Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Kasmaran Berulang


__ADS_3

"Tapi apa, Nasyra?" tukas Rama dengan nada sedikit meninggi.


"Kak, kenapa harus marah-marah? Aku minta maaf. Aku memang salah, aku terlalu bodoh, tidak bisa mngerti prasaan kamu sebagai suamiku. Tapi, apa aku tidak pantas mengucap kata maaf? Kak Rama benar-benar nggak mau maafin aku?"


Mana bisa Nasyra, mana mungkin aku bisa marah terhadapmu. Melihatmu menangis saja, aku tak tega. Bahkan, sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkanmu lebih dulu.


Rama terdiam, ia memikirkan barisan kata yang akan diucapkannya. Berniat agar Nasyra paham tanpa harus menyakiti perasaan istrinya itu.


"Apa kamu nggak pernah melihat ketulusanku selama ini? Apa kasih sayang yang kuberikan tak pernah cukup? Aku selalu berusaha untuk semua itu, Nasyra. Aku hanya ingin membuat kamu bahagia ada di dekatku," terang Rama dengan penjelasan yang cukup membuat Nasyra menyesal.


Nasyra terus mendengar perkataan Rama, menyimaknya dengan fokus. Ia terdiam dengan rasa bersalah.


"Padahal, selama ini aku sudah berusaha membuatmu nyaman denganku. Meskipun aku tahu, kamu tidak sepenuhnya mencintaiku. Berterusteranglah, Nasyra, apa yang tidak kamu dapatkan saat bersamaku? Bicaralah! Agar aku tahu dan bisa mengubah sikapku."


Nasyra sampai membungkam mulutnya yang kini mulai mengeluarkan isak tangis, menahannya agar tak terdengar oleh Rama. Saat ini ia merasa dirinya adalah wanita terbodoh, karena sudah menyia-nyiakan lelaki hebat yang kini berstatus sebagai suaminya.


"Kak, aku tidak melihat ada kekurangan sedikit pun di dirimu. Aku hanya bodoh terlambat menyadarinya. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku?"


"Aku sudah memafkanmu, jauh saat kamu sebelum meminta maaf. Sebaiknya tak perlu dibahas lagi, setidaknya kamu tahu perasaanku, dan aku berharap kamu akan mengerti, apa yang harusnya kamu lakukan ke depannya."


"Terima kasih, Kak. Aku akan berusaha menjadi istri yang lebih baik lagi." Nasyra pun tersenyum lega meskipun Rama tak bisa melihat senyuman itu.

__ADS_1


Panggilan telepon itu masih berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya, Nasyra teringat akan perusahaan yang sekarang sedang ditangani oleh suaminya. Ia begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di Singapura.


''Bagaimana perusahaannya, Kak?''


"Semuanya sudah membaik, mungkin besok aku akan pulang."


"Benarkah? Jam berapa Kak Rama berangkat dari Singapura? Aku akan menjemputmu, Kak."


Tidak perlu, nanti kamu capek. Apalagi akhir pekan ini masa cuti, jalanan pasti macet."


"Tidak apa-apa, Kak. Apa salah, jika seorang istri ingin menyambut suaminya?"


"Kak, bisakah aku melihat wajahhmu sebentar? Aku kangen. Sudah seharian ini aku tidak melihat Kak Rama."


Rama mengalihkan pembahasannya, karena dia merasa masih sedikit menyimpan marahnya pada Nasyra, ia berpura-pura seolah ia dingin dan acuh. Padahal, dalam hatinya ia sangatt berbunga-buga saat Nasyra bilang merindukannya.


"Ah, aku belum mandi, sebaiknya nanti saja kita lanjut video call-nya. Kirim dulu foto kamu, ya." pinta Rama.


Mereka pun menyudahi teleponnya yang cukup lama. Setidaknya rasa rindu di antara keduanya sesikit terobati.


Rama pun bergegas ke kamar mandi untuk menjalani ritual mandinya.

__ADS_1


...***...


Rama keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk di pinggang. Ia berjalan menuju tepi ranjang untuk mengambil ponselnya. Lagi-lagi binar bahagia terpancar di wajah Rama. Cinta itu terlihat dari netranya yang begitu lekat menatap foto Nasyra yang dikirim ke Rama beberapa saat yang lalu. Terlihat, wanita itu tengah berada di ranjang kamarnya, dengan mengenakan piyama berwarna pink kesukaan Rama,.


"Cantik," gumam Rama.


Ia kemudian mengambil gambarnya, dan mengirimkannya kepada Nasyra, dengan rambut yang masih basah.


Keduanya sudah seperti remaja yang baru merasakan kasmaran, tetapi kali ini Rama memang benar-benar jatuh cinta dan sangat terpesona pada istrinya itu. Namun, berbeda dengan Nasyra yang kini memang berusaha mengambil hatinya Rama karena ia tak tahan dengan sikap dingin suaminya.


Selama ini Rama memang sama sekali tidak pernah memarahi Nasyra walau hanya sekecil apa pun.


Apa sebaiknya aku harus sering-sering marah, ya, agar dia bersikap manis dan menggemaskan seperti ini? Rama tersenyum penuh kemenangan.


Saat ini, ia tengah berbaring di tempat tidurnya, meletakkan tangan kirinya di bawah kepala sebagai bantal. Tangan kanannya tak berpindah dari ponselnya yang kini terus ditatapnya.


Foto Nasyra dengan senyum manisnya terus dipandangi oleh Rama, seandainya saja sekarang mereka berdekatan, pasti Nasyra tidak akan selamat malam ini, karena Rama pasti akan menyerangnya tanpa ampun di atas ranjang.


Bersambung...


Maafkan othor yang malas up,

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya ya ...


terima kasih.


__ADS_2