
" Bu, kami sepertinya harus pulang hari ini, Flo dari semalam mengeluh jika perutnya sakit dan pinggangnya panas ", Prima memberitahukanibunya mengenai kondisi istrinya sedari semalam.
" Lha!, apa sudah mau lahiran? Lha katanya masih 2 minggu lagi", Bu Marni tergopoh menyusul Prima yang sudah berjalan kembali menuju kamarnya.
" Ga tahu juga bu, dari semalam dia sudah merintih aja, aku khawatir bu sebaiknya langsung aku bawa ke rumah sakit saja", Jawab Prima seraya memasuki kamarnya disusul ibunya.
" Gimana Flo, apa ada flek atau cairan yang keluar?", Tanya bu Marni mendekati Flo dan mengusap krning sang menantu.
" Barusan ada sedikit flek bu, tapi sedikit sekali", Jawab Flodengan meringis menahan sakit.
" Ya sudah, ibu juga mau bersiap kita antar ke rumah sakit saja langsung, apa kalian sudah menyiapkan perlengkapannya?", Bu Marni kemudian beranjak dari duduknya disebelah Flo.
" Semua sudah kita persiapkan dimobil bu, semenjak seminggu lalu", Jawab Prima yang juga duduk disebelah Flo dan mengusap istrinya itu penuh kasih sayang.
" Baguslah, ibu bersiap dulu", Bu Marni kemudian beranjak meninggalkan kamar putranya tersebut.
" Mas.... Makin sakit", Rintih Flo menatap pada suaminya yang membuat Prima hanya bisa menarik nafas penuh rasa kasihan dan tidak tega yang begitu sangat
" Iya sayang, sabar ya .. Sini mas bantu kita bersiap ke rumah sakit ya", Prima mengusap lembut Flo dan beranjak untuk mengganti baju istrinya.
" Aku tak keair dulumas, mau buang air kecil dan juga gosok gigi", Ucap Flo seraya menurunkan kakinya dari atas tempat tidur.
" Biar mas bantu sayang", Prima dengan sigap menuntun Flo menujukamar mandi dan menyiapkan sikat gigi dengan menaruh odol diatasnya.
" Mas keluar saja, aku masih bisa sendiri", Ucap Flo yang merasa tidak enak hati jika suaminya menunggu dikamar mandi.
" Biar mas tungguin", Prima tetap tak beranjak dari posisinya.
" Mas".
" Jangan sungkan dik, aku ini suami mu, wajar jika mas khawatir dan akan selalu menjagamu, apalagi cuma kayak gini", Prima bukannya pergi mendengar rengekan istrinya malah semakin mendekati istrinya dan membantu menyiapkan handuk untuk mengeringkan mukanya setelah selesai dibasuh.
" Sudah mas", Flo meraih tangan suaminya untuk menontonnya keluar dari kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi Prima menyisir dan merapihkan rambut istrinya kemudian mengikatnya dengan rapi. Flo terkekeh meskipun seluruh tubuhnya terasa lemas karena menahan sakit tapi melihat tangan suaminya yang cekatan merapikan rambutnya dia tidak tahan untuk tidak tertawa.
" Suamiku ternyata serba bisa, bukan hanya mengaduk semen ternyata mengikatkan rambutku pun juga terampil".
" Dulu mantan gondrong ya Mas?", Flo terkekeh kembali.
" Dulu sering menyisir rambutnya Sari", jawab Prima apa adanya.
" Owh, kirain!".
__ADS_1
" Kirain apa, Hemmm???", Prima mengecup kening Flo setelah selesai mengikat rambutnya.
" Dulu sering menyisir rambut bunga desa".
" Nggak ada gadis dikampung ini yang mau sama Mas dek, mas ini dulu dekil tidak dibully saja sudah berterima kasih, sadar sih masih kurang cakep".
" Emang sekarang merasa cakep mas?", goda Flo pada suaminya
" Tidak juga, tapi sekarang mas sudah punya kamu dek".
" Itu karena mas baik, koplak master di itu untuk aku dan anak-anak kita nanti mas".
" Pasti sayang, Ayo ibu sudah siap sepertinya", Prima menuntun sang istri dengan pelan berjalan menuju mobil.
