
Benar saja pagi ini Mas Prima datang sebelum pukul jam 10, dia mengutarakan maksudnya akan kegiatan hari ini bersamaku.
" Tadi pagi saya sudah bicara dengan ibu saya, dan kesepakatan akad dan resepsi diadakan di gedung di siang hari saja, agar supaya saudara yang jarang ketemu bisa bercengkrama lebih lama, jika diadakan malam hari waktunya akan sangat terbatas", ucap Mas Prima pada bapak dan bapak pun mengangguk setuju.
" oke clear masalah itu gedung akad dan resepsi, Bapak juga mohon undangan dibatasin saja jangan terlalu banyak sekitar 500 undangan saja", ucap Bapak dan Mas Prima pun setuju.
" Nanti kita bicarakan lagi mengenai catering dan dekorasi serta acara pengajian nya", ujar bapak kembali.
" Maaf bapak, Mas Prima, apapun rencana kalian flow hanya ingin pernikahan yang sederhana jangan terlalu membebani kalian yang penting makanan cukup tidak kekurangan, tidak perlu banyak stand yang penting ada makanan pokok ada makanan ringan ada minuman segar itu saja sudah cukup plus souvenir yang cukup antik tidak usah yang mahal-mahal yang penting kegunaannya", aku terpaksa mengusulkan keinginanku, sungguh aku tak mau jadi beban bapakku.
" Iya nak mending kamu serahkan semuanya sama bapak dan calon suamimu dan tugasmu adalah mempersiapkan mental mu untuk menjadi istri dan juga calon ibu yang baik", ujar bapak.
" Iya ini juga Mas mengusahakan sesederhana mungkin dik, jika pun sedikit berlebih itu hanya untuk menghormati kolega Mas, tidak memungkinkan mereka jauh-jauh datang tetapi kita nya terlalu santai juga, minimal ada hidangan yang sedikit menggugah selera mereka", ujar Mas Prima memohon pengertian ku juga.
" Baiklah, aku setuju Mas kalau hanya mengenai makanan tetapi untuk dekorasi dan yang lain-lain yang sekiranya mubazir tidak usah terlalu difokuskan", jawabku dan Mas Prima pun tersenyum mengerti.
" Terima kasih dek untuk pengertiannya, tolong nanti dicatat makanan makanan favoritmu, Karena Mas akan memesan makanan itu menjadi hidangan di salah satu stand pesta kita nanti".
" Waahhh.... pokoknya tidak boleh ketinggalan dipesta nanti harus ada bakso kuah yang segar, serta es puding kegemaran flo", ujar Bapak terkekeh mengenang makanan favoritku itu.
" Siap nanti pasti kita pesankan juga", Mas terima pun ikut terkekeh menanggapi ucapan bapak.
" Bapak penggemar kambing guling Mas prim", ujarku menimpali.
" Wah.... kalau itu itu berarti Mas sama bapak satu selera, cocok itu Pak nanti kita pesan juga", Mas prima dan Bapak tersenyum sumringah.
" Ya sudah Pak, bu flow pamit dulu, habis pilih baju flow mau langsung pulang ke kosan jadi sekalian pamit mungkin baru dua minggu lagi flo akan pulang untuk menyambut kedatangan keluarga Mas Prima", pamit Flo kemudian kepada bapaknya.
__ADS_1
" Iya kamu hati-hati jaga diri baik-baik dan jangan lupa selalu berdoa memohon dilancarkan diteguhkan hati muna ini bukan perkara untuk hari esok tapi ini perkaramu sampai di ujung usia mau nanti", pesan Bapak padaku dengan memelukku lembut.
" Iya Pak, aku nanti jika pulang juga mau ke makam mamah dulu untuk bercerita tentang rencana ku ini", ucapku Lirih.
" iya harus begitu". dan aku pun melepaskan pelukan Bapak kemudian Mas Prima ganti berpamitan.
