Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Kecemburuan Fano


__ADS_3

"Sayang, kemarilah!" perintah Rama pada Nasyra yang masih duduk di kejauhan.


"Ah, iya." Nasyra pun berjalan mendekat, dia berusaha bersikap sangat normal.


Sejurus kemudian, dia menyapa Fano. Nasyra mengulurkan tangannya mengajak bersalaman lelaki itu. "Hai, Kak. Apa kabar?"


Tangan Nasyra disambut langsung oleh Fano, lelaki itu pun menjawab, "Aku baik, Rara. Kamu gimana?" Dia kembali bertanya. Suaranya berat seakan penuh makna. Fano rindu akan kecantikan Allena dan kelembutan wanita yang saat ini di depannya.


Saat dua tangan bertaut, saat rasa mulai kembali, kenangan masa lalu mengalir dalam relung, bergejolak memacu jantung dua insan yang pernah menyatukan cinta. Ada getaran hebat yang begitu terasa nyata. Mampu terlihat oleh mata kasar saat keduanya saling menatap.


"Sangat baik, Kak." Nasyra kemudian terkesiap, dia langsung melepas tangannya yang masih berada dalam genggaman Fano.


Wanita itu lalu duduk di dekat Rama. Ketiga orang tersebut hanya terdiam dan saling tatap, tetapi Nasyra dengan cepat menunduk. Menghindari pandangan yang tak seharusnya. Dia juga takut jika Rama akan berpikiran macam-macam.


"Ayo, kita makan! Aku udah siapin makanan banyak banget." Suara Allena sejenak memecah keheningan di antara mereka yang terdiam beberapa detik.

__ADS_1


"Ah, iya. Mari ke ruang makan!" ajak Fano, dia berusaha memutar kursi rodanya. Namun, dengan cepat Rama yang berada di dekatnya langsung berdiri dan membantu mendorong Fano.


"Terima kasih."


Mereka berempat pun menuju ruang makan dan memulai acara makan malamnya. Nasyra diperlakukan sangat baik oleh Rama, begitu juga dengan Allena yang melayani Fano dengan sabar.


"Kalian jangan sungkan-sungkan, ya, makan sepuas yang kalian mau. Habiskan! Tidak masalah, justru kita sangat senang. Kan, memang sengaja masak untuk kalian," tutur Allena sembari mengulas tawa ramahnya.


"Terima kasih, Al." Nasyra mengangguk, dia selalu tak banyak bicara jika. Itu karena dirinya tengah canggung dengan suasana seperti sekarang. Terpojok di antara suami dan mantan kekasih.


Saat Nasyra hendak mengambil makanan, Rama dengan sigap melayaninya. Fano terus memperhatikan Nasyra sehingga wanitu itu tampak tak enak hati.


"Mau ambil ini, Sayang?" tanya Rama sambil meraih daging paprika yang letaknya dekat dengan dirinya.


"Boleh," jawab Nasyra singkat sambil mengangguk.

__ADS_1


Sementara itu, Allena mengambilkan nasi dan beberapa lauk yang ada di meja makan untuk Fano. Terima kasih."


Fano melihat kemesraan Nasyra dan Rama, ada rasa cemburu yang menyelimutinya. Hati lelaki itu terasa panas. Namun, dia tak.ada hak untuk itu. Lelaki itu hanya bisa terdiam.


Selang beberapa waktu, ketika selesai dengan jamuan makan malamnya. Mereka mengobrol dan membahas segala topik. Mulai dari bercerita tentang penyakit Fano, juga kehidupan bahagia mereka setelah Fano sembuh. Begitu juga dengan Rama, dia tak lupa berbagi kebahagiaan, menceritakan kehamilan Nasyra.


Akan tetapi, saat Rama bercerita pasal kehamilan Nasyra, Fano seperti tidak suka dan seketika berpikir. Fokusnya buyar, begitu banyak hal yang kini menjadi tanda tanya dalam hati dan pikirannya.


*Ra*ra, kamu sudah hamil dengan Rama, apa itu artinya ... kamu sudah sepenuhnya mencintai suamimu itu? Apa sedikit pun aku tidak pernah terlihat olehmu? Rasa itu masih ada, Ra. Jika Tuhan mengizinkan, aku ingin sekali menghabiskan waktu dan hidupku hanya denganmu. Tapi, sepertinya itu hanya mustahil. Semoga kamu akan terus bahagia walau aku tidak pernah ada kesempatan untuk membahahiakanmu.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2