
Keesokan harinya, pagi yang cerah mengawali kegiatan Fano di restoran. Kali ini, ia harus lebih fokus bekerja, mengecek dan menyelesaikan semua laporan akhir bulan. Beberapa berkas menumpuk di meja kerjanya, sesekali ia menatap laptop di depannya, jarinya tak berhenti menari di atas jajaran huruf di keyboard-nya. Setelah semuanya beres, ia berniat akan merampungkan semua permasalahannya dengan Nasyra, ia harus mencari jalan keluar.
Aku tidak bisa terus seperti ini. Rasanya sungguh menyiksa jiwa dan ragaku, membuatku tidak bisa berkonsentrasi.
Beberapa jam kemudian, Fano bergegas menuju ke ruangan pamannya untuk menyerahkan beberapa berkas laporan tentang restoran.
“Paman, ini semua laporannya sudah aku selesaikan. Apa aku boleh izin cuti?” Fano duduk di kursi depan meja kerja Pak Wijaya.
“Mau ke mana kamu Fan?!” tanya Pak Wijaya penasaran. Pak Wijaya adalah paman Fano yang juga pemilik Geranium Resto yang cukup besar itu.
“Aku mau menyelesaikan masalah dengan temanku, Paman."
“Masalah apa? Apa kamu perlu bantuan Paman?” Pak Wijaya memperhatikan Fano yang terlihat frustasi, ia menawarkan batuan kepada keponakannya.
“Tidak Paman, terima kasih. Ini hanya masalah sepele," jawab Fano berbohong.
Tidak ada satu orang pun yang mengetahui hubungan Fano dengan Nasyra, mustahil jika pamannya akan ikut membantunya, yang ada dia akan tahu yang sebenarnya. Itu hanya akan memperkeruh suasana.
“Ya sudah kalau begitu kamu boleh pergi sekarang, tapi ingat ya, jangan terlalu lama. Kalau masalahnya sudah selesai, cepatlah kembali," pesan sang paman.
“Iya, Paman. Fano pergi dulu, ya."
“Iya, hati - hati di jalan.”
__ADS_1
Fano pergi ke tempat tujuan utama, yaitu kost-nya Nasyra yang sudah di tinggalkan. Namun, ia tetap berusaha mencari informasi di sana, karena beberapa orang yang kost di tempat itu juga mengenal baik Nasyra.
Ia berharap, salah satu dari mereka mempunyai alamat Nasyra di kampungnya. Setelah beberapa menit ia menanyai satu persatu penghuni kos, hasilnya nihil. Ternyata tak satu pun dari mereka mengetahui rumah Nasyra.
Fano mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan yang padat membelah kota, pikirannya semakin kalut ketika ia tidak mendapatkan hasil sedikit pun.
Tiba-tiba, dalam perjalanannya, ia teringat satu hal penting yang ia lupakan sejak tadi.
"Ah, bodoh sekali aku! Kenapa tidak dari dulu aku melihat CV-nya ketika melamar di restoran? Di sana pasti tertera alamatnya. Buang-buang waktu saja!" umpat Fano pada dirinya sendiri. "Sepertinya alam mendukungku untuk bertemu kembali dengan Rara." Fano mengukir senyum sambil memutar balik motornya dan segera kembali lagi ke restoran untuk mengecek data Nasyra.
Sesampainya di depan restoran.
“Loh, Fano! Kok balik lagi?!” tanya Pak Wijaya yang melihat Fano memasuki restoran sambil berlari.
“Iya paman, ada yang tertinggal. Aku masuk dulu, ya!”
Fano berlari menuju ruang kerjanya, dia ingat betul di mana ia menyimpan berkas-berkas para karyawan. Ada puluhan map coklat yang tersusun rapi di rak lemari paling ujung.
Dengan sabar, Fano mencarinya satu persatu dengan sangat teliti. Setelah beberapa menit mencarinya, akhirnya map yang bertuliskan nama 'Nasyra Arreta' ia temukan. Dengan cepat Fano membukannya, lalu menulis alamat Nasyra di sebuah kertas kecil yang akan ia bawa.
“Ra, aku akan segera menemukanmu. Tunggu aku!" gumam Fano.
Fano melangkahkan kakinya tegas, berjalan dengan senyum lega yang menenangkannya. Ia lalu segera berpamitan pada sang paman.
__ADS_1
Kurang lebih tiga jam, Fano menempuh perjalanan untuk sampai ke rumah Nasyra. Hanya berbekalkan nyali dan tekat, ia memberanikan diri jika ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya yang sudah menyakiti Nasyra secara batin.
...****...
Rumah sederhana yang menghadap persis ke jalan itu membuat Fano terpaku sesaat. Teras yang luas dengan berbagai tanaman di sekelilingnya. Bukan rumah yang besar atau mewah, namun cukup membuat nyaman para penghuni di dalamnya. Tanpa ragu dan dengan keyakinan hati, Fano langsung memarkirkan motornya di halaman rumah itu, matanya tak berhentu menatap ke teras sambil melepas helmnya.
Bola mata itu terpusat pada gadis berambut panjang yang sedang duduk di teras, memandangi bunga-bunga yang ada di depannya. Pandangan wanita itu seolah kosong, entah apa yang dipikirkan saat ini. Fano terpaku saat Nasyra ada di hadapannya, seperti mimpi. Namun, ada semburat pilu di mata itu, wajahnya yang dulu ceria, kini terlihat pilu.
Ah! Aku semakin ingin menghukum diriku sekarang. Melihat Rara yang terpuruk akibat ulahku, apa aku bisa membuatnya tersenyum kembali seperti sebelumnya?
Aku akan terus berusaha mendapatkanmu kembali, Ra. Fano terus bergelut dengan pikirannya.
Bersambung....
...Sesakit itu kah patah hati gengs?🤭...
...coba komen siapa yang pernah patah hati...😁...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
__ADS_1
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁...
......Terima kasih sudah mampir......