MEMILIH DI CINTAI

MEMILIH DI CINTAI
Lemon buatan suami


__ADS_3

Hari terus berganti sudah hampir 2 bulan flower dan Prima menempati rumah barunya meskipun rumah itu belum begitu sempurna, namun mereka memaksakan untuk ditempati dan sedikit demi sedikit untuk dibereskan yang belum sempurna itu.


" Mas, tadi Bapak menelpon katanya Ibu sedang sakit, sebaiknya apakah kita pulang atau tidak ya?", flower meragu, bukan tak rindu dengan bapak serta ibu sambungnya itu serta saudaranya yang lain, namun semenjak memutuskan untuk menikah flower seakan enggan pulang ke kampung halamannya itu.


Bukan tidak sayang dengan orang tua, sejujurnya flower enggan jika pulang dan nanti akan ketemu orang-orang yang dulu telah ah dia kenal, Flo tidak mau jika ada yang mengungkit sedikit saja tentang Tian.


Ternyata mengubur cinta itu begitu sulit jika masih berhubungan dengan orang-orang yang bersinggungan dengan cinta itu sendiri.


Rasanya flow akan pulang jika dia merasa sudah benar-benar mencintai suaminya, sehingga apapun yang bersinggungan dengan Tian tidak akan pernah lagi digubrisnya.


Meskipun sudah beberapa bulan berlalu dan telah hidup nyaman bersama sang suami tetapi cinta itu masih ada sulit untuk dilepaskan hanya dalam waktu hitungan bulan.


" Ayo kita pulang aja dijenguk lah orang tua kita dek, kenapa kok adik sepertinya enggan pulang setelah kita menikah, cinta banget ya sama mas?", Goda Prima pada sang istri yang sedari tadi malah nampak diam dan bengong.


flower tersenyum seraya menatap sang suami, " Iya deh tapi kita datangnya di sore hari aja ya hari Sabtu sore nginep kemudian pagi-paginya pulang", jawab flower.


" Lho, jadi pulangnya kita cuma numpang tidur doang?", prematur heran dengan permintaan sang istri.


" ya nggak pagi-pagi sekali mas, jam 10 jam 11 kita sudah berangkat pulang lagi ke sini jadi tidak menunggu sore, agar besok paginya kita bisa fresh kembali saat berangkat kerja tidak kecapean", sebetulnya alasan flower masuk akal sekali cuma tetap aja hal itu membuat hati Prima terheran.

__ADS_1


" Semenjak kita nikah kita belum pernah pulang lho yank, Yakin cuma mau segitu nggak mau berangkat hari Jumat pulang kerja gitu misalnya?", Prima menatap istrinya mencari kepastian atas pertanyaannya tadi.


Prima hanya melihat istrinya itu tersenyum, tidak menjawab atas perut pertanyaannya yang kedua ini, namun Prima juga setuju saja dengan usulan flower.


Bagaimanapun jika waktu yang diminta istrinya seperti itu berarti mereka tidak terburu-buru lebih santai dan bisa membereskan rumah terlebih dahulu sebelum berangkat di hari Sabtu pagi.


" sebetulnya aku kangen sekali sama bapak Mas sama Kak pria sama Kak Freddy tapi kondisiku ini yang cepat lelah jadi di akan lebih nyaman sepertinya jika istirahatnya lebih banyak di rumah nanti ketika kehamilanku ini sudah tidak begitu merepotkan kita akan menginap di sana 2 malam", jawab dan Prima pun mengerti.


Meskipun alasan sebenarnya bukan seperti itu, flower hanya belum sanggup untuk bertemu dengan kawan-kawan lamanya, apalagi jika nasib apes menimpanya yaitu bertemu dengan Tian, itu satu hal yang sangat ia takutkan, meskipun sedikit pun tak ada niat hati flower untuk kembali pada laki-laki itu ataupun merindukan tidak sama sekali, tapi di hati flower nama itu masih ada dan jika bertemu flower takut, flower khawatir jika dia semakin tidak bisa move on.


