MEMILIH DI CINTAI

MEMILIH DI CINTAI
Jalan sore


__ADS_3

" Flo kamu mau mampir ke rumahku dulu tidak, sudah tidak jauh dari sini loh!", ujar Desi ketika selesai pamit dengan Bu Marni.


" Apa aku mampir ke rumah Desi dulu ya Mas?", tanya flo kepada Prima.


" biar Flo di sini dulu nanti akan main ke rumah Desi jika sudah resmi nikah saja", Bu Marni langsung menyambar memberikan jawaban.


" Oh ya sudah saya pamit dulu ya", Desi dan Fathan kemudian pamit.


" Nanti pulangnya Mas Fathan gimana mau bareng sama kita lagi?", Tanya flo.


" Tidak usah gampang nanti bisa naik angkutan umum", jawab Mas Fathan.


" Dik, sepertinya Ibu masih ingin ber kangen kangen ria bersamamu", Prima memegang kedua pundak flower dari belakang dan mereka berjalan ke arah Bu Marni.


" Nanti, minggu depan kita akan datang ke rumah bapakmu kira-kira 2 atau 3 mobil paling banyak 15 orang mungkin sama anak-anak yang 18 orang, tolong informasikan pada bapakmu", ucap Bu Marni.


" Iya Bu".


" Ibu berharap anak flo bisa menerima anak Ibu apa adanya, tolong sayangi Prima ma, Ibu sudah sepuh sudah sewajarnya jika Prima mempunyai kehidupannya sendiri, sudah cukup dia memikirkan adik-adiknya serta ibu".


" insyaallah bu".


" Segala sesuatunya awali dengan niat baik berdoa dan pasrahkan semuanya pada yang di atas, Ibu tahu kalian belum lama kenal, tapi jika jodoh meskipun belum lama kenal tapi kalian bisa saling mengisi bisa saling toleransi dengan baik saling mengerti insya Allah semuanya dimudahkan".


" Iya Bu ", kali ini Mas prima yang menjawab.b


" Sudah sampai mana persiapan kalian?", tanya Bu Marni.


" Bapak bilang gedung Sudah Bu, tinggal nunggu persyaratan darimu Mas, agar nanti dibawa sewaktu lamaran agar secepatnya bisa diurus berkasnya ke KUA".


" Oh iya dek, nanti saja sekalian lamarannya Mas siapkan semuanya".


Selesai berbincang Mas Prima mengajakku berkeliling kompleks dengan menaiki sepeda motornya.


" Suka minum dawet nggak dek?",


" emang sore-sore begini ada yang jualan dapat Mas?".


" Ada, kita beli dapat aja ya".


" biar ngirit ya Mas", ucapku sambil terbahak.


Mas Prima pun ikut tersenyum, " Iya dong biar bisa beli mas kawin yang menakjubkan", jawabnya sambil terkekeh.

__ADS_1


" Apa itu yang menakjubkan, pesawat televisi ya?", kuda Aku mengingat obrolan tadi siang bersama Desi.


" ya enggaklah dek yang agak keren gitu loh, untuk calon istriku yang spesial", Mas terima terkekeh.


Mas Prima mengendarai motornya pelan-pelan entahlah kadang-kadang sambil menarik tanganku untuk dilingkarkan di pinggangnya.


" ih jangan gitu dong Mas, malu diliatin orang", protes ku.


" takut jatuh Mas tuh, biarin dilihatin orang juga biar nggak ada yang berani naksir kamu dek bentar lagi kita mau nikah", ucapnya.


" Di tempat dawet ada apa aja Mas?".


" lihat aja nanti".


" tuh di depan depot nya", tunjuk Mas Prima pada warung pinggir jalan yang terlihat sederhana dengan dinding bambu yang dianyam rapi.


" ih banyak anak-anak muda yang pacaran", ucapku dekat telinga Mas Prima agar tidak kedengaran dengan mereka yang sedang pacaran.


" Kita juga sedang pacaran dek jangan ngiri sama orang lain".


" Kata siapa kita pacaran, cuma boncengan doang, geer banget kamu Mas", protesku tidak terima jika dibilang pacaran.


