Memeluk Kenangan

Memeluk Kenangan
Kecelakaan


__ADS_3

"Ada apa, Pak?" tanya Nasyra pada Pak Ki.


"Nyonya ... sepertinya mobil yang mengikuti kita tadi kecelakaan, menabrak pohon besar." Pak Ki menoleh kebelakang menginfokan pada sang Nyonya.


"Apa?!" Nasyra terkejut, ia segera membuka pintu mobilnya dan berlari menuju tempat kejadian di mana Fano kecelakaan.


“Kak Fano! Kak!” teriak Nasyra begitu ia melihat Fano di keluarkan oleh beberapa orang dari mobilnya yang mengeluarkan asap.


Tak sedikit orang yang berkerumun untuk melihat dan menolong kecelakaan tersebut. Nasyra begitu khawatir dengan kondisi lelaki yang pernah menjadi pujaan hatinya itu. Walaupun ia baru saja memberi ketegasan pada Fano dan menamparnya, tetapi hatinya berkata lain, hatinya memang lemah. Ia tidak bisa membiarkan Fano celaka. Ia hanya berharap lelaki itu selamat dan keadaannya akan baik-baik saja.


Nasyra langsung berteriak memanggil Pak Ki untuk segera menolongnya, membawa ke rumah sakit. Beberapa orang membantu mengangkat Fano yang tak sadarkan diri. Kepalanya mengeluarkan darah segar yang mengucur dibagian pelipis karena benturan yang begitu keras.


Nasyra menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya berderai, lolos membanjiri pipinya. Ia begitu syok, ia pun segera berlari membuka pintu mobil bagian belakang dan masuk terlebih dahulu, agar ia bisa memangku kepala Fano.


Di dalam mobil, tak henti-hentinya ia menangisi Fano, sesekali ia mengelus rambut dan wajah Fano penuh kasih. Tak peduli tangannya kini berlumuran darah milik Fano, saat ini di pikirannya hanya rasa bersalah dan kasihan melihat mantan kekasihnya itu lemah tak berdaya. Wajahnya terlihat pucat, sesaat ia terkenang akan masa lalu bersamanya kala itu.


Wajah ini, pernah menjadi potret istimewa di hati dan pikiranku, tangan ini juga pernah menggenggam dan menguatkanku saat aku terjatuh, dan tubuh ini ... pernah menjadi sandaran saat aku bahagia maupun sedih. Tapi semua hanya tinggal kenangan. Mengertilah, Kak. Namamu masih tersimpan di lubuk hatiku yang terdalam, rasa ini sungguh haram untuk kita miliki. Tiada harapan lebih, yang kumau ... aku cukup tau kamu bisa hidup bahagia dengan istrimu, begitu juga denganku.


Isakannya semakin membuatnya sesak, netranya tak berkedip melihat Fano yang terpejam di pangkuannya.


“Kak, sadarlah! Aku di sini, bersamamu. Tolong jangan membuatku takut.” Nasyra terus menjatuhkan buliran hangat dari matanya.


“Maaf Nyonya, kita ke rumah sakit mana?” tanya sopir yang sedari tadi berkonsentrasi mengendarai mobilnya.

__ADS_1


“Terserah Pak, mana saja yang terdekat,” jawab Nasyra, fokusnya masih pada Fano. Tangan satunya menggenggam erat tangan Fano.


...***...


IGD Rumah Sakit Mutiara Hati


Nasyra duduk termenung menghadap ruang IGD di depannya. Ia begitu cemas dan khawatir menunggu dokter yang menangani Fano keluar dari ruangan itu.


Tak lama kemudian, dokter pun membuka pintu. Nasyra bergegas berdiri, ia berjalan cepat beberapa langkah untuk menghampiri dokter itu.


“Dokter bagaimana keadaanya?” tanya Nasyra dengan nada panik dan penuh kekhawatiran.


“Apa Anda istrinya?”


“Eemm ... bukan, sa--saya temannya, Dok.”


Hanya berjarak sekitar dua meter, terlihat Allena sedang memperhatikan Nasyra. Ia merasa kalau Nasyra dan Fano memang ada sesuatu, ia mencurigainya sejak di acara grand opening beberapa jam yang lalu.


“Saya istrinya, Dok!” seru Allena, membuat Nasyra dan dokter di sampingnya menengok bersamaan. Nasyra pun memundurkan langkahnya, ia sadar dirinya bukan siapa-siapanya Fano. Mana mungkin ia akan dianggap, bahkan dokter sekalipun tak mengizinkannya untuk mengetahui keadaan Fano.


“Bagaimana keadaan suami saya, Dok? Apa saya bisa melihatnya sekarang?” tanya Allena.


“Pasien masih belum sadarkan diri. Mari, ikut ke ruangan saya Nyonya, saya ingin menyampaikan beberapa hal penting.” Allena berjalan di belakang dokter, menuju ke ruangannya,

__ADS_1


Allena menatap tajam ke arah Nasyra, seolah mengisyaratkan peringatan agar tak mendekati suaminya itu.


Nasyra duduk dengan lunglai. Ia lalu berjalan mendekati pintu IGD.Tangannya meraba jendela kecil yang berbahan kaca pada daun pintu itu, memperlihatkan keadaan Fano yang sedang terbaring lemah, dengan balutan di kepalanya. Ia terus menatap pilu mantan terkasihnya itu.


"Maafkan, aku, Kak. Kalau saja aku tidak emosi, dan meninggalkanmu, kamu pasti tidak akan mungkin berada di sana. Maafkan aku, segeralah sadar, Kak! Aku mohon ...."


Nasyra terus menyesali perbuatannya yang tidak salah, ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Buliran hangat itu semakin deras, ia terisak. Matanya mulai bengkak akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata kesedihan itu.


Beberapa saat kemudian, Nasyra mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu depan IGD. Ia menangkupkan wajahnya ke telapak tangan hingga tertutup. Tiba-tiba seorang laki-laki mendekatinya dan duduk di samping Nasyra yang sedang menangis. Dia mengelus lembut puncak kepala wanita itu hingga membuatnya terkejut, Nasyra menatapnya.


 .


.


Bersambung .....


...***Guys, ada yang masih setia baca nggak??...


...Pengen dong, author bisa ngrasain Vote dan hadiah dari kalian.😉...


...kalau enggak ......


...komen sama like aja juga udah cukup kok,...

__ADS_1


...Jejak kalian bikin aku semangat...


...Terima kasih yaa... lopyu all***...


__ADS_2