
“Akhirnya selesai juga, sekarang waktunya menidurkan Kania.” Allena menarik nafasnya sambil tersenyum lega.
Malam hari pukul 20.00, di meja makan sudah tersaji berbagai macam makanan kesukaan Fano. Allena dengan telitinya mengecek satu persatu makanan yang dimasaknya. Juga tak lupa, ia menyiapkan minuman kesukaan suaminya.
Sementara itu, di dapur, asisten rumah tangga sedang sibuk mencuci bekas peralatan masak Allena.
“Bi ... tolong bersihkan dapurnya, ya. Tapi jangan berisik. Saya mau menidurkan Kania dulu,” pesannya pada asisten rumah tangga.
“Baik, Nyonya,” sahut Bi Wil sambil mengemasi peralatan masak.
Setelah ia memastikan semua makanannya tertata rapi, ia segera naik ke atas untuk menidurkan Kania, putri semata wayangnya yang sekarang sangat ia cintai. Baginya, Kania adalah anugerah, sejak ia tumbuh jadi anak yang lucu dan pintar, Allena berubah menjadi seorang Ibu seutuhnya. Ia fokus terhadap keluarga kecilnya itu.
Setengah jam kemudian, terdengar suara mobil dari halaman rumah, Fano pulang. Ia memasuki rumah mewah yang bercat putih itu. Dengan perlahan ia mulai menaiki tangga satu persatu menuju kamarnya. Ia lanjut membersihkan diri, menjalani ritual mandi. Menghilangkan rasa penat setelah seharian di hajar dengan pekerjaan yang melelahkan.
Beberapa menit berlalu, Fano keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk di pinggangnya. Ia lalu segera menyambar pakaiannya. Kaos berwarna putih, juga celana pendek membuat penampilannya terlihat santai. Allena lah yang selalu menyiapkan pakaian suaminya di tepi ranjang.
“Sudah mandi, Sayang?” tanya Allena yang sedang duduk di depan meja rias.
“Sudah,” jawab Fano singkat.
“Yuk, kita turun, aku masak makanan kesukaan kamu loh!” Allena berdiri lalu menghampiri Fano.
“Kania sudah tidur?” tanya Fano.
“Sudah sayang, baru saja pulas. Makanya aku baru berani keluar dari kamarnya.”
“Kamu sudah makan?”
“Aku belum makan sayang, aku menunggumu,” ucap Allena sambil bergelayut manja di lengan Fano.
Fano dan Allena pun menuruni tangga menuju meja makan. Mereka lalu menikmati hidangan makan malamnya tanpa suara.
__ADS_1
“Gimana restorannya hari ini, sayang?” Kelihatannya kamu capek banget." Allena memecah keheningan, Fano memang banyak terdiam, ia tak banyak basa basi jika tak ada yang perlu dibicarakan dengan Allena.
"Besok siang kita dapat undangan untuk menghadiri grand opening kafe temanku di dekat danau," ucap Fano datar seraya menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Maksud kamu ... kita? Kamu mengajakku?"
"Hem ...." jawab Fano sambil mengangguk.
"Benarkah?! Sayang, aku seneng banget. Ini pertama kalinya kamu mau mengajakku bertemu dengan teman-teman kamu, aku nggak salah dengar, 'kan?"
"Besok jam dua belas siang, aku akan menjemputmu. Jangan sampai terlambat."
"Tenang saja, Sayang. Aku akan mempersiapkan diriku secantik mungkin. Terima kasih, ya."
Dengan wajah sumringah, Allena mengunyah makanannya, bibirnya tak henti mengulas senyum tipis saking bahagianya.
Akhirnya, Fano mau mengenalkan aku dengan temannya, setidaknya masih ada peluang untuk terus mendekatinya. Cinta ... urusan belakang, yang terpenting dia mau mengenalkanku ke teman-temannya sebagai istri. Itu sudah dangat cukup bagiku," batin Allena.
Akan tetapi, Allena selalu berusaha bersikap baik pada suaminya itu. Tak peduli bagaimana respon Fano, tak peduli seberapa dinginnya Fano terhadapnya, yang penting ia terus setia di dekat Fano, dan melayani apa pun kebutuhannya.
Sejak orang tua Allena meninggal karena kecelakaan pesawat tiga tahun lalu, Allena frustasi. Walaupun ia tak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya sejak kecil, tapi mereka tetaplah orang tua Allena. Ibu yang melahirkannya, juga ayahnya yang selalu berperan penting dalam pertumbuhannya.
Jika ia menceraikan Allena, otomatis Allena akan hidup sendiri. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Fano dan Kania, putri kecilnya. Apalagi, anaknya masih butuh perhatian seorang ayah. Ia tidak tega jika anak kecil tak berdosa itu menanggung beban ketika besar nanti.
Hal itu juga yang mengurungkan niat Fano untuk menceraikan Allena. Ia terlalu kasihan pada wanita malang itu jika harus meninggalkannya juga setelah ia di tinggal kedua orang tuanya untuk selamanya.
Saat itu, Alena memohon pada Fano dengan deraian air mata, ia tidak ingin diceraikan. Ia tidak ingin hidup sebatang kara dan pintanya hanya ingin hidup bersama Fano, lelaki yang kini menjadi berstatus menjadi suaminya.
Seberapa besar ia memohon pun, Fano tetap bersikukuh untuk tetap menceraikannya waktu itu.. Namun, paman Fano selalu membujuknya agar tidak mengambil keputusan secepat itu dan menyuruhnya untuk mempertimbangkan lagi.
Ia terus meminta Fano untuk memikirkan baik-baik keputusannyanya. Pak Wijaya sangat iba terhadap nasib Allena. Akhirnya, Fano terpaksa menerima Allena di hidupnya. Namun, ia mengajukan beberapa syarat agar Allena menyanggupinya.
__ADS_1
Syarat-syarat tersebut tertulis di sebuah selembar kertas, seperti surat perjanjian bermaterai pada umumnya.
Allena bersikap sebagai istri yang baik
Menyiapkan pakaian, juga memasak makanan untuknya.
Mengurus anak dengan baik.
Tidak boleh keluar rumah tanpa izin Fano.
Meninggalkan dunia malam, tidak ada lagi mabuk-mabukkan, apalagi bermain dengan lelaki.
Tidak ada hubungan suami istri, sebelum Allena berhasil membuatnya jatuh cinta.
Allena menyanggupi semua syarat dari Fano. Sejak kejadian itu, Allena berubah drastis. Ia menjadi wanita yang baik dan penurut terhadap suami.
.
.
Bersambung ...
...Kakak kakak yang baik hati, tinggalkan jejak ya.....
...jangan lupa komen, like...
...author butuh dukungan nih....
__ADS_1
...sehat selalu kalian...💚💚💚...