Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Aku Tulus


__ADS_3

"Kak, apa aku tidak salah dengar?" tanya Nasyra, dia msngerutkan alisnya.


"Tidak, Sayang. Kamu mau jenguk dia?" tanya Rama lagi.


Nasyra terdiam, lalu dia melangkah menuju kursi yang ada di pinggir koridor rumah sakit tersebut. Dia mendudukkan dirinya di kursi panjang yang menghadap ke taman nan hijau itu.


"Kak, apa selama ini ... apa Kak Rama belum cukup percya denganku? Padahal aku melakukan semua ini karena aku tulus. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kak Rama yang menyuruhku untuk menjenguk Kak Fano. Seharusnya itu tidak perlu, Kak."


Rama yang mendengar perkataan Nasyra, dia mengerutkan keningnya, dia sedikit tak mengerti dengan maksud kalimat yang terlontar dari bibir istrinya itu.


"Maksudnya gimana, Sayang?" tanyanya dengan nada lembut.


"Kak, kamu tahu sendiri, kan, kalau dulu aku sering mengecewakan Kak Rama, aku sudah jahat karena sempat memikirkan lelaki lain dalam rumah tangga kita. Memasukkan nama Kak Fano dalam cinta suci di antara kita, harusnya itu gidak terjadi. Sekarang aku sadar dan aku tidak ingin mengulanginya lagi. Aku sudah bisa mencintai Kak Rama dengan sepenuh hati, tak ada lagi nama lain. Tapi sekarang... Kak Rama malah tidak menghargaiku yang sudah susah payah berusaha melupakannya. Maksud kamu apa, Kak, mengajakku menemuinya lagi?" ucap Nasyra, nadanya seakan penuh penekanan pada Rama.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuamu mengingatanya lagi. Hanya saja, ini murni sebagai rasa simpati sebagai teman. Aku percaya dengamu sejak dulu. Bahkan, saat kamu belum sepenuhnya mencintaiku, aku membiarkanmu menemui Fano, bukan? Jadi ... jangan marah dan jangan salah paham, ya. Aku tidak ada maksud apa pun, Sayang. Dan, terima kasih karena sekarang kamu sudah menjadi istri sempurna untuku." Rama tersenyum lembut, tatapannya begitu dalam terhadap Nasyra, Tangan kekar lelaki itu menggenggam tangan Nasyra dengan erat.


Nasyra mengangguk dengan wajahnya yang sayu. Matanya menunjukkan kasihnya yang tulus pada RRama. "Ya sudah, kita pulann aja, yuk, Kak!" ajaknya sembari berdiri dan menggandeng tangan Rama.


Saat mereka berjalan berada di tempat parkir. Tiba-tiba saja tak sengaja Nasyra bertabrakan dengan seorang perempuan berambut panjang, dia memakai masker sehingga Nasyra tak mengenali perempuan itu.


"Nasyra, hei!" sapa wanita itu. Dia memegang tangan Nasyra lalu melepas maskernya.


"Allena?" tanya Nasyra, dia mengulas senyuman manisnya.


"Aku baik, kamu gimana?" jawab Nasyra kemudian kembali bertanya.


Rama mengurungkan niatnya untuk membuka mobil dia juga ikut menghampiri kedua wanita tersebut yang tengah bersapa Ria.

__ADS_1


"Sebaiknya kita mengobrol di restoran, Alena kamu tidak sibuk kan?" pertanyaan Rama sontak membuat Nasyra melirik kearahnya, padahal wanita itu enggan berlama-lama bertemu dan bercerita dengan Alena titik pasti mereka juga akan membahas soal Vano.


"Ah, tidak. Kebetulan aku baru saja mengambil hasil chek up Fano."


"Hasil? Lalu ... Kak Fano ...?" Nasyra menggantung ucapannya, dia pun ragu akan bertanya tentang keadaan lelaki itu.


"Ah, nanti kita bicarakan, ya. Ada banyak hal yang harus aku sampaikan. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian soal Fano." Raut wajah Allena tampak berseri, tergambar jelas kebahagiaan yang sekarang dia rasakan. Matanya berbinar saat dia menyebut nama Fano.


Akan tetapi isyarat Nasyra pada Rama tidak terbaca oleh suaminya. Akhirnya, mau tidak mau dia menuruti apa kata Rama. Ketiga orang itu kemudian bergegas menuju restoran yang tidak jauh dari tempat parkir tersebut yang berada di rumah sakit..


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2