Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Lagi-lagi Membuat Kecewa


__ADS_3

Rama pun beringsut dari tepi ranjang, diikuti oleh Nasyra yang sigap mengambilkan jas untuk suaminya. Nasyra kemudian itu membantu memasangkan jas itu ke badan suaminya. Mereka berjalan menuruni tangga, sesampainya di depan pintu. Rama berpamitan pada istrinya itu, tak lupa, Nasyra mencium punggung tangan Rama. Perlakuan Nasyra sebagai istri memanglah sangat sempurna di mata Rama. Semakin hari, Rama semakin mencintainya.


Pukul tiga sore, matahari bersembunyi dibalik awan gelap, sepertinya akan turun hujan. Nasyra merasa kesepian, sendirian di kamar tidak melakukan apa-apa, sangat membosankan.


Ia lalu mengganti bajunya lagi, memakai setelan santai, dengan outer hitam menutupi lekuk tubuhnya dari belakang.


...***...


Orched Restaurant


Nasyra dengan semangat menyapa para karyawannya, ia begitu senang saat melangkahkan kakinya ke restoran itu. Tiba-tiba seseorang membuat fokus Nasyra terganggu, ia memusatkan pandangannya ke sudut ruang, meja yang di isi hanya satu orang. Lelaki itu langsung berdiri menghampiri Nasyra, karena wanita itulah yang ia tunggu sejak beberapa jam yang lalu.


"Rara, aku ingin bicara." Fano sangat keras kepala, ia tak pernah bosan untuk mengejar cintanya yang sempat hilang. Bahkan sudah tiga jam ia menunggu di restoran itu, hanya untuk Rara.


"Kak, sudahlah jangan menggangguku terus," ucap Nasyra dengan sedikit kesal.


"Aku berjanji, setelah ini, aku tidak akan mengganggumu lagi. Asal kamu memberiku keputusan."


"Baiklah, kita ke taman belakang!" ajak Nasyra tanpa memandang wajah Fano. Nasyra berjalan di deoan dan diikuti osleh Fano di belakangnya. Beberapa karyawannya hanya melihat, dan terus bergumam dalam hati karena bosnya berduaan dengan lelaki lain, siapa lelaki itu, kenapa Bu Nasyra terlihat gelisah?


Di taman belakang restoran, Fano dan Nasira mengedarkan pandangannya pada alam yang indah, tak menatap satu sama lain. Namun sedetik kemudian, ia berada di hadapan Nasyra.

__ADS_1


"Rara ... aku rindu ...." ucap Fano dengan nada lirih dan hanya dibalas tatapan kosong oleh Nasyra. Entah aoa yang dipikirkannya saat ini.


"Selama ini, sekuat tenaga aku berusaha melupakanmu, Ra. Tapi semesta tak mengizinkannya. Sedetik pun kamu tak pernah hilang dalam ingatanku."


“Kak, aku udah lupain kamu sejak dulu, dan kamu ... kamu juga harus lupain aku!”


“Rara, dengarkan aku dulu! Aku hanya ingin berbicara beberapa kata, setidaknya beri aku keputusan.”


“Keputusan apa, Kak? Semuanya sudah berubah, semesta tidak menakdirkan kita untuk bersama. Jadi kita sudahi saja, kita kubur masa lalu kita. Kita buka lembaran baru dengan pasangan kita masing-masing.” Nasyra menjelaskan dengan senyuman, tetapi senyuman itu dibarengi dengan bola matanya yang mulai berkaca-kaca.


“Ra, aku sangat mencintaimu, melebihi apa pun di dunia ini. Apa kamu mau hidup bersamaku dan meninggalkan suamimu demi aku? Aku janji, aku akan membuatmu bahagia, hanya akulah satu-satunya orang yang mencintaimu sedalam ini, bukan suamimu. Aku akan meninggalkan Allena detik ini juga kalau kamu mau. Kita mulai hidup baru, ya!"


"Kamu gila, Kak! Itu tidak akan mungkin terjadi."


"Cukup!" teriak Nasyra, air matanya lolos mendengar perkataan Fano. Ia tidak menyangka lelaki yang ia simpan dalam hatinya tega berbicara kasar padanya.


Plakk!


Tamparan keras mendarat ke pipi Fano, sepertinya saat ini Fano sudah benar-benar gila, mengeluarkan kalimat yang membuat Nasyra sakit hati.


“Jaga mulut kamu! Kamu pikir aku wanita apa, haa?! Aku sangat mencintai suamiku, bukan kamu, dan aku bangga menjadi istrinya. Bahkan kamu sudah tidak ada dalam ingatanku! Aku menyesal, sangat menyesal pernah mengenalmu! Ini yang kamu bilang cinta? Menuduhku sebagai wanita penggoda demi sebuah harta?! Cih!" Nasyra berdecih lalu meninggalkan Fano.

__ADS_1


"Rara, tunggu! Aku minta maaf!"


Rara pun melewati halaman samping, ia menghampiri Pak Ki yang selalu stand by di pos satpam sambil mengobrol dengan temannya di sana. Rencana Nasyra untuk mencari hiburan si restoran gagal hanya karena ulah Fano.


"Pak Ki, tolong antarkan saya pulang!"


"Baik, Nyonya."


Pak Ki segera menuju kemudi dan mengendarai mobilnya. Dalam hati Pak Ki bertanya, Baru saja sampai sudah balik lagi ke rumah, Nyonya kenapa ya tiba-tiba nangis begitu?


Fano dengan cepat mengikuti mobil Nasyra, ia melaju dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia membunyikan klakson agar Nasyra mendengarnya dan mau berhenti.


"Nyonya, sepertinya mobil belakang mengikuti kita."


"Biarkan saja Pak, jangan hiraukan!" Nasyra tampak marah, rasa sakit itu kembali menggerogoti hatinya. Ia sangat kecewa pada Fano untuk kedua kalinya.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara dentuman keras, seperti kecelakaan. Pak Ki reflek memberhentikan mobilnya di tepi jalan, ia lalu melihat ke spion yang memantul kejadian di belakangnya.


Bersambung ....


...Hay readers, terima kasih sudah mampir....

__ADS_1


...Tapi author mohon, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, author sedih nih karena ga ada yang komen, like sedikit. Palagi yang ngasih hadiah sama Vote....


...Bagi ya, autnor doain smoga sehat selalu, lancar rejekinya...😊😊😍😍💚💚...


__ADS_2