
Hari itu juga Rama bergegas mengemas beberapa pakaiannya yang tersimpan di lemari kantornya. Sengaja ia menyimpan pakaian gantinya di kantor untuk incase jika ada hal yang urgent seperti sekarang.
Dia pergi ke Singapura seorang diri dengan perasaan tak menentu. Perusahaan yang bermasalah ditambah rasa cemburu karena istrinya masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya.
Sepanjang perjalanan Rama terus berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan perusahaan. Dia menatap awan melalui jendela pesawat di sebelahnya, manik coklat itu berkabut dikala tidak ada bahu untuk bersandar. Ingin sekali rasanya memejamkan mata sejenak guna menjernihkan otak yang sedang kacau.
Beberapa saat kemudian, pesawat mendarat di Changi Airport Singapura. Terlihat Arka sudah menunggunya di luar pintu kedatangan.
“Rama!”
Rama melangkah mendekati Arka dengan menarik koper hitamnya. “Bagaimana kondisi perusahaan?”
“Cukup buruk.”
“Baiklah, sebaiknya kita langsung ke sana.”
“Kau tak ingin istirahat lebih dulu?”
“Perusahaan lebih penting.”
__ADS_1
Mereka bergerak menuju RR Advertising. Setibanya di sana, Rama meminta semua karyawan untuk berkumpul di meeting room. Ruangan yang cukup luas untuk menampung seluruh karyawan.
“Kita meeting sekarang!” perintah Rama pada seorang karyawan yang menyambutnya di pintu masuk.
Sebelumnya, semua karyawan sudah mendapat arahan dari Arka agar menunggu Rama di lantai dasar, supaya lebih mudah untuk menuju ruang meeting yang berada di pintu utama dekat resepsionis.
Para karyawan berkumpul di ruang meeting sesuai dengan arahan bosnya. Rama duduk di kursi kebesarannya dengan begitu tegang. Lelaki itu mengetatkan rahangnya, sesekali menarik napas panjang dan membuangnya kasar.
“Berikan data laporan yang dibocorkan!”
Berkas itu sudah berada di tangan Arka sejak Rama belum tiba di perusahaannya. Arka menyerahkan detail produk yang harusnya mereka luncurkan bulan ini, tetapi malah didahului oleh pesaing bisnisnya.
Setiap karyawan hanya saling melirik, tidak ada yang berani menyampaikan pendapat karena suasana begitu tegang.
“Apa hanya ini cara kerja kalian, hah?!” Rama melempar kasar berkas ke arah meja dan para karyawan hanya menunduk. “Aku membayar mahal kalian untuk bekerja dan berpikir. Bukan hanya menjalankan perintah!” Rama berdiri, menunggu apakah ada yang bisa memberinya jawaban. Namun, nihil, semua hanya membisu dan terpaku.
Rama tak pernah semarah ini sebelumnya, bahkan nada tinggi pun tak pernah di dengar oleh karyawannya. Kesalahan ini bukan hanya berakibat buruk pada perusahaannya, tetapi bisa saja ia melakukan pemutusan hak kerja pada karyawannya.
Rama kembali duduk di kursi, dia melonggarkan dasi yang terpasang di bagian leher kemejanya. “Cari ahli programmer! Kita harus menangkap pelaku itu. Dan untuk proyeknya, buat rencana lain, buat iklan dengan reklame tiga dimensi.”
__ADS_1
"Bagaimana dengan dewan direksi? Mereka pasti akan heboh dengan harga saham yang terus menurun."
"Undang mereka semua datang, kita akan mengadakan rapat sore ini!" perintah Rama pada sekretarisnya.
"Baik, Tuan."
Arka secara tiba-tiba mengusulkan pendapatnya. "Ram, aku ada kenalan ahli programmer. Akan kucoba hubungi dia sekarang." Tanpa menunggu jawaban Rama, Arka berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
Saat lelaki itu hampir sampai di ambang pintu, Rama memanggil, "Arka, tunggu dulu! Rencanakan semua dengan matang. Bila perlu bawa dia ke hadapanku. Aku akan menilai bagaimana cara dia bekerja."
"Baiklah, aku mengerti."
Rama menyandarkan tubuhnya, rasa penat mulai menggelayuti matanya. Ia memijit keningnya yang terasa berdenyut. Masalah ini benar-benar berat, jika ia salah melangkah sedikit saja. Perusahaan ini akan terancam bangkrut.
Para karyawan masih duduk terdiam dengan berkas masing-masing di depannya. Rama mulai menyampaikan beberapa pesan penting dan mengatur strategi untuk mempertahankan perusahaannya. Paling utama, ia membuat peraturan penting agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
Bersambung...
__ADS_1