
Setelah mendengar dengan seksama semua keterangan dokter akhirnya Prima memutuskan untuk flo menjalani operasi.
Dan kini Flo tengah bersiap dibawa ke meja operasi. Perasaan Prima seperti tak bersemangat, lemas dan gemetaran merasa kekhawatiran yang teramat dalam.
" Yang kuat ya yank .. mas disini nungguin kamu, sabar ya", Prima tiada henti menciumi sang istri yang air mata yang terus berderai.
Flo hanya mengangguk dan mengelus tangan suaminya.
" Titip dede ya mas ", Flo berkaca kaca hatinya juga risau takut ada apa apa dengan operasinya.
" jangan bilang gitu doang semuanya akan baik-baik saja, harus yakin dan percaya ya", Prima menguatkan flo meskipun di hatinya yang paling dalam sebenarnya dia juga sangat sangat khawatir.
Operasi itu berjalan hingga hampir 4 jam lamanya, dengan dipasang dua pen di kaki flower.
Prima dan seluruh keluarga menunggu dengan harap-harap cemas tak lupa doa-doa terbaik dipanjatkan untuk kelancaran operasi flower.
Hingga 4 jam kemudian seorang perawat keluar dari ruang operasi dan memberikan kabar jika semuanya berjalan lancar.
" Keluarga ibu Flower", Seru Susterketika keluar dari ruang operasi.
" Iya saya suaminya sus", Prima dengan cepat berdiri dan mendekat kearah suster.
" Alhamdulillah operasinya berjalan lancar ya pak, dan saat ini bu Flo sedang berada di ruang pemulihan, tunggu sebentar lagi akan kami antar ke ruang inapnya", Ujar Suster tersebut.
" Alhamdulillah ya Alloh... Baik sus, kami akan tunggu di kamar inapnya, terima kasih",Prima membungkuk pada suster sebagai ucapan terima kasihnya.
Dan kini seluruh keluarga yang menunggu Flower menuju ruang inapnya.
Tak butuh waktu lama kini Flo sudah diantar dua suster kedalam ruang inapnya.
" Terima kasih sus", Prima dan bu Marni berucap secara bersamaan setelah suster merapikan tempat tidur Flower dan pamit dari ruangan tersebut.
__ADS_1
" Pusing!", Desah Flo dengan mata yang masih terpejam rapat.
Refleks Prima langsung mengulurkan tangannya dan memijit pelipisnya flower dengan hati-hati.
" Maaf ya mas, bu... Flo masih pusing jadi aku merem ya", Bisiknya lirih namun terdengar oleh bu Marni dan Prima dengan jelas.
" Iya nak, kamu harus istirahan dulu, efek obat biusnya pasti masih kuat, ibu tidak apa apa, tidurlah", Ucap bu Marni, tahu jika menantunya ini merasa tidak enak karena Flo merasa sudah merepotkan ibu mertua yang sudah sepuh.
" Ibu, Flo sudah baikan, jika ibu mau istirahat dan pulang biar aku hubungi Heri sekarang ya bu", Ujar Prima.
" Nanti saja, jika sudah berkurang rasa pusing nya itu baru pulang, anakmu Di rumah sudah ada yang menjaga", ujar bu Marni dan memang bayinya flo di rumah Kini sedang dijaga oleh Desi.
" Ya sudah Ibu istirahat saja di sofa panjang itu Bu, luruskan kaki ibu biar nyaman", Ujar Prima.
" Ya ", Bu Marni pun beranjak menuju sofa dan menuruti perkataan Prima, memang benar jika kini dirinya memang merasa sangat lelah dan sedikit mengantuk.
" Atau mau aku carikan makan dulu ya Bu?", tanya prima yang memang di ruangan itu belum ada makanan apa pun.
" Baik bu".
" Sayang.... Kamu menginginkan sesuatu?", Tanya Prima pada FLO dengan pelan dan lembut.
