
Setelah mereka mencurahkan isi hati masing-masin, gegas kedua pasangan suami istri itu segera bersiap. Membersihkan diri dan berniat untuk pergi ke rumah sakit untuk memastikan kehamilan Nasyra.
Di kamar mandi, setelah selesai melakukan ritualnya, Nasyra melihat dirinya dipantulan cermin. Air matanya tak berhenti mengalir sambil terus melihat tespec bergaris dua trsebut.
Aku benar-bnar hamil sekarang. Aku sangat bahagia, rasanya masih seperti mimpi. Mungkin benar, saat itu aku tak kunjung hamil karena terus memikirkan lelaki lain di hidupku. Bahkan, sekarang aku sudah melupakanu, Kak Fano. Maaf ... sekarang hataku benar-benar sudah dimiliki Kak Rama seutuhnya. Tetapi, aku berjanji, suatu saat aku akan menjengukmu jika kamu sembuh. Untuk sekarang, aku memilih untuk menghindar darimu, karena aku tahu, jika aku terus menjengukmu dalam keadaan sakit, maka rasa iba, kasihan, dan sepercik kenangan kita pasti akan sangat terasa membekas di hati. Aku tidak mau lagi menjadi istri yang egois, aku tidak mau lagi menjadi istri yang selalu mengkhianati suamiku, menyakiti hatinya. Sama saja aku menodai pernikahanku.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Sayang," panggil Rama seraya mengetuk pintu kamar mandi. Dia penasaran kenapa istrinya belum juga keluar, padahal sudah tak ada suara gemercik iar dari dalam kamar mandi tersebut.
Belum ada jawabban, Rama semakin khawatir, takut terjadi apa-apa dengan istrinya itu.
"Sayang ...." Ketukan pintu terdengar semakin kuat, akhirnya Nasyra dengan cepat menjawab panggilan Rama dan membuka pintunya.
"Sayang, kenapa lama sekali? Sudah selesai mandinya?"
__ADS_1
"Sudah, Kak." Nasyra mengukir senyum tipisnya, kemudian berjalan melewati Rama.
Rama yang hendak mandi pun, mengurungkan niatnya. Dia mengekori Nasyra lalu berkata, "Sayang, kamu menangis lagi? Matanya kok, sembab?" tanya Rama seraya menatap istrinya yang duduk di meja rias.
Satu jam telah berlalu, Rama dan Nasyra kini sudah berada di rumah sakit internasional. Saat di ruang tunggu, Nasyra terus terdiam, hatinya seakan bergemuruh mananti giliran untuk diperiksa. Tangannya juga terasa dingin berkeringat, tetapi Rama terus menggenggam dan menenangkannya.
Rama terus memperhatikan Nasyra, dia menatap lekat mata wanita di sampingnya itu.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Sejak tadi hanya terdiam dan melamun," tanya Rama.
"Aku hanya nervous, Kak. Aku takut hasilnya tidak sesuai dengan tespec, bagaimana kalau ternyata hasilnya negatif dan ada kesalahan pada tespec-nya. Bisa saja alat itu tidak akurat, kan?" tutur Nasyra mengungkapkan keraguannya.
Beberapa saat kemudian, panggilan untuk Nasyra pun terdengar. Rama segera menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam ruangan dokter tersebut. Nasyra sesekali meremas tangan Rama karena rasa takut yang menyelimutinya. Baru pertama kali dia memasuki ruangan dokter kandungan karena dirinya benar-benar hamil, biasanya dia memasuki ruangan itu hanya untuk konsultasi seputar program kehamilan.
"Jangan gerogi, Sayang. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Nasyra hanya mengangguk menanggapi kalimat Rama yang berusaha menenangkannya,.
__ADS_1
Nasyra pun kemudian dipandu untuk berbaring di brankar, dokter wanita itu langsung memeriksanya dengan mengoleskan gel ke perut Nasyra, lalu memutar alat USG. Alat itu terhubung pada layar yang terletak di sudut ruang tersebut. Sehingga Rama dan Nasyra bisa melihat dengan jelas kehidupan dalam perut Nasyra.
Terlihat bulatan kecil sebiji kacang yang dinyatakan dokter bahwa itu adalah janinnya.
"Selamat, Nyonya, Tuan, janinnya sudah berusia tiga minggu. Alangkah baiknya bulan depan ke sini lagi untuk memantau perkembangannya," ucap sang dokter dengan sabar memberi penjelasan.
"Jadi ... istri saya benar-benar hamil, kan, Dok?" tanya Rama memastikan. Dia memimpikan saat-saat seperti ini. Nasyra tak mampu mengucpkan apa pun, dia hanya terus memandangi gambar di layar monitor sambil mengucap rasa syukur dalam hatinya.
Air mata wanita itu lagi-lagi mengalir tanpa sengaja. nasyra melupakan segala kebhagiaan dan haruunya dengan memeluk Rama setelah selesai pemeriksaan. Dokter yang menyaksikan sepasang suami istri tersebut ikut terharu, karena sebelumnya, dokter itulah yaang melakukan pemeriksaan dan menyarankan program hamil. Hingga saatnya Ram amemutuskan untuk berganti dokter dan rumah sakit di Singapura.
Beberapa menit kemudian, setelah mereka selesai berkonsultasi dann mellakukan pemerksaan, mereka keluar dari ruangan dokter tersebut. Tiba-tib Rama menanyakan sesuatu yang membuat Nasyra terkejut, dia tak menyangka suaminya aka mengingatkan sesuatu yang seharusnya dilupakan.
"Sayang, kamu ... tidak mau mampir menjenguk Fano? Dia masih dirawat di sini, kan?" tanya Rama tanpa beban. Dia seolah tak memikirkan perasaan Nasyra, bagaimana dia berussaha melupakan mantan kekasihnya itu. Sekarang justru suaminya menanyakan sesuatu yang pelik baginya.
Seketika, mata Nasyra membeliak dan menghentikan langkahnya saat mereka berjalan di koridor, menuju lift untuk keluar dari rumah sakit tersebut.
__ADS_1
.
Bersambung ...