MEMILIH DI CINTAI

MEMILIH DI CINTAI
Melamar 1


__ADS_3

Semenjak double date itu aku semakin dekat dengan mas Prima, dia sama sekali tidak romantis tidak seperti Tian, benar-benar pribadi yang sangat berbeda.


Di mataku Mas prima adalah sosok yang dewasa, pintar, pandai sekali menjaga perasaan dan satu lagi dia sangat humoris.


Dia memaksaku untuk mengenal dengan orang tuaku, akhirnya Aku memberanikan diri untuk telepon bapakku memberitahu jika minggu depan aku akan pulang bersama seorang teman lelaki.


Aku juga bilang kepada bapak jika sebenarnya aku nggak pacaran tapi cowok itu pengen kenal dengan keluarga aku, Dia pengen ngelamar aku, tapi aku ingin mendengar pendapat Bapak Ibu sebelum aku menerima dia, ujarku pada bapak saat aku mau ngabari.


Di seberang telepon aku merasa Bapak senang ketika aku mengabari harus seperti itu apalagi bilang jika aku memang tidak pacaran dengan dia entah kenapa mendengar jawaban-jawaban Bapak aku merasa jika Bapak sangat antusias.


Mungkin karena ini untuk pertama kalinya aku akan mengenalkan seorang lelaki selain Tian selama ini, dan juga aku bilang jika lelaki itu ingin melamar yang selama ini mungkin kata-kata itu bapak nanti kan dari Tian yang tidak pernah kesampean.


Sebagai orang tua Bapak pastilah sangat mengharapkan aku segera menemukan jodohku, karena usiaku sudah tidak muda lagi saat ini sudah 24 tahun.


Mereka terlibat perbincangan yang serius antara Mas prima dan kata sementara cara aku dan ibu sibuk di dapur membuat kudapan.


" Menurut ibu terima orangnya baik Flo, ramah serta perhatian, jika kamu srek ibu merestui", Ujar ibuku.


" Baru kenal bu, nanti jangan kecewa jika tidak sesuai harapan bu", Jawabku


" Tapi feeling ibu dia orang yang tepat untuk mu".


" Entahlah bu, Flo masih harus lebih mengenalnya lagi, jika Flo yakin nanti dalam waktu dekat dia hendak melamarku", Jawabku.


" kamu sudah berdoa dan bertanya pada hatimu sendiri flow?", tanya ibuku.


" Sudah Bu, bahkan sudah hampir 3 bulan ini, tapi ya gitu jawabannya", ucapku malas malas.

__ADS_1


" Apa itu kata hatimu?", tanya ibu kembali.


" Mas Prima bukan Tian, padahal flow cinta banget sama mas Tian, tapi jangankan dalam hati nongol di mimpi aja nggak pernah Bu", jawabku masih malas.


Ibu tersenyum mendengar jawabanku, " cinta bukan berarti jodoh Flo, jodoh tidak harus cinta, tetapi sesuatu yang dipersatukan oleh Tuhan itu menentramkan flo, kamu yakin cintamu menentramkan?", tanya ibuku.


Aku berfikir sejenak tentang pertanyaan ibu, " jujur meskipun aku cinta dengan Tian tapi aku takut untuk berjodoh dengannya Bu".


" Lho... Kamu itu aneh, katanya cinta tapi takut berjodoh dilamar orang lain kamu ragu terus maunya bagaimana dong?", Aku cari buku jengah, pasti mendengar jawabanku semua orang pasti juga bingung katanya cinta tapi nggak mau berjodoh.


" soalnya rasa cemburu ku terlalu besar jika Tian dekat dengan seseorang aku sudah langsung curiga Bu", Jawab jujur.


" Itu berarti tidak menyenangkan, hatimu tidak tenteram jika berada disampingnya, kamu pasti selalu curiga, dan itu akan menyakiti hatimu, apa mau hidupmu akan seperti itu terus, hidup itu harus bahagia Flo, harus tentram, damai, jika kamu cemburuan jika kamu curigaan, tolong ya pas gantian carilah seseorang yang benar-benar bisa membuatmu tentram".


