Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Hanya Status


__ADS_3

Senja telah berganti malam, udara dingin menyeruak di sekitar kota. Semilir angin di kegelapan terasa menusuk pori-pori. Saat ini, Fano memang tengah gundah karena mendapat penolakan dari Nasyra, tetapi setidaknya perasaannya sedikit lega saat gadis itu menerima permintaan maaf darinya.


Setelah dari rumah Nasyra, Fano memilih pulang ke restoran daripada ia pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Alasannya, ia kesal terhadap Allena yang selalu membuatnya tidak nyaman untuk berada di rumah, bahkan setiap kali melihat wanita itu, ia hanya terus emosi dan ingin mengumpat kasar.


Namun, berbeda dengan Allena. Dia justru selalu memperlakukan Fano dengan baik, menganggap Fano layaknya suami pada umumnya. Bukan karena ia suka dengan Fano, melainkan ia hanya menjaga marwah keluarganya dan juga yang paling penting, status sebagai pernikahan adalah sesuatu yang aman baginya, karena ia bisa berlindung saat ia hamil dengan lelaki lain yang di godanya.


Dalam sebulan penuh, bisa dihitung dengan jari kapan Fano pulang ke rumah. Fano hanya akan bersikap baik terhadap orang tua Allena dan pamannya sendiri. Entah, mempunyai sifat yang tidak enakan hanya akan merugikan dirinya sendiri, sikapnya sangat bertolak belakang dengan batinnya.


Geranium Resto.


"Fano ... sudah pulang? Cepat sekali," tanya Pak Wijaya ketika melihat Fano berjalan ke arahnya.


"Sudah, Paman." Mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku restoran paling depan yang tak di tempati pengunjung.


"Masalahnya sudah selesai?"


"Sudah selesai kok," jawab Fano terlihat letih.


"Paman kira, kamu akan beberapa hari ambil cuti. Ternyata kamu pergi hanya dalam hitungan jam, Fan," ucap Pak Wijaya, ia duduk di sebelah Fano dan menepuk bahunya. "Kamu terlihat sangat capek, beristirahatlah!"


"Iya, Paman, perjalanannya memang cukup melelahkan." Fano beringsut membenarkan posisi duduknya yang tadi bersender lemas di sofa.


"Kamu bisa cerita sama Paman, kalau kamu mau."

__ADS_1


"Terima kasih. Lain kali aku akan bercerita, aku mau ke atas dulu ya, Paman." Fano beringsut, ia berdiri lalu berpamitan pada Pamannya untuk segera naik ke kamar atas.


"Ya, mandilah. Biar segar."


Restoran cukup besar itu mempunyai beberapa kamar untuk karyawan, salah satunya kamar Fano yang memang sengaja di tempatkan di kamar khusus yang cukup besar. Alasannya, karena kelak dia akan menjadi pewaris restoran itu. Ia adalah keponakan satu-satunya Pak Wijaya. Hanya Fano yang dimilikinya saat ini, begitu juga dengan Fano, ia hanya mempunyai pamannya saja sebagai orang tua pengganti.


Fano membaringkan tubuhnya di sofa dekat jendela kamarnya, ia mengusap kasar wajahnya. Bayangannya tentang Nasyra tak dapat ia hilangkan walau hanya sedetik.


Saat ia duduk dintepi ranjang, tiba-tiba suara ponsel dari dalam tasnya berdering memekik telinga Fano. Wajah itu terlihat semangat, dengan cepat ia mengambil benda pipih itu, berharap Nasyra yang meneleponnya.


Untuk ke sekian kalinya, ia mengusap wajahnya kasar dengan sangat kesal. Bukannya telepon dari Nasyra yang ia terima, melainkan telepon dari Allena.


Kenapa kau menambah beban pikiranku! Dasar wanita tak tau diri. Fano enggan mengangkat telepon dari Allena, ia lalu melempar ponselnya ke ranjang.


Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk putih di pinggangnya. Rambutnya yang basah sesekali meneteskan sisa air ke tubuh tanpa busana. Ia duduk di tepi ranjang, dan meminum segelas air di nakasnya.


Ponsel yang tadi diemparnya pun tak henti-hentinya berdering. Mau tidak mau, Fano terpaksa mengangkatnya dengan menggerutu terlebih dahulu.


"Ada apa?!" tanya Fano ketus pada Allena di sambungan telepon.


“Sayang ... kapan pulang? Aku merindukanmu," ucap Allena dengan nada manja dan menggoda.


 

__ADS_1


“Besok."


 


“Anak kita rewel sayang, mungkin kangen sama Ayahnya.”


“Sudahlah, aku sibuk. Jangan ganggu aku!” Fano mematikan teleponnya, ia merasa muak mendengar suara Allena yang penuh drama itu.


Allena, wanita berumur dua puluh tiga tahun itu mempunyai paras yang cantik dan sangat feminim, tetapi di usianya yang masih muda, ia selalu menghabiskan waktunya di klub malam. Kehidupannya terlalu bebas karena tidak ada yang mengawasinya di rumah, saat kedua orang tuanya sibuk mengurus bisnis yang ada di Malaysia, dan hanya pulang sebulan sekali.


Kala itu, orang tua Allena dan keluarga Fano sepakat menjodohkan mereka, berharap Allena bisa berubah, menghilangkan kenakalan dan urakannya. Namun, sampai saat ini, walaupun ia sudah melahirkan seorang anak, ia masih terus berfoya-foya, dan pulang dalam keadaan mabuk tanpa menghiraukan anak bayinya


Tak heran jika Allena di goda oleh lelaki hidung belang di klub tersebut, hingga sampai sekarang pun ia juga tak tahu siapa ayah kandung dari anaknya sekarang.


Bersambung ....


...Ada yang masih setia baca ga nih.......


...Tinggalkan jejak ya guys......


...komen dan like mu semangatku😍...


...hadiah sm vote juga sangat di terima....

__ADS_1


__ADS_2