Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Rama Menemui Fano


__ADS_3

Sebelum baca, aku ingatkan buat like dan komen ya. Hadiah sama vote juga sangat diharapkan.


Terima kasih sudah mampir💚😘


...****...


Dua bulan telah berlalu, Nasyra kini semakin pulih pasca operasi pengangkatan kista ovarium yang di deritanya. Selama kesehatannya belum pulih, ia hanya beristirahat total dan sama sekali tidak mengunjungi restorannya karena Rama selalu melarang dirinya, walaupun itu hanya keluar rumah sekali pun.


Namun, hari ini Nasyra bebas menghirup udara segar. Ia sama sekali tidak merasakan sakit lagi dan bisa pergi ke mana pun ia mau, termasuk restoran kesayangannya. Salah satu tujuan utama Nasyra saat sembuh, tak lain adalah untuk menjenguk Fano, sang mantan terkasihnya. Meski tak dibenarkan sebagai seorang istri bersikap berlebihan pada pria lain, tetapi nalurinya masih sangat susah untuk menjauhinya. Nasyra seperti dibutakan masa lalu.


"Ah, sudah lama sekali aku tidak menjenguk Kak Fano, apa Kak Rama akan mengizinkanku, ya?!” gumamnya saat ia sedang mengeringkan rambutnya di depan wastafel setelah ia selesai mandi.


Tak lama, Nasyra pun keluar dan menemui Rama yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Lelaki itu tampak lebih gagah dan berwibawa saat mengenakan setelan jas berwarna hitam, dengan dasi bermotif garis melingkar di lehernya.


"Kak."


"Iya, Sayang, kenapa?"


"Boleh aku jenguk Kak Fano di rumah sakit?"


"Kapan?"


"Setelah sarapan nanti, Kak."


“Boleh sayang, tapi aku akan ikut denganmu.”

__ADS_1


"Bukannya Kak Rama mau ke kantor?" Nasyra duduk di tepi ranjang sambil menatap suaminya dari pantulan cermin meja rias, lelaki itu sedang sibuk menata rambutnya.


"Aku hanya mampir sebentar, Sayang. Nanti kamu kalau mau pulang biar di jemput Pak Ki. Tidak apa-apa, kan?" Rama menghamipiri Nasyra dan duduk di sampingnya.


"Baiklah, Kak. Ya sudah, kalau begitu aku ganti baju dulu, ya."


"Iya, sayang, aku tunggu."


...****...


Rama dan Nasyra pun menuju rumah sakit untuk menjenguk Fano. Sesampainya di sana, mereka menemui Allena yang kebetulan sedang berada di depan ruang ICU, tepatnya di balkon rumah sakit. Ia sedang fokus menatap pemandangan kota serta taman yang terletak di bawahnya.


 


Wanita yang tengah menyendiri itu sesekali menyingkirkan sulur rambut yang menutupi wajahnya akibat embusan angin yang menerpa.


 


 


“Hai, Nasyra. Kalian sejak kapan ada di sini?” Allena terkejut melihat kehadiran Nasyra dan suaminya.


 


“Baru saja, kamu kenapa di luar? Apa sedang dilakukan pemeriksaan? Bagaimana keadaan Kak Fano?”

__ADS_1


 


“Pemeriksaannya sudah tadi pagi, aku juga baru saja keluar dari sana, cari udara segar. Keadaan Fano masih juga belum ada perkembangan, entah sampai kapan dia akan sadar.” Allena menatap lagi ke arah alam yang luas, ia seperti orang yang banyak pikiran, pandangannya juga kosong.


 


"Apa kalian ingin menjenguknya?" tanya Allena, ia menoleh lagi ke belakang.


"Ya, aku ingin melihat keadaan Fano," sahut Rama yang berdiri di sebelah Nasyra.


"Tapi, dokter tidak memperbolehkan dua orang masuk, hanya boleh satau orang bergantian," terang Allena.


"Baiklah, kalau begitu kamu duluan saja, Kak. Lagi pula, kamu juga harus segera ke kantor, kan?" timpal Nasyra.


"Ya sudah, kalau begitu, saya masuk ya, Allena?"


"Ya, silakan!"


Rama pun masuk di ruang ICU tersebut, ia memang benar-benar niat untuk menjenguk Fano meskipun dia sebenaranya tahu, lelaki di depannya itulah yang selalu membuat hatinya sedikit memanas. Jika ia tak memiliki kenangan masa lalu bersama istrinya, mungkin ia akan berteman baik dengan Fano.


Di sebelah brankar, Rama berdiri menatap iba pria yang sebaya dengannya itu, kondisinya yang sangat lemah dan tak berdaya membuatnya merasa kasihan. Meskipun Rama belum terlalu mengenalnya, tetapi dia memang tipe orang yang sangat peduli dengan orang lain.


"Fano, aku tahu kau mencintai istriku, begitu juga sebaliknya, dari tatapan Nasyra, aku juga sangat bisa membaca hatinya. Ya, selama ini, kamu memang selalu ada di pikiran Nasyra, bahkan kamu uuga menguasai hatinya. Tapi, asal kau tahu, aku tidak akan membiarkanmu merebut istriku. Aku hanya ingin kau sadar dan membuka matamu bahwa Allena adalah wanita yang baik, ia sangat tulus mencintai kamu. Berubahlah untuknya, lihatlah masa depanmu! Dan jangan terus melihat ke belakang. Masa lalumu pun kini sudah ada di genggaman orang yang tepat, jadi jangan pernah mengusiknya lagi."


Rama terus berbicara pada raga Fano yang notabennya tak ada kesadaran sama sekali. Ia hanya ingin menyampaikan segala unek-unek yang di pendamnya saat lelaki itu muncul kembali di kehidupan istrinya. Kalau saja saat itu Fano tidak mengalami kecelakaan, sudah dipastikan Rama akan langsung berbicara tatap muka dengannya dan memeringatkan untuk menjauhi istrinya.

__ADS_1


Setelah panjang lebar Rama mengatakan sesuatau pada Fano, ia bergegas keluar ruangan dan menemui istrinya untuk berlamitan.


Bersambung...


__ADS_2