Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Ketahuan Oleh Rama


__ADS_3

"Cukup Ma! Aku bukan wanita rendah seperti yang Mama bilang. Aku juga ingin hamil, bukan mauku kalau sampai sekarang belum dikasih keturunan!"


Akhirnya Nasyra berhasil mengeluarkan kata-kata yang selama ini ia pendam. Ia memberanikan diri karena memang ia sudah tidak tahan dengan perlakuan ibu mertuanya itu.


Plak!


Tamparan keras berhasil mendarat di pipi kiri Nasyra. Ia begitu terkejut dan memegangi pipinya yang panas akibat hasil cetakan tangan sang mertua.


"Kurang ajar ya, berani-beraninya membentakku. Siapa kamu, hah?!"


Sesaat kemudian Rama berjalan ke atas, ia hendak ke kamarnya yang jarang ditiduri sejak ia menikah dengan Nasyra, tentu saja karena sudah membeli rumah sendiri. Kamar itu selalu kosong, tetapi asisten rumah tangganya setiap hari selalu membersihkannya atas perintah nyonya besarnya itu.


Saat Rama melewati kamar Fira, ia memberhentikan langkahnya, Rama memicingkan matanya dan membuka telinganya lebar-lebar karena ia mendengar sesuatu yang mengejutkan. Rama menempelkan telinganya ke pintu, suara wanita paruh baya itu semakin keras memekik telinga Rama.


"Perempuan macam apa kamu, hah?! Dari awal pun aku sama sekali tak merestui pernikahan kalian. Kamu hanya seperti benalu yang hidup di kesuksesan anakku!"


"Ma--maafkan aku, aku sama sekali tidak punya pikiran seperti itu pada Kak Rama. Aku menikah dengannya karena aku--"


Belum selesai Nasyra berbicara, kalimatnya sudah dipotong oleh Fira.


"Karena apa, hah?! Karena kamu ingin menikmati harta anakku, kan? kamu ingin menjadi orang kaya instan, iya?!"


Sektika tak ada lagi suara Nasyra di pendengaran Rama, akhirnya Rama membuka pintu itu dengan kasar. Wajahnya sudah merah padam karena terbakar emosi. Ia begitu tak menyangka wanita yang melahirkannya, wanita yang sangat ia cintai, ternyata adalah sosok yang begitu jahat. Hanya gara-gara ia tidak menyukai Nasyra, ia menghina dan menyaktinya.


"Ma!" bentak Rama, seketika wanita9 itu terkejut dan menoleh ke arah pintu. Rama langsung menghampiri Nasyra yang berdiri lemah, menangis dengan isakannya yang semakin mengiris hati Rama.


"Apa yang Mama lakukan pada istriku?!" seru Rama dengan nada tinggi.


"Rama, Sayang ... Mama cuma ...."


"Sekarang Rama tahu, ternyata Mama tak sebaik yang Rama pikirkan.”

__ADS_1


"Mulai sekarang, aku tidak akan mengijakkan kaki di rumah ini lagi, sampai Mama mau menerima Nasyra."


Dua tahun lalu, saat Rama meminta orang tuanya untuk menikahkannya dengan Nasyra, Fira memang tak pernah setuju karena Nasyra bukanlah dari keluarga yang berada sepertinya, ia hanya menurut apa kata suaminya yang ingin Rama cepat menikah.


Fira sudah lama tinggal di Singapura, oleh sebab itu ia jarang sekali bertemu dengan Nasyra. Hanya sempat bertemu beberapa ki sejak mereka menikah, dan selalu meninggalkan kesan buruk pada Nasyra.


“Sayang, sebaiknya kita pulang saja. Kamu tidak apa-apa?” Rama merangkul istrinya lalu mengajaknya keluar dari kamar Mamanya.


“Rama, jangan pergi! Sayang, kamu dengar dulu penjelasan Mama. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Rama!” teriak Fira dengan air mata yang mengalir. Entah apakah itu benar-benar air mata penyesalan atau hanya kepura-puraan. Fira terus berteriak memanggil Rama walaupun tak ada respon dari anak lelakinya itu.


Irsan yang mendengar keributan dari atas, ia segera menaiki tangga. Kemudian ia berpapasan dengan Rama yang sedang berjalan berdampingan dengan Nasyr, sesekai Rama menenangkannya.


“Rama, ada apa ribut-ribut?” tanya Irsan penasaran, ia curiga ada sesuatu yang terjadi pada Istri dan anaknya itu, apalagi  Irsan juga melihat wajah murung menantunya, pipinya memerah dan basah dengan air matanya.


"Mama sudah keterlaluan sama Nasyra, Pa,” ucap Rama memperlihatkan emosinya.


“Apa yang Mama kamu lakukan?!” tanya Irsan.


“Kenapa?” Irsan mengernyitkan dahinya, ia merasa heran juga kenapa istrinya berani menampar menantunya.


“Sebaiknya Papa tanya langsung sama Mama, Rama dan Nasyra pamit mau pulang dulu.”


“Ya sudah, kalau begitu hati-hati,” Irsan menepuk bahu Rama. Nasyra, maafkan sikap Mam, ya??” lanjutnya yang hanya dijawab anggukan oleh wanita itu.


Rama dan Nasyra pun bergegas keluar dari rumah itu dan menaiki mobilnya, membelah kota yang yang masih ramai walaupun tidak ada kemacetan seperti di sore hari atau pagi hari.


“Sayang, maaf ya, aku baru menyadari sikap Mama yang keterlaluan sama kamu. Sejak kapan Mama seperti itu terhadapmu? Kenapa tidak pernah bercerita, Sayang?” tanya Rama saat berada di dalam mobil.


“Sudahlah, Kak. Aku nggak apa-apa, lagi pula aku cukup lega juga akhirya Kak Rama tahu sendiri. Aku hanya takut kalau aku cerita, Kak Rama tidak mempercayaku, atau Kak Rama akan membenci Mama.”


“Sayang, apa pun yang kamu katakan aku pasti akan mempercayainya, Jadi jangan pernah kamu berpikir meragukanmu."

__ADS_1


Rama tak terlalu fokus dengan kemudinya, Ia selalu memikirkan apa saja yang sudah Mamanya lakukan pada istri tercintanya itu. Apalagi Nasyra enggan bercerita kepadanya. Bukan saat yang tepat untuk menanyakan hal itu sekarang, apalagi Nasyra sedang tidak baik-baik saja.


Rama sama sekali tak menyangka wanita yang melahirkannya menjadi sosok yang kejam. Pikirannya juga benar-benar kalut saat ini.


Rama menggenggam tangan Nasyra dengan tangan kirinya agar sedikit menenangkan hatinya.


Bersambung ...


...Hay, reader baik...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2