
Nasyra menatap tajam ke arahnya, hingga Fano tak mampu membalasnya. Pandangan itu sulit diartikan. Entah kemarahan bercampur kesedihan, atau pun dia memang menahan emosinya. Di sisi lain rasa iba dan cinta menjadi alasan utamanya untuk bersimpati pada sang mantan terkasih itu.
"Mau kamu menyentuhnya atau tidak, anakmu atau bukan, aku tidak peduli dan itu juga bukan urusanku, Kak. Jadi, lebih baik kamu kembali saja ke istrimu. Hiduplah bersama keluargamu, jangan mencariku lagi!" tegasnya sambil bersender kasar ke kursi.
"Ra, sampai kapan pun, aku akan tetap berusaha mendapatkanmu untuk kembali ke pelukanku lagi. Aku sangat mencintaimu, Ra."
"Jangan terlalu berharap!"
"Ra, please maafkan aku! Kenapa setelah mendengar semua penjelasanku kamu masih marah dan membenciku? Aku berkata jujur tanpa ada yang kututupi."
"Kamu tanya kenapa, Kak?! Pertanyaan yang lucu." Nasyra menyunggingkan bibirnya sambil berdiri.
"Kamu pikir semudah itu melupakan kebohongan yang kamu? Kamu pikir mudah, memaafkan sesuatu yang menyakitkan?! Nggak segampang itu, Kak!"
"Lalu, aku harus bagaimana, Ra. Apa aku harus bersujud agar kamu mau memaafkanku? Sungguh, rasa ini sangat menyiksaku. Aku terus dihantui rasa bersalah karena telah menyakitimu. Sampai kapan pun rasa sayangku tidak akan berubah sama sekali." Fano berdiri lalu meraih tangan Nasyra dan menggenggannya.
Nasyra mengibaskan tangan Fano, ia kemudian berdiri, memilih untuk beranjak masuk ke dalam rumah. Namun dengan cepat Fano menarik tangannya lagi.
"Jangan dulu masuk, Ra. Aku belum selesai."
"Setidaknya aku sudah mendengar semua penjelasanmu. Bukankah itu sudah cukup?! itu 'kan, Kak, yang kamu mau?"
Kak, semakin lama kamu berada di sini, semakin sulit juga aku melupakanmu. Hatiku sakit karena aku masih belum bisa menghapus rasa ini dari dalam hatiku. Antara benci dan cinta, aku pun tak tau mana yang lebih besar berkelut di hatiku.
"Ra ... aku sangat merindukanmu." Fano berkata lirih, matanya tak bisa berbohong bahwa dia sangat menderita saat ini.
Aku juga, Kak. Aku sangat merindukanmu. Kenapa semua ini harus terjadi pada kita, batin Nasyra.
__ADS_1
"Kak, sekarang pulanglah! Istri kamu pasti menunggu. Tenang saja, aku akan baik-baik aja kok. Jadi kamu nggak usah terlalu memikirkan aku."
"Aku ingin kamu memaafkanku, Ra," mohon Fano dengan raut wajah putus asa.
"Baiklah, Kak. Kalau itu akan membuatmu tenang, aku akan memafkanmu." Netra Nasyra tak berkedip saat ia mulai melembutkan hatinya untuk Fano karena tak tega melihat Fano yang terus memohon.
Pandangannya masih sama saat ia menatap lelaki di depannya dua tahun lalu, saat di mana mereka masih menjalin hubungan yang penuh dengan cinta tanpa adanya masalah rumit seperti sekarang.
"Terima kasih, Ra. Aku tenang sekarang, setidaknya kamu mau memaafkan kesalahan terbesarku. Boleh aku memelukmu?"
Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung memeluk erat Nasyra. Tak peduli di mana ia sekarang, bagaimana ia harus menjaga sikap. Baginya, yang terpenting sekarang, ia merasa lega karena sudah mendapatkan maaf dari wanita yang dicintainya.
"Kak, lepasin!" rengek Nasyra berusaha mengurai pelukan Fano.
Fano segera melepas pelukannya. Ia langsung tersenyum haru pada Nasyra, "Terima kasih." Lagi dan lagi, tak ada hentinya mengucap kata itu.
"Maksud kamu apa, Kak?"
"Hubungan kita ... bisa lanjut, 'kan?"
"Kak, aku memang sudah memaafkanmu, tapi untuk lanjut, itu tidak akan mungkin terjadi," tutur Nasyra dengan nada sedikit tertahan di tenggorokan.
Berat memang rasanya berpisah dengan lelaki yang dicintainya. Namun, keputusan yang diambil sudah benar, bukan? Menjauhi lelaki yang beristri adalah sesuatu yang harus ia lakukan, walau sesakit apapun dia harus rela melepasnya.
"Tapi ... kenapa, Ra? Bukankah kamu mencintaiku?"
"Rasa itu sudah hilang, Kak."
__ADS_1
"Kamu bohong! Aku masih yakin, rasa itu masih ada dalam hatimu. Jadi, biarkan aku mengobati luka yang kugores."
Gadis itu menggeleng, perlahan ia mundur dengan deraian air mata.
"Sebaiknya kamu pergi, Kak. Aku harap kamu bahagia dengan keluargamu. Ini terakhir kalinya kita bertemu, terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk merasakan kasih sayang darimu," ucapnya sambil menunduk, menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya.
Kalimat yang diucapkan Nasyra cukup membuat Fano tertegun, harapannya ternyata salah. Dia tak menyangka ini akan menjadi pertemuan terakhir yang Nasyra inginkan.
Ternyata aku hanya mendapat maafnya saja, bukan untuk memilikinya lagi. Apa aku akan sanggup? Saat ini hanya kamu yang mampu mengisi hatiku, Ra. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Fano frustasi setelah mendengar keputusan Nasyra.
"Aku pikir, begitu aku mendapat maaf darimu ... aku akan mendapatkan hatimu kembali, Ra."
"Jangan berharap lebih, Kak. Sudah ya, aku sibuk. Sebaiknya kamu pulang!" perintah Nasyra dengan nada lembut.
Nasyra segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Sementara Fano, ia masih berdiri dengan tatapan kosong melihat ke arah Nasyra yang berlalu pergi hingga tak terlihat punggungnya.
Ia mencoba kuat walau hatinya rapuh, tapi ... entahlah, jika masalah hati siapapun mungkin akan lemah, walau lelaki bertubuh kekar sekalipun.ðŸ¤
Bersambung ...
...Tinggalkan jejak ya guys...
...Biar author semangat...
...Komen, like sama vote nya...
...⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1