" Iya, mereka juga cuma boncengan ke sininya, sama seperti kita boncengan berdua, pesan dawet berdua, cari tempat duduk ngobrolnya juga berdua, kecuali Adik nggak mau ngobrol sama mas cari teman ngobrol sendiri di situ", ucap Mas Prima.


" Dawetnya dua ya Bu saya duduknya di sana", pesan Mas Prima sambil menunjuk tempat duduk.


" Oh iya Mas tunggu nanti diantar ke sana kok", jawaban jual itu.


" Sini duduk dek, kita pacaran dek", fisik Mas Prima kemudian setelah aku duduk.


Aku cuma melirik dia sambil memberengut.


kemudian Mas Prima meraih tanganku dan menggenggamnya sambil sedikit di elus-elus.


" Dek jangan cemburu dong", bisiknya pelan sambil mengusap kepalaku.


" Lepasin tangan aku Mas, malu", lirihku.


" Dek sampai kapan kamu tuh malu jika jalan bareng sama aku, pa nanti kalau aku sudah jadi suami kamu juga tetap akan seperti ini, malu terus?", ucap Mas Prima pelan, namun ucapannya itu membuat hatiku mencelos, seperti tertampar kenyataan, nggak mungkin juga lah aku tetap malu, kasihan, Dia kan tulis banget sama aku, masa aku mau malu terus begitu lah kata hatiku.


" Bukan malu jalan sama mas, tapi aku malu jika Mas pegang pegang tangan aku di tempat umum", jawabku akhirnya agar tidak menyakiti hatinya.


" Beneran adek sudah nggak malu jalan sama mas?".

__ADS_1


Aku tidak berani menjawab hanya menunduk saja, mau jujur nggak mungkin takut hati Mas Prima sakit karena tersinggung, mau bohong juga nggak berani, lebih baik diam saja.


" Mas suka olahraga nggak Mas?", tanya kemudian.


" Suka dek, bulutangkis, sepak bola, ping pong juga suka", jawabnya.


" Berarti Mas sering olahraga?".


" permisi", dapat pesanan kita telah diantar oleh pegawai kedai.


" Selain dawet Ada apa lagi mbak?", tanya Mas Prima.


" ada gorengan Mas, yang masih hangat tahu goreng, tahu isi, tempe mendoan sama onde-onde, mau di bawakan ke sini?".


" Oh ya komplitin aja 2 2 bawa ke sini ya".


" baik Mas".


" Tadi sampai mana dek, obrolan kita?".


" Berarti mas sering ya olahraga?", flow mengulangi pertanyaannya.


" jadwal bulutangkis malam Rabu dek dari habis magrib biasanya Mas bisa pulang sampai tengah malam, sama malam Minggu, sepak bola biasanya Sabtu pagi, kalau pingpong itu mah di tempat kerja juga ada mejanya kalau senggang kita juga iseng-iseng bareng sama teman-teman", jawabnya.


" Adik suka olahraga enggak?".


" Bulu tangkis aja Mas aku mah, voli aku juga bisa tapi males kan udah lama enggak lagi",


" Oh iya Mas voli juga suka dulu waktu belum saya sibuk sekarang".


" Tapi nanti kalau kita udah nikah nanti olahraganya berenang saja biar bisa berdua bareng", ujar Mas Prima sambil terkekeh.


" Modus", umpatku kesal.


" Kalau udah nikah modusnya enggak dosa tapi dapat pahala ye ye...", Mas Prima terkekeh kegirangan.


" Girang banget ih", ucapku kesal.


" Pastilah apalagi kalau berenangnya di atas kasur oh, tidak akan aku ke pinggir Aku pengen tenggelam terus dik", Mas Prima terkekeh lebar.


" Berenang di atas kasur mana bisa tenggelam, tenggelam di lautan kapuk", ujarku nggak mau menanggapi ke absurd an Mas prima.


" lautan asmara dong dek, asmara kita", jawab Mas Prima setengah berbisik di dekat telingaku am bikin merinding karena kegelian.

__ADS_1


Next ...


__ADS_2