Ucapan ibuku barusan seperti menyadarkanku dari sebuah tidur panjang yang terlena menyanjung kata cinta yang sebenarnya semua tidak nyata.


" Jika Ibu merestui dan Bapak juga setuju maka flow bersedia menjadi istrinya Mas Prima", aku rengkuh ibuku rasanya lega aku seperti habis menjebol dinding yang begitu tebal, air mataku mengalir merasa lepas dari beban yang membelenggu ku.


" Baiklah jika kamu yakin ibu akan bicara sama bapakmu", ibuku mengusap punggung ku lembut, terlihat jelas senyum kelegaan mendengar keputusan ku.


Aku tata 4 cangkir minuman 2 teh panas dan 2 kopi panas di nampan panjang, aku taruh juga kudapan yang baru selesai kami buat, ada pisang goreng serta kacang rebus.


Kubawa ke ruang tamu untuk ku suguhkan kepada Bapak dan Mas Prima.


Melihat dua orang itu berbicara seperti sudah sangat akrab padahal mereka di situ belum ada 1 jam, namun seperti sudah mengenal lama.


" Wah ini nak Prima, makanan favorit bapak ini kacang rebus", Bapak ku tertawa lebar, begitupun dengan mas Prima menyambutnya juga dengan senyuman ucapan bapak.

__ADS_1


" Iya Pak Saya juga suka", Mas Prima menanggapi ucapan bapakku.


" Ayo silakan diminum Mas, ya begini ini keadaan keluarga kami Mas Prima keluarga flower, Abang papa ini cuma kuli jadi ya begini cemilannya tidak ada yang istimewa anak Prima", ujar ibuku.


" iya iya Bu, sama Bu saya juga cuma kuli, hanya membantu orang-orang yang punya duit untuk membangun sesuatu, dan saya hanya pelaksanaannya saja Bu alias kuli", jawab Mas Prima merendah dengan tersenyum manis.


" Mas Prima ini juga pemborong Bu, cuma kelasnya beda sama bapak, jika Bapak beneran kuli kalau Mas Prima ini kontraktor", Bapak mencoba menjelaskan profesi Mas Prima kepada ibuku.


" Syukurlah, mau apa saja yang penting halal Mas, dan barokah", ujar Ibu ku tersenyum pada mas Prima, Mas Prima pun mengangguk menyetujui ucapan ibuku.


" ayo ayo mas diminum, mumpung masih panas, ini kopi buatan anak saya, putri saya ini lho Mas, flower", ujar Bapak benar kopi ini memang buatanku.


" Flo, Bapak ingin dengar jawabanmu, tadi itu mas Prima meminta sama bapak untuk menjadikan kamu pendamping hidupnya, katanya dia itu jatuh cinta sama kamu saat pandangan pertama", ucap bapakku kali ini serius, Bahkan mereka bertiga menatapku dengan tajam nanti jawabanku.


Sontak aku terkejut, tidak menyangka jika Mas Prima akan secepat itu mengutarakan maksudnya pada bapak.


Dadaku bergemuruh, terkejut, terharu, sedikit malu juga sih, Tapi seneng ini pengalaman pertamaku dilamar ar-rahman di hadapan bapakku dengan secara jentel.


" sebetulnya saya dan Mas Prima belum terlalu lama kenal pak, jadi semuanya flow serahkan kepada bapak", ucapku bergetar, antara takut jika jawabanku ini menyakiti Mas prima dan juga takut jika Bapak menolaknya, kasihan Mas Prima.


Memang sih dalam hubungan suami istri seharusnya tidak diawali dengan rasa kasihan, tapi hingga hari ini aku mengajak Mas Prima untuk kenal dengan keluargaku Iya karena aku kasihan melihat perjuangannya mendekatiku, atau mungkin sebenarnya aku cinta tapi aku tidak tahu karena yang aku tahu itu hanya kasihan.


" Begini saja Nak Prima, kok malah diserahkan sama Bapak ya Flo ini, waduuhh...", janda bapakku dengan tertawa, ada gurat kebingungan di wajahnya.


" jika saya terima lamaran nak Prima Apa nak Prima bisa menerima segala kurang lebihnya flower?", tanya Bapak.


Next.....

__ADS_1


__ADS_2