
Saat malam tiba, Rama dan Nasyra sudah bersiap dengan penampilannya yang begitu rapi. Namun, lelaki itu hanya mengenakan kemeja santai yang sama sekali tak mengurangi kesan mewah pada dirinya.
Berbeda dengan Nasyra, sebagai wanita, dia selalu berpenampilan anggun dengan dress yang indah. Kali ini, dia memakai dress putih dengan panjang selutut, bagian lengan tertutup hingga ke pergelangan.
Kain itu berbahan broklat halus, dihiasi dengan manik indah di bagian dada. Menambah kesan mewah dan manis saat dia memakainya. Wajahnya yang ayu semakin cantik dan anggun saat dia memoleskan mekap walau hanya tipis dan terkesan natural.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Rama pada Nasyra, saat wanita itu tengan bercermin dan membenarkan rambutnya yang terurai, sedikit berantakan.
"Istriku cantik sekali ... jangan cantik-cantik, Sayang. Nanti takut dilirik lelaki lain." Rama memeluk Nasyra dari belakang, indra penciumnya menghirup lembut parfum Nasyra yang begitu menenangkannya.
"Kak, kalau begini nanti nggak jadi berangkat. Kemaleman loh!" pekik Nasyra sembari melepas tautan tangan Rama.
"Ah, aku hampir saja hanyut dengan pesonamu, Sayang. Ya sudah, kita berangkat, yuk!"
Keduanya berjalan menuruni tangga, dan bergegas menuju mobil. Tak lupa mereka membawa bingkisan sebagai buah tangan.
Rama fokus mengemudi sambil mencari alamat yang tertera pada layar ponsel. Hanya berjarak beberapa meter lagi, mereka akan sampai di rumah Fano.
"Kak, masih jauh?" tanya Nasyra. Sebenarnya dia sangat gugup sekarang. Jantungnya bergemuruh saat teringat bagaimana dia harus bersikap ketika bertemu dengan Fano nantinya. Apalagi, sebentar lagi mereka sampai.
"Sepertinya rumah paling ujung itu, Sayang. Atau ... coba kamu telepon Allena, memastikan sebelah mana rumahnya," pinta Rama saat dia mulai kebingungan mencari rumah.
__ADS_1
"Oke, sebentar."
Nasyra pun mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi Allena. Tak lama kemudian Allena pun keluar dari rumah untuk menjemput mereka.
Rama dan Nasyra kemudian turun dri mobil dan didambut oleh Allena. Wanita itu menunggu tepat di depan pagar rumahnya.
"Akhirnya sampai juga, aku sudah menunggu kalian sejak tadi loh!" tutur Allena sambil bersapa ria dengan Nasyra dan Rama. "Ayo, kita masuk!"
"Maaf ya, Al, agak terlambat." Nasyra menyerahkan paper bag berisi kue.
"Ah, Ra, kenapa repot-repot sekali sih. Harusnya tidak perlu bawa apa-apa," pekik Allena. Tangannya seraya mengusap lembut lengan Nasyra.
Nasyra terdiam, sesekali melirik ke arah Rama. Sekilas, sanita itu tampak sedikit memikirkan sesuatu yang entah Rama pun tak tahu apa isi pikiran istrinya itu.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Rama penasaran.
"Hem ... tentu aku baik-baik saja. Memangnya kenapa Kak?" Nasyra bertanya balik kepada Rama.
"Kamu kelihatan gelisah, Sayang."
Rama pun hanya membatin penuh tanda tanya, dia tahu saat ini istrinya sangat gugup. Terlihat dari tangan Nasyra yang saling meremas satu sama lain dan mengentakkan kakinya pelan sesekali menarik napas panjang.
__ADS_1
Rama yang mengetahui akan hal itu dia hanya menggenggam tangan Nasyra agar istrinya itu sedikit tenang. "Tidak perlu gugup, Sayang. Kenapa harus grogi seperti itu? Fano pasti akan bersikap sewajarnya kok. Kan, ada aku." Rama berusaha menenangkan Nasyra.
Tak lama kemudian, Fano keluar dari kamar dan menuju ruang tamu, di mana Nasyra dan Rama sedang menunggunya.
Namun, ada yang berbeda. Lelaki itu kini hanya duduk di kursi roda. Allena mendorongnya perlahan mendekati mereka. Tatapan Fano tak berkedip menatap Nasyra, meski wajahnya pucat, mimiknya menggambarkan dia begitu lega bisa bertemu dengan Nasyra. Akan tetapi, setelah itu Fano melirik ke arah Rama. Dia lalu mengangguk pelan sebagai isyarat sapaan.
Nasyra yang melihat keadaan Fano sekarang, hatinya sedikit goyah. Namun, dia masih tetap pada pendiriannya, jika dirinya harus bersikap biasa dan seolah-olah berperan sebagai teman. Nasyra turut mengangguk kecil.
Rama pun berdiri dan berjalan ke arah Fano, dia duduk di kursi terdekat lelaki itu. "Apa kabar, Fano?" tanya Rama seraya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
"Aku baik, seperti yang kau lihat sekarang. Ya ... meskipun aku harus berada di kursi roda," jawab Fano dengan intonasi lirih saat menyebut kursi roda.
"Tidak masalah, semua pasti akan baik-baik saja. Lambat laun juga akan sembuh, jadi jangan berkecil hati."
"Terima kasih." Fano tersenyum ramah. Namun, matanya sekilas melirik Nasyra. Fano berharap Nasyra menghampirinya, tetapi wanita itu hanya terdiam. Dia tak tahu bagaimana menyusun kalimat untuk menanyakan sesuatu walau hanya sekadar berbasa basi.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1