" Sudah tidak usah ditanya, orang baru paska operasi mana selera makan, yang penting kamu beli persediaan saja, jika nanti sudah berkurang pusingnya baru ditanya mau apa, baru dicarikan biar masih hangat", ujarku Marni masyarakat untuk Prima segera pergi mencari minuman untuknya.
" ibu mau apa?", tanya Prima sebelum keluar dari ruangan tersebut.
" Beli air putih mineral, roti roti, camilan, berapa macam buah, dan makanannya terserah kamu itu mah mau apa aja jangan lupa bawakan Ibu kopi panas nanti terakhir sebelum naik ke sini", ujar pemerintah yang memang merasa kepalanya sedikit pening sehingga beliau menginginkan secangkir kopi panas untuk meredakan gejala sakit kepalanya tersebut.
" Ibu ngopi?", tanya Prima heran karena selama ini tidak pernah mendapati ibunya tengah menikmati kopi di rumahnya.
" Kadang-kadang jika pingin namun itu hanya kopi di rumah buatan ibu sendiri kopi dari kebun", Bu Marni terkekeh kecil, wajar jika sang putra menanyakan tentang kegemarannya meminum kopi, Ya karena memang itu jarang sekali beliau lakukan karena sejatinya Bu Marni bukan penggemar berat hanya sesekali saja dia mau minum kopi.
__ADS_1
" Baiklah bu semoga Saya tidak lupa nanti saya bawakan kopinya, titip istriku ya Bu", Prima pamit sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
" Ya hati-hati, Assalamualaikum".
" Ya Bu, Waalaikum salam".
Prima melangkahkan kakinya menuju minimarket yang berada tak jauh dari rumah sakit tersebut, setelah mengambil beberapa barang yang sekiranya dibutuhkan kemudian membayarnya dan kembali lagi ke rumah sakit.
Namun sebelum itu tak lupa Prima juga memesan dua kab kopi late panas untuk dia dan juga pesanan ibunya.
" Assalamualaikum Bu ", terima kini sudah berada di kamar inap flow.
" Waalaikumsalam, cepet bener kamu Prim?", Bu Marni terheran-heran karena Prima pergi belanja tidak sampai memakan waktu setengah jam.
" Iya Bu memang aku cepetin rasanya nggak tega ninggalin istriku lama-lama dalam kondisi seperti ini", jawab Prima seraya menaruh belanjaannya diatas nakas dan tidak lupa ia juga memberikan kopi panas pesanan ibunya.
" kopi latte saja ya Bu untuk anget-anget ini", Bu Marni menerima kopi yang dibelikan Prima dengan mengangguk Iya saja dengan apa yang dibelikan Prima.
" Apa saja, Ibu ini jarang sekali minum kopi hanya butuh minum panas kepala ibu sedikit pening", ujar Bu Marni membuka kap dan menyeruput dengan pelan kopi tersebut.
" Ibu tiduran saja di sofa Ibu kecapean, tadi Prim belikan makanan yang di teras minimarket itu Bu, ada nasi fried chicken, ada juga kebab Bu, coba in bu kebab nya enak, Prima belikan nasi rames juga lho Bu", Prima sekalian ke minimarket Adi Prima memang membelikan makanan yang berada di samping minimarket tersebut.
" Nasi rames nya sama apa Mas?", tanya Bu Bu Marni nasi rames yang dibelikan Prima.
" Sama tumis kacang panjang Bu dan ikan goreng, Ibu mau aku siapkan ya?", Prima beranjak menuju ke belanjaan barusan.
" Coba Mas Ibu tak makan barangkali pusingnya bisa hilang, siapa tahu itu karena lapar kepalanya bisa pusing begini", Bu Marni pun bangun dari selonjoran nya di sofa dan menerima nasi bungkus yang sudah Prima bukan dan disiapkan di atas piring yang disediakan oleh rumah sakit.
Bu Marni pun akhirnya makan begitu pun dengan Prima mereka duduk di sofa dan makan berdua sementara itu Flo masih berbaring belum sepenuhnya kesadarannya pulih.
Bersambung.....
__ADS_1