong ke depan.


"Tentu saja."


Ada semburat kesedihan dari raut wajah Nasyra, seolah ia tak bisa memegang ucapannya kelak saat Fano kembali sehat.


***

__ADS_1


Suasana rumah sakit terlihat ramai saat jam makan siang. Begitu juga di sepanjang koridor terbuka di lantai dasar yang juga ramai penghuni. Setiap sisi koridor itu terdapat berbagai tanaman dan rumput hias nan hijau. Membuat setiap orang yang melewatinya sejenak ingin duduk di sekitar sana untuk sekadar menyegarkan pikiran.


Tak hanya perawat yang menikmati istirahat siangnya dengan berduduk santai, tetapi juga banyak para pengunjung yang istirahat di sana setelah lelah menjaga pasien yang rawat inap.


Nasyra mengayunkan langkahnya melewati sepanjang koridor untuk menuju halaman depan, tempat untuk penjemputan, keluar masuk mobil.


"Halo, Pak Ki sudah di depan? Kalau sudah, saya keluar sekarang," ucap Nasyra pada sambungan telepon yang terhubung pada Pak Ki. Ia masih berada di dalam gedung rumah sakit itu.


"Iy, Nyonya. Saya sudah di depan sekarang," jawab Pak Ki sambil mengarahkan kemudinya untuk mengarahkan mobilnya ke area drop out.


Nasyra memprcepat langkahnya agar segera sampai ke depan.


Tanpa menunggu lama, Pak Ki datang dengan tepat. Nasyra pun langsung memasuki mobilnya.


"Pak, kita ke restoran, ya. Sudah lama sekali aku tidak ke sana, kangen juga rasanya," ujar Nasyra.


Ia membenarkan rambut dan baju yang sedikit berantakan. Mengatur posisi duduknya agar nyaman. Atas perintah Rama, Nasyra tidak dbiarkan untuk mengemudi sendiri walaupun ia bisa. Apalagi dia baru sembuh dari operasi pengangkatan kistanya. Itu membuat perhatian Rama semakin besar padanya.


.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa beri dukungannya ya teman-teman.


Like, Komen,


__ADS_2