MEMILIH DI CINTAI

MEMILIH DI CINTAI
Keputusan


__ADS_3

Saat teman Desi ini mengantarkan ke kosanku aku bilang sama dia.


" mas kita berteman aja, aku masih punya pacar soalnya, dan aku cinta sama pacarku, sementara sama Mas aku nggak ada rasa", kata-kata aku saat itu tanpa memikirkan perasaan dia, malah aku berharap dia sakit hati dan tidak menemuiku lagi.


Oh ya, nama lelaki itu Prima Tirta sumbada dia seorang kontraktor, usianya 8 tahun diatasku, lebih tua 3 tahun di atas Tian.


Seorang lelaki yang sudah cukup matang usianya bahkan sudah sangat siap untuk menikah, tadinya mau aku jodohkan saja sama Icha, tapi hati kecilku mengatakan tidak, biarin dia cari sendiri, dia kan teller di tempatku kerja harusnya dia juga banyak kenalan, apalagi keberadaan kerjanya yang di depan pasti dia udah punya koleksi banyak cowok, pikirku seperti jahat saat itu ya.


Aku tuh orangnya selalu berfikir sendiri, mengambil kesimpulan sendiri, jadi ya... gitu deh kesannya jadi seperti egois, padahal jika ada yang memberi tahu, aku sebenarnya orang yang suka penurut dan bisa menerima pendapat orang dengan baik.


Lelaki itu hanya tersenyum mendengar pengakuan ku kemudian menjawab, " nggak apa-apa seiring dengan waktu aku bisa mendapatkan cinta itu", katanya berbicara tenang dengan senyum yang tidak dibuat-buat.


" Kok aneh sih, dia nampak enggak kesal atau sakit hati sepertinya santai saja pandai sekali dia menyembunyikan perasaannya", batinku saat itu mendengar jawaban darinya.


karena aku yang sering malas dan tidak bersemangat jika akan bertemu dengan Mas Prim, akhirnya pertemuan itu hanya sesekali saja jika aku benar-benar sedang longgar waktu.


Namun Tian sesekali masih datang ke tempat kosku, mungkin jika libur, entah mau menemuiku atau menemui Icha atau mungkin dua-duanya, Aneh juga jika dipikir, sekarang dia kan sudah diluar kota, kok masih datang.


Respon ku sudah tak sehangat dulu, jelas! aku memang wanita bodoh yang sedikit egois, tapi aku harus berpikir, 'meskipun kadang terlambat apa yang aku pikirkan tapi seenggaknya aku tetap berpikir.


Lebih baik aku mulai melepas rasa cintaku untuk Tian, mungkin dengan datangnya dia akan bisa lebih mudah aku merelakan dia pergi dari hatiku.


Saat ini Tian datang ke kosanku setelah hampir 3 bulan kita tidak pernah bertemu, dia mengajakku makan di luar, aku menyambutnya dengan senang hati hari ini tekadku sudah bulat Aku ingin mengutarakan keputusan hatiku tentang hubungan kami.

__ADS_1


Di tempat makan itu kami bercanda seperti biasa nggak ahir nya di ujung pertemuan itu aku ungkapkan jika aku ingin putus dari dia.


" Berapa lama sih hubungan kita? kamu ingat enggak?", aku pura-pura menanya lamanya hubungan kami.


Dia terlihat mengingat-ingat sesuatu kemudian menjawab


" Ya inget lah, kita itu kekasih abadi sudah hampir 9 tahun", jawabnya terkekeh.


" Enggak kerasa Ya selama itu? dan selama itu pula kamu menggantung hubungan ini, sampai membuat hatiku capek tau nggak, apakah nggak sebaiknya kita putus?", ungkap ku benar-benar dari dalam hati.


" Hah!", Tian sangat terkejut, wajahnya menampakan ketidaksukaan dan bahkan baru kali ini aku melihat wajah kemarahannya.


" Kamu selingkuh?", pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


" Capek, Aku tidak pernah membebankan apa-apa tentang hubungan ini kenapa harus capek ya kecuali Kamu sudah punya cowok lain", ucap Tian nadanya sinis penuh kebencian terhadap ku.