" Heri kamu yang bawa mobilnya ya, ibu biar didepan biar mas yang jaga mbak mu", Prima memberikan kunci mobilnya pada adik bungsunya itu.
" Ibu di depan ya", Ujar Prima ketika ibunya mendekat kearah mobil.
" Oh ya, Hati hati jika kontraksi kamu usap punggang isttimu mas".
" Baik bu".
" Agak cepat ya Her, kasihan mbak mu ga nyaman duduk dimobil dalam kondisi begini".
" Mbak Sari titip rumah kamu mau kerumah sakit mengantar mvak Flo sepertinya mau lahiran", Hery memberikan kunci rumah pada kakaknya.
" Iya, semoga lancar, aku nanti nyusul naik motor sama suamiku jika sudah pulang kerja, di rumah sakit Husada kan?".
" Iya ", Jawab Ptima dari dalam mobil.
" Assalamualaikum kita berangkat dulu Sari jaga rumah baik-baik", ujar bu Marni ketika Heri sudah menyalakan mesin mobilnya.
" Waalaikum salam".
Setelah di perjalanan kurang lebih 40 menit mobil pun kemudian memasuki area parkir rumah sakit Husada.
" Mas tambah sakit".
" Iya , sabar ya, sudah sampai kita", Prima kemudian membantu flower untuk turun dari mobil dengan sangat hati-hati.
" Mas gendong saja ya?", tanya Prima tidak tega melihat istrinya yang sudah nampak lemah dan kesakitan.
" Bismillah ... masih kuat jalan mas tapi pegangin", jawab flow yang memilih untuk berjalan saja daripada digendong sang suami.
__ADS_1
Bu Marni pun kemudian mendekat dan ikut menonton flow dari sebelah kanannya.
" Nanti bilang sama dokternya Mas ibu pengen menjaga dia di dalam juga", ujar Bu Marni yang ingin sekali ikut mendampingi flu saat melahirkan.
" Baik bu".
Melihat pasien yang datang dengan perut membesar dan dalam kondisi lemah dan kesakitan beberapa perawat langsung menyongsongnya dengan membawa kursi roda.
" Mari bu kami bantu", ucap salah seorang suster kemudian mendorong dengan cepat menuju ruang pemeriksaan.
" Bapak silakan urus dulu administrasinya kemudian setelah itu baru susul istri bapak di ruang perawatan", ucap salah seorang suster.
" Baik sus", Prima menuju ruangan pendaftaran pasien.
" Sus, Saya mau ikut mendampingi anak saya susah", ujar Bu Marni boro-boro tidak ingin kehilangan momen mendampingin flow melahirkan.
" Baik bu dampingi Putri Ibu di ruang pemeriksaan dulu ya Bu", jawab suster.
" Dok, pasien masuk di ruang pemeriksaan dokter segera ditangani", seri suster pada dokter jaga.
" Baik saya menuju ke sana secepatnya silahkan persiapkan", jawab dokter yang diajak bicara oleh suster tersebut.
" Huhhhffff.... Ibu maafkan aku ya Bu, maafkan semua kesalahan Mas Prima juga", rintih Flo yang merasa sakit nya kian hebat.
" Hee ... tidak ada yang harus dimaafkan tidak ada yang salah sabar... ini hanya proses semoga nanti segera lahir dengan lancar ya", Bu Marni mengusap-usap halus perut saya akan mengajak bicara sang bayi yang berada di dalam.
" Iya Bu, doain Flo Bu", Rintih Flo seraya mengusap punggung tangan Ibu mertuanya itu serta menatap dengan tatapan sendu menahan sakit.
" Tarik nafas yang dalam ya Bu kita mau periksa dulu", ucap salah seorang suster yang masuk ke ruangan pemeriksaan bersama dokter serta 1 orang suster lainnya.
" Detak jantungnya bagus ya, kita lihat dulu sudah pembukaan berapa, sudah dari jam berapa ke rasanya Bu?", tanya Dokter.
" Dari tadi jam 2.30 malam Dok".
" Sudah pembukaan 8 ternyata sebentar lagi ya Bu kita siap-siap, sus langsung bawa aja ke ruang tindakan ya", pacar dokter ketika selesai memeriksa kondisi flow.
-
-
Next.....
Baca juga karya baru ku ya😘
__ADS_1