" Maafkan Aku nggak bisa utarakan alasanku yang sebenarnya, Jujur aku bahagia dengan pernikahan ini aku bersyukur menjadi istrimu, tapi untuk membuang satu nama dihatiku itu masih butuh waktu dan aku masih belum bisa membuangnya dari hatiku, aku sudah berusaha, Aku sudah berdoa tapi begitu sulit dia lepas dari ingatanku, maafkan aku Mas... denganmu aku tentram, menikahimu aku merasa tenang, dan aku akan lebih senang jika bisa menerimamu, mencintaimu, menghargai ketulusanmu, tanpa bayang-bayang Tian di hatiku, aku masih butuh waktu tapi bukan berarti aku memikirkan dia tidak sama sekali aku hanya butuh waktu untuk membuangnya dan siap untuk bertemu jika memang Tuhan menghendaki bertemu dan bertegur sapa, maka saat itu aku harap rasa itu sudah benar-benar lenyap dari hatiku dan hanya ada namamu Mas di sini di lubuk hatiku yang paling dalam, aku istrimu dan kamu ladang pahala untukku menuju surga tapi aku hanya manusia biasa, perasaanku dulu teramat terikat dengan satu nama " Tian" dan aku harus pelan-pelan melepaskannya nya", flower bergumam dalam hati, dia tahu bahwa dicintai itu lebih nikmat daripada mencintai.


" bicaralah jika ada yang kamu inginkan, atau Kamu lapar menginginkan sesuatu, mumpung belum terlalu larut Mas belikan sekarang ya?", Rima mengusap punggung istrinya dengan lembut.


" Lemonnya ada di kulkas?", tanya prima yang berniat untuk membuatkan minuman yang sedang diinginkan oleh istrinya itu.


" ada".


" Gimana cara buatnya Mas yang buat kan ya".

__ADS_1


" Ambil dari kulkas dicuci, diiris, di peras, beri gula 2 sendok mas karena aku lagi pengen yang sedikit ada manisnya baru di siram dengan air panas dan tambahkan sedikit air yang suhu normal".


" Siap nyonya, suami siaga siap menyediakan lemon panas malam ini", terima pun menuju dapur untuk menyiapkan minuman yang diinginkan oleh istrinya.


" Terima kasih suamiku!".


" Mungkinkah akan seperti ini suasananya jika aku menikah dengan Mas Tian, mungkinkah Dia akan seperhatian itu? atau malah sebaliknya, kenapa malah memikirkan Mas Tian... astaghfirullahaladzim ya Allah", flower memasak kasar wajahnya, seakan ingin membuang pikiran dan nama yang melekat di hatinya itu.


" Ya Allah jangan pertemukan hamba selagi hampa masih ada rasa, pertemukan jika memang waktunya sudah tepat, atau kalau perlu tidak usah sama sekali", kuman flower kembali.


" Lemon panas sudah siap", Prima masukin kamar dengan satu mug lemon panas di tangannya.


" Terima kasih", flower tersenyum lebar menerima mug dengan asap mengepul dan harum lemon khas yang segar.


" Hemmmm..... seger!", flower memberikan jempolnya untuk sang suami yang telah membuatkan minum yang sedemikian pas di lidahnya.


" Terima kasih ya Allah, istriku dan anakku sholehah sekali tidak pernah merepotkan ku meskipun sedang mengidam", Prima mengusap lembut kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.


" kok bisa pas begini sih?", ucer flower memuji sang suami yang baru pertama kali membuat kan minum lemon panas dengan rasa yang pas.

__ADS_1


" Alhamdulillah.... karena mas membuatnya sambil berdoa dengan penuh rasa cinta dik, istriku sayang, makanya istriku bisa menikmati dengan rasa yang sesuai selera", Prima bersyukur ternyata istrinya memuji dan menyukai lemon buatannya.


Next....


__ADS_2