" 9 tahun kita sudah bersama, Tidak adakah niatmu untuk menikahiku Tian?", wah, akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku rasanya seperti gejolak perang dunia ke-2, aku bisa menyingkirkan ego dan gengsi ku.


" Belum saat ini lah tunggu", jawabnya dia menatapku seperti tidak suka dengan pertanyaanku yang tadi masih terlihat jelas di matanya.


" Aku harus menunggu sampai kapan? berapa lama? tolong katakan!", tanya aku beruntung ingin kejelasan yang sejelas-jelasnya.


" Ya tunggu, ibuku belum memberikan lampu hijau jika aku harus menikah dalam waktu dekat pekerjaanku saja untuk hidupku sendiri aja masih pas-pasan", entahlah itu jawaban yang aku dengar dari mulut Tian, dia bilang gajinya hanya cukup untuk hidup sendiri pantas saja dia tak pernah membelikanku apapun kecuali sesekali mentraktir makan jika bertemu.

__ADS_1


" Jika kamu ingin menikah carilah lelaki yang bisa mencukupi mu", ucap Tian begitu lantang tak memikirkan perasaanku sama sekali.


mendengar ucapan Tian seperti itu, dadaku langsung sesak mataku memanas, bibirku tersungging senyum miring untuk diriku sendiri, Miris sekali hampir 9 tahun Aku tidak menyangka akan sia-sia ini waktuku.


" Yaaa.... ", jawab ku sunggingkan senyum di bibir ku, senyum penuh luka.


" Tentu saja, pastilah setiap wanita pasti mengharapkan mendapatkan suami yang begitu mencintai dirinya nya memuja dan menjadikan ratu dalam rumah tangganya", jawab ku ku telan dalam-dalam rasa kecewaku kutunjukkan saja senyum menawan ku.


Tian hanya menunduk tak menanggapi ucapanku entah apa yang dia pikirkan aku tak peduli lagi aku anggap kata-katanya lagian tadi adalah sebuah kata putus untuk hubungan kami.


" Oh ya Tian, Aku sudah kenyang Terima kasih ya atas traktirannya, aku bisa pulang sendiri nggak usah kamu antarkan", ucapku seraya berdiri meninggalkan meja kami.


tak Ada Jawaban atau respon apapun, hingga Aku berjalan beberapa langkah meninggalkannya dia masih tetap tertunduk di sana tak ada niatan untuk menyusul langkahku, akhirnya aku tidak memilih jalan ke depan restoran itu aku menyamping aku memesan sebuah taksi untuk pulang menuju kosan ku aku tak ingin dia mengajariku pastilah arahnya langsung ke jalan, dan itu, Aku tidak mau.


Benar saja hingga aku mendapatkan taksi itu hampir 10 menit dia tak beranjak dari duduknya masih tertunduk di sana.


Aku sudah tidak peduli, di dalam taksi itu langsung aku blok semua nomornya semua akun-akun yang berhubungan denganku dalam taksi itu Aku berjanji di dalam hatiku untuk membuang namanya di hatiku akan ku kubur dalam-dalam hingga ke takkan pernah lagi tumbuh.


Sesampainya di rumah aku melihat ija sedang bertelepon ria Entah dengan siapa Aku sudah tidak peduli lagi, aku berniat untuk pindah kos meninggalkan Icha membuang semua kenanganku tentang Tian.


Aku langsung menghubungi Desi, aku menanyakan kamar kosong di kosan di tempat Desi ngekos, dan alhamdulillah di sana ada satu kamar katanya, besok aku berniat akan melihat.


Hampir dua jam kemudian Desi menghubungiku dengan mengirim gambar kamar kosan yang kosong itu, dia menginformasikan jika kamar itu dalam kondisi bersih kalau berniat pindah maka sudah siap untuk ditempati bahkan untuk malam ini sekalipun. setelah menanyakan harga dan fasilitasnya dan aku merasa cocok aku putuskan besok untuk pindah mumpung hari Minggu.

__ADS_1


Next...


__ADS_2