Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Masa Lalu Dua Insan


__ADS_3

“Allena, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Rama yang sedang memperhatikan wanita itu. Sejak tadi ia berbicara, tak ada jawaban darinya sepatah kata pun. Allena hanya terdiam, menangis dan menunduk.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Allena, ia mulai mengangkat kepalanya, melihat ke arah Rama dan melanjutkan kalimatnya. "Kau tahu, Fano adalah lelaki yang sangat baik. Dia mau menikahiku hanya karena perjodohan, dan dia enggan menceraikanku karena kasihan, padahal dulu dia punya Nasyra. Aku memang tak tau diri." Allena tersenyum kecut, meratapi penyesalannya,


"Maksud kamu?"


"Ya, selama lima tahun aku hidup bersamanya, aku sudah tau, dia hanya mencintai satu nama yaitu istri kamu. Bukan aku."


"Kamu tahu dari mana? Apa Fano bercerita semuanya?"


"Nggak, dia lelaki yang cuek. Dia nggak pernah cerita apa pun soal Nasyra, tapi aku sering mengecek ponselnya diam-diam karena aku penasaran. Aku menemukan pesan lama Rara yang tak pernah di hapus, juga parahnya, setiap hari dia selalu mengirim pesan ke nomornya yang sudah tidak aktif seolah-olah dia mencurahkan isi hatinya ke Nasyra."


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja benar. Buat apa aku berbohong."


"Apa kamu nggak sakit hati?" tanya Rama.


"Sakit hati hanya akan membuang waktu, banyak yang harus di pikirkan selain harus meratapi nasib." Allena memicingkan matanya dan tersenyum masam, lalu kembali berkata, "Dia sudah mau menerimaku aja, bagiku itu sudah sangat cukup."


Allena dan Rama kini saling bercerita membahas Nasyra dan Fano, hingga akhirnya, Nasyra berjalan menghampiri Rama setelah dari toilet. Ia menduduki kursinya tadi, tepatnya berada di tengah di antara Rama dan Allena.


Kali ini, Nasyra sudah mulai menetralkan pikirannya, ia sedikit tenang setelah membasuh wajahnya di toilet tadi.


Ia menarik napas panjang dan berkata, "Allena, aku minta maaf atas kejadian yang menimpa Kak Fano."

__ADS_1


"Tidak perlu, untuk apa? Semua juga sudah terjadi." Allena menjawab ucapan Nasyra tanpa ekspresi.


"Kalau saja, aku tidak emosi dan menjauhinya tadi, mungkin Kak Fano tidak akan mengejarku dan hilang kendali saat mengemudi."


"Apa kamu sangat membencinya?"


"Aku ... aku tidak pernah membencinya, Allena."


"Kalau boleh tau, bagaimana keadaan Kak Fano?"


"Dia mengalami pendarahan di sekitar otak, makanya sekarang harus di operasi. Dokter juga bilang, meskipun operasinya akan berhasil dan Fano selamat, tapi sudah dipastikan ia akan mengalami gangguan sistem saraf. Ada beberapa organ yang akan mengalami kelumpuhan, atau cacat, bahkan bisa saja Fano nggak bisa berbicara."


Allena menjelaskan tanpa menatap Nasyra, ia masih berat dan sedikit mempunyai rasa tak suka pada Nasyra, tetapi ego mengalahkannya. Hatinya merasa kasihan terhadap wanita itu, ia juga sedikit menyesali perbuatannya yang dulu memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai.


Nasyra terkejut mendengar penjelasan Allena, ia tak menyangka jika kondisi Fano separah itu. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia berusaha menyembunyikannya, tatapannya kosong ke arah pintu operasi.


Allena langsung berdiri saat menyadari kehadiran lelaki berusia paruh baya tersebut. Allena memeluknya erat sambil menangis, meluapkan kesedihannya. Dia sudah menganggap paman Fano seperti ayahnya sendiri.


Mengingat, sejak usia remaja, keluarga Fano dan keluarga Allena memang sangat dekat. Apalagi, saat ini Fano dan Allena sama-sama sebatang kara. Hanya pamannya lah yang saat ini menggantikan posisi orang tua mereka setelah meninggal.


"Fano, apa dia baik-baik saja?" tanya Pak Wijaya.


"Dia di dalam, Paman." Masih dalam pelukan, Pak Wijaya mengelus punggung Allena, lalu mengajaknya duduk.


"Kenapa bisa terjadi? Di mana kecelakaannya?"

__ADS_1


Allena menatap ke arah Nasyra seolah menunjuknya yang harus menjawab pertanyaan Pak Wijaya.


Pak Wijaya pun menoleh ke samping, ia tak menyadari ada dua orang yang juga duduk di sebelahnya. Netra yang sudah mulai keriput itu memperhatikan Nasyra, sepertinya ia sedikit memutar ingatannya.


Pak Wijaya begitu terkejut saat melihat Nasyra, meskipun kini penampilannya berubah, tetapi wajah wanita itu masih sama. Hanya saja, sekarang lebih dewasa dan memakai make-up.


"Kamu ...?" Pak Wijaya bertanya pada Nasyra sambio mengingat-ingat nama wanita di sampingnya itu.


"Iya Pak, saya Nasyra. Pak Wijaya apa kabar?"


"Ah iya, kamu Nasyra, aku mencoba mengingat-ingat nama kamu. Kabarku baik, ponakanku yang nggak baik."


"Ini suamimu?"


"Iya, Pak." Nasyra lalu menengok ke arah Rama yang sedang sibuk dengan ponselnya." Kak, kenalkan ini Pak Wijaya, dulu aku pernah bekerja lama dengannya."


Rama pun berjabat tangan dengan Pak Wijaya untuk berkenalan.


"O, iya, malian kenapa ada di sini? Apa ada yang sakit juga?"


"Kami menunggu Fano, Pak," jawab Rama cepat. Ia tau jika istrinya yang menjawab, dia pasti akan gugup dan kebingungan.


"Nasyra, dari mana kamu tahu kalau Fano kecelakaan?"


Bersambung ...

__ADS_1


Sumbangin hadiahnya ya teman-teman,


jangan lupaa juga tekan likenya, Terimankasih.


__ADS_2