Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Menguatkan Istri


__ADS_3

"Kak Rama ... kenapa ada di sini?" Tanpa aba-aba, Rama merengkuh tubuh wanita itu.


Nasyra sontak membelalakkan matanya. Namun, pelukan Rama yang tiba-tiba itu mampu menenangkan dirinya walaupun hanya sedikit.


Rama perlahan mengelus punggung wanita itu. Hanya untuk membuat Nasyra nyaman dalam pelukannya. Setidaknya ini bisa sedikit membantu mengurangi kesedihannya.


Isak tangis kembali terdengar, Nasyra lalu berkata lirih dalam dekapan Rama. "Kak, ini semua salahku. Aku yang menyebabkan dia kecelakaan."


"Ssttt ... sayang, hei! Sudah ya ... jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, kecelakaan ini terjadi bukan karenamu. Kita doakan saja, semoga Fano baik-baik saja."


Nasyra terkejut ketika suaminya itu menyebut nama Fano. Ia langsung mengadahkan wajahnya menatap Rama tak berkedip. "Kak Rama, tau?"


"Aku tau semuanya sayang, tadi Pak Ki meneleponku dan memberitahu."


"Lalu, bagaimana Kak Rama bisa tau kalau yang kecelakaan itu Kak Fano? Sedangkan, Pak Ki juga tidak mengenalnya," tanya Nasyra menyelidik sambil mengusap sisa air mata di pipinya yang masih basah.


"Aku melihat CCTV restoran di HP-ku, sayang. Aku juga melihat Fano mengobrol denganmu di taman belakang beberapa menit sebelum terjadinya kecelakaan itu. Gambarnya sangat jelas memperlihatkan wajah Fano, juga nomor mobil miliknya yang sempat terekam. Jadi sayang, apa pun kegiatanmu di rumah atau pun di restoran, aku pasti akan tau. Kamu juga tidak perlu takut, aku akan selalu ada di sampingmu, menjaga dan melindungimu."


"Maafkan aku, Kak. Tapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku hanya ...." Kalimat Nasyra terpotong saat melihat Allena dan beberapa perawat berjalan menuju IGD tempat di mana Fano berada.


“Kak, kenapa mereka semua panik? Apa Kak Fano ....” Nasyra menebak-nebak dalam batinnya. Ia begitu takut jika kehilangan Fano.

__ADS_1


Allena di dampingi oleh tiga perawat yang sedang mendorong brankar kosong menuju ruang IGD, di mana Fano berada saat ini. Para perawat itu berjalan tergesa-gesa. Tampak Allena sedang sibuk mengusap buliran air matanya.


Padahal sebelum ia ke ruangan dokter, ia tampak baik-baik saja, bahkan tak ada raut sedih di wajahnya. Lalu, kenapa sekarang ia menangis? batin Nasyra saat menatap ke arah Allena yang sedang berjalan.


Nasyra kemudian berdiri, ia hendak menyusul para perawat tersebut, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia takut istrinya Fano akan berpikir macam-macam terhadapnya. Ia terpaku, ia hanya bisa menatap Fano dari kejauhan. Beberapa detik, satu menit, dua menit, pintu itu tak kunjung di buka lagi oleh perawat. Nasyra hanya berharap ia bisa melihat Fano saat ini dan memastikan keadaannya.


“Kamu mau lihat ke sana?” tanya Rama dengan nada lembut, ia begitu pengertian. Walau dia tahu, ada rasa cemburu menyelimutinya. Namun, demi sang istri, dia rela menahannya agar Nasyra tidak sedih dan tidak terus-terusan menangisi Fano.


“Apa boleh, Kak? Istrinya sepertinya tidak menyukaiku.”


“Mas akan mencoba berbicara dengannya, sebentar, ya?” Rama berdiri hendak berjalan, tetapi tangannya digenggam oleh Nasyra dan sedikit menariknya agar tak berpindah tempat.


"Kak, tidak perlu. Kita tunggu saja dia keluar. Kita juga bukan siapa-siapa mereka, takutnya malah akan membuat keributan jika istrinya tak mengizinkan."


"Iya, Kak."


Di dalam ruang IGD, Fano di pindahkan dari brankar satu lagi untuk dibawa ke ruang operasi. Dua perawat mengurus Fano, satu lagi memegang cairan infus.


Allena tertegun melihat suaminya yang kini terbaring diatas brankar. Wajahnya sangat pucat, seketika ia teringat akan perkataan dokter beberapa menit lalu di ruangan.


'Pak Fano harus dioperasi, Bu. Lukanya cukup parah di bagian kepala. Benturan keras dan pecahan kaca mengakibatkan cedera di sekitar otak, ia mengalami pendarahan di sekitar otak (subarachnoid) atau di pendarahan di dalam jaringan otak (intraserebral). Bengkaknya satu bagian otak tersebut bisa menyebabkan terhalangnya aliran darah ke sana, dan akan menyebabkan matinya sel-sel di otak. Jika tidak segera ditangani akan berakibat fatal.'

__ADS_1


Allena menangisi Fano, ia tak menyangka lelaki dingin di depannya itu sekarang bertarung nyawa. Meskipun dia belum pernah merasakan kasih sayang Fano, setidaknya ia mengenal Fano sebagai lelaki yang baik.


Di ruang tunggu,


"Sayang, aku hanya ingin kamu bersikap selayaknya teman terhadap Fano. Aku tahu, meskipun kalian mempunyai kenangan masa lalu, aku harap kamu tidak mengesampingkanku sebagai suami, ya."


"Kak, aku minta maaf. Seharusnya aku tak berlebihan seperti ini, aku hanya kasihan dengannya."


"Aku mengerti, sayang. Aku juga tidak masalah kok kalau kamu mau menemuinya. Aku percaya, kamu tau ke mana harus pulang."


"Terima kasih, Kak. Tapi, kalau Kak Rama tidak suka aku di sini, aku bisa pulang sekarang kok."


"Aku akan bersamamu, sayang. Jangan khawatir."


Bersambung ....


...Terima kasih sudah mau mampir,...


...jangan lupa jejaknya ya guys......


...sudah tau kan, harus ngapain?...

__ADS_1


...tekan tombol like, komen, terus kasih author hadiah juga, ya🤭...


__ADS_2