" Pak saya pamit dulu ya, nanti klo sekalian saya antar ke kosannya, jika ada sesuatu yang ingin bapak sampaikan bapak bisa menelpon saya ya apapun itu tolong bicarakan", ujar Mas Prima penuh pengertian pada bapak.
" ya hati-hati", jawab Bapak dan kami pun juga berpamitan pada ibu kemudian kami berangkat.
" Cari baju untuk lamaran di kebaya sama batik sarimbitan aja, meskipun acaranya di rumah tetapi masih ingin mempersiapkannya semaksimal mungkin untuk kita", Mas Prima menoleh ke arahku dengan berbicara lembut.
" Iya Mas", jawabku singkat, Aku hanya ingin mengalir saja meskipun tidak terlalu antusias tapi aku juga harga tidak memungkiri bahwa aku sebenarnya juga sangat bahagia mempersiapkan semua ini.
" warna kesukaanmu apa dek?", tanya Mas Prima.
" ok, untuk lamaran adik pakai kebaya ungu, untuk akad pakai warna putih atau hijau, untuk resepsi pakai ungu lagi Tapi ungu yang berbeda tidak sama dengan untuk lamaran, bagaimana jika begitu?", Mas Prima mengusulkannya padaku.
" kita lihat nanti jika sudah sampai butik Mas", jawabku.
" adek punya nomor rekening Bapak?", tanyanya.
" punya, untuk apa Mas?".
" Mas mau transfer bapak untuk dp gedung", Jawab mas Prima, jujur aku salut sama mas prima yang mengerti sendiri akan kebutuhan persiapan pernikahan ini.
" Makasih ya mas, karena mas ngertiin bapak", Ucapku.
__ADS_1
" Sudah kewajiban mas dik, lagian ini kan untuk kepentingan kita".
" Iya".
" Siapkan jadi nyonya Prima? Adik harus siap juga lho jika nanti resign dari tempat kerja adik, di bank itu biasanya suka pulang hingga malam hari, mas tidak akan biarkan begitu jika adik sudah jadi istri mas".
" Ya siap ga siap mas, tapi paling tidak biarkan hingga aku hamil baru resign ya", pintaku.
" Kenapa? Jika mas ada proyek luar kota adik harus ikut, mas ingin kemanapun mas ada kerjaan adik harus berada disisi mas, jikapun nanti kita ada anak adik harus ikut terus bersama mas".
Aku terdiam, memikirkan setiap perkataan mas Prima, dan kemudian akupun mengangguk setuju saja, belum kebayang juga nantinya akan seperti apa.
Aku hanya ingin melalui hari hariku tanpa beban pikiran yang berat, pokoknya aku hanya terus berdoa supaya Mas prima adalah suami yang setia itu saja aku tidak kebayang jika nanti di depannya ada sebuah penghianatan.
Mungkin mudah bagiku untuk melupakan Mas Prima jika hal itu terjadi, mungkin saja aku tidak akan sakit hati sehebat sakit hatiku pada Tian saat dia jalan sama Icha.
" Dek minggu depan adek harus ikut Mas ke rumah ibuku, sebelum acara lamaran sebaiknya kalian saling bertemu terlebih dahulu, Ibu penasaran banget deh sama kamu", muslimah berbicara dengan masih fokus mengendarai mobilnya sesekali melirik ku.
Hatiku langsung dari grup mendengar ingin dikenalkan pada ibunya, " Ya ampun Mas jika nanti Ibu nggak menyukaiku gimana?", kok Aku jadi khawatir ya padahal aku ini nggak cinta sama Mas Prima.
" IBu ku itu hanya orang biasa dek orang kampung yang lugu, tidak suka neko-neko, dan hidupnya lurus-lurus aja", ujar Mas terima membanggakan ibunya.
" Seperti Mas dong ya, hidupnya lurus-lurus aja tahunya hanya pekerjaan dan uang", Aku terkekeh.
" itu dulu dek sekarang tidak lagi aku sudah mengenal cinta saat bertemu denganmu", Mas primapun terkekeh lebar.
Next....
